Source
seen from Belgium
seen from Hungary
seen from United Arab Emirates
seen from China
seen from United States

seen from Netherlands

seen from India

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Brazil
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Poland

seen from United States

seen from Venezuela
seen from United States
seen from United States

seen from Mexico

seen from Venezuela

seen from Malaysia
Source
Arisan Puisi KPJJ : MARSINAH
Marsinah
Waktu menderu membasuh peluh kepalan tangan melanting menuju tampuk, suara asa terbayar surga
@tetappadi2017 17.00 - 22.50
Apa yang lebih membosankan dari menonton aparatur bermain catur? Di papan itu bidak serupa budak tanpa benteng, kuda, atau raja Marsinah tahu benar papan di meja ini tak akan cepat terlipat Ditekan lapar dan kerlingan jam malam pada kuduk yang mengintai Seketika Ia gebrak meja, menggeser takdir memberi akhir Pada 17 lebih 73 Marsinah dipulangkan karena mengganggu permainan
@karmaaksara Sidoarjo 1993
di jenggala berkubang seorang perempuan disembunyikan serangga tak menggerogoti semangatnya sunyi tak menyepikan teriaknya
Jein, 2017 @jeinoktaviany
Letupan Marsinah
Sebutir peluru pun tau Tubuh siapa yang ia serbu Tepat di liang malu Ooh...Marsinah, sungguh tiada pernah kesia-siaan kau letupkan Meski harus bersarang di tubuhmu sendiri
@rainharain
Ruam
Meski ruam menggradasi lekuk tubuhnya Tak lantas melukis pilu pada koleganya Bara masihlah panas Meski cerah belum merekah Pantang jika suara tidak lantang
Ciparay, 1 Mei 2017 @lantangnirwana
Perempuan Itu anak-anak bermain lego dan slime remaja jajakan diri di bigo juga line dan buruh-buruh hilir mudik megantuk di angkutan umum mengalungkan waktu yang telungkup setiba di tempat bekerja; mereka kenakan wajah perempuan itu, yang kehabisan waktu tetapi tidak usianya. di surga sana ia: menepuk-nepuk dahinya.
Klender, 1 Mei 2017 @kiasansaja
LESAP
pada tiap teriakan-teriakannya kami mencari di mana bibir itu meminta tolong sedewasa aku sekarang.
Mei, 2017 @menatapmu Darah Juang
__berontak dari jajah dalam kelucutan hak menentang tanpa pedang, demi makmur sekawan derita para cukong bergidik, sampailah ia membiru dipaksa bias dari kabar berita tapi ialah nyawa, pejuang rakyat!
Mei, 2017 Khodyani Achmad
Telah Pamit Kartini Keduaku!
Gelap tirani sambahi kancah industri, Satu lagi gugur jiwa buruh melayang tak pasti, Terombang-ambing kepalsuan jerit hati media; hingga kini, Dibungkam dengan sadis; dipaksa mati!
Pergi! Marsinah pamit; hadiahkan haru pada kami! Lara, rintih, cacimaki kau hadapi lantang sendiri, Jerit tangis dari mulutmu terisolasi! Ter-marjinal-kan hinggq maut menyambutmu abadi! Dan duniapun kerap seolah pura lupa, Dengan polos menanyakan keadilan dimana-mana, Pincangkah hukum negeri kita? Garuda bergemalah!; Teriakkan kebenaran kata! Tuhan datanglah!; Sambarkan cahyamu kepadanya! Istirahatkanlah pelita Negeri kita, Dalam pelukmu; Yang tak pernah hadirkan duka!
08 Mei 2017 Memperingati Hari Kepergian Marsinah "Kartini Keduaku".
-RintikHujan a.k.a Eka Prawira
/1/ Marsinah buruh pabrik arloji, mengurus presisi: merakit jarum, sekrup, dan roda gigi; waktu memang tak pernah kompromi, ia sangat cermat dan pasti.
Marsinah itu arloji sejati, tak lelah berdetak memintal kefanaan yang abadi: “kami ini tak banyak kehendak, sekedar hidup layak, sebutir nasi.”
/2/ Marsinah, kita tahu, tak bersenjata, ia hanya suka merebus kata sampai mendidih, lalu meluap ke mana-mana. “Ia suka berpikir,” kata Siapa, “itu sangat berbahaya.”
Marsinah tak ingin menyulut api, ia hanya memutar jarum arloji agar sesuai dengan matahari. “Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa, “dan harus dikembalikan ke asalnya, debu.”
/3/ Di hari baik bulan baik, Marsinah dijemput di rumah tumpangan untuk suatu perhelatan. Ia diantar ke rumah Siapa, ia disekap di ruang pengap, ia diikat ke kursi; mereka kira waktu bisa disumpal agar lenkingan detiknya tidak kedengaran lagi.
Ia tidak diberi air, ia tidak diberi nasi; detik pun gerah berloncatan ke sana ke mari.
Dalam perhelatan itu, kepalanya ditetak, selangkangnya diacak-acak, dan tubuhnya dibirulebamkan dengan besi batangan.
Detik pun tergeletak Marsinah pun abadi.
/4/ Di hari baik bulan baik, tangis tak pantas. Angin dan debu jalan, klakson dan asap knalpot, mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk. Semak-semak yang tak terurus dan tak pernah ambil peduli, meregang waktu bersaksi:
Marsinah diseret dan dicampakkan — sempurna, sendiri.
Pangeran, apakah sebenarnya inti kekejaman? Apakah sebenarnya sumber keserakahan? Apakah sebenarnya azas kekuasaan? Dan apakah ebenarnya hakikat kemanusiaan, Pangeran?
Apakah ini? Apakah itu? Duh Gusti, apakah pula makna pertanyaan?
/5/ “Saya ini Marsinah, buruh pabrik arloji. Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir ke dunia lagi; jangan saya dikirim ke neraka itu lagi.”
(Malaikat tak suka banyak berkata, ia sudah paham maksudnya.)
apa sebaiknya menggelinding saja bagai bola sodok, bagai roda pedati?”
(Malaikat tak suka banyak berkata, ia biarkan gerbang terbuka.)
“Saya ini Marsinah, saya tak mengenal wanita berotot, yang mengepalkan tangan, yang tampangnya garang di poster-poster itu; saya tidak pernah jadi perhatian dalam upacara, dan tidak tahu harga sebuah lencana.”
(Malaikat tak suka banyak berkata, tapi lihat, ia seperti terluka.)
/6/ Marsinah itu arloji sejati, melingkar di pergelangan tangan kita ini; dirabanya denyut nadi kita, dan diingatkannya agar belajar memahami hakikat presisi.
Kita tatap wajahnya setiap hari pergi dan pulang kerja, kita rasakan detak-detiknya di setiap getaran kata.
Marsinah itu arloji sejati, melingkar di pergelangan tangan kita ini.
Sapardi Djoko Damono - Dongeng Marsinah
• "Mereka bermain diantara angka-angka. Mereka tidak pernah mempertimbangkan apakah sejumlah angka mampu memanusiakan seorang buruh." -Marsinah Menggugat • Aku pikir tiap pekerjaan adalah sama tingkatnya. Yang membedakan hanya bidang, dan tiap bidang bukan hanya saling melengkapi, tapi saling membutuhkan.. dan seharusnya saling menguntungkan, bukan membuat buntung yang dianggap lebih rendah, yang dianggap "lebih butuh" pekerjaan. • Kita setara. Hormati semua sama rata. Jangan ada yang merasa jadi raja, dan yang lainnya nyaman menghamba. Seperti Marsinah, Marsinah berjuang karena terjadi ketimpangan, Marsinah berjuang karena tidak bermental budak. • Mari suarakan pendapatmu dalam mengenang Marsinah, pahlawan buruh yang terbunuh pada 1993, tapi tidak pernah mati. • Repost : @ivana_kurniawati #marsinah #menolaklupa
Presiden Prabowo: Buruh, Petani, dan Nelayan Adalah Anak Bangsa yang Harus Dilindungi
NGANJUK, PUNGGAWANEWS – Presiden Prabowo Subianto berdiri di hadapan kamar sederhana milik Marsinah di Desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur. Ia melihat langsung sisa-sisa kehidupan seorang buruh perempuan yang tewas dibunuh karena berani bersuara. Wajahnya tampak prihatin. Lalu ia berbicara — dan kata-katanya tajam. Sabtu pagi, 16 Mei 2026 Prabowo menegaskan bahwa tragedi yang menimpa Marsinah…
Marsinah: Menolak Bungkam, Abadi sebagai Pahlawan Nasional
Nama Marsinah bukan sekadar catatan kaki dalam sejarah perburuhan Indonesia. Ia adalah simbol keberanian yang melintasi zaman. Lahir di Nganjuk pada 10 April 1969, Marsinah menghabiskan hidupnya sebagai garda terdepan bagi hak-hak pekerja, hingga akhirnya ia gugur secara tragis pada Mei 1993.
Setelah tiga dekade lebih perjuangannya membeku dalam ingatan kolektif bangsa, sebuah titik balik bersejarah terjadi. Pada 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah. Penghargaan ini menjadi pengakuan tertinggi negara atas dedikasi seorang buruh perempuan yang berani melawan penindasan demi keadilan sosial.
Jejak Kecil dari Desa Nglundo
Tumbuh di Desa Nglundo, Nganjuk, Marsinah ditempa oleh realitas hidup yang keras. Lahir dari pasangan Mastin dan Sumini, ia memahami makna kerja keras sejak dini. Karena keterbatasan biaya, pendidikan formalnya terhenti di bangku SMA, namun kecerdasannya melampaui ijazah yang ia miliki.
Sambil membantu nenek dan bibinya berdagang makanan, Marsinah mengamati ketimpangan sosial di sekitarnya. Pengalaman masa muda inilah yang menyemai benih empati dan semangat juang di dalam dirinya. Bagi Marsinah, bekerja bukan sekadar bertahan hidup, melainkan tentang menjaga martabat.
Perlawanan di PT Catur Putra Surya
Langkah kakinya membawa Marsinah ke PT Catur Putra Surya (CPS) di Porong, Sidoarjo. Di pabrik jam tangan ini, ia tidak hanya menjadi operator mesin, tetapi juga menjadi "suara" bagi rekan-rekannya yang terbungkam.
Puncak pergolakan terjadi pada awal Mei 1993. Saat itu, perusahaan mengabaikan instruksi Gubernur Jawa Timur terkait kenaikan upah. Marsinah tidak tinggal diam. Ia mengorganisir aksi mogok kerja pada 3–4 Mei 1993 dengan 12 tuntutan utama, termasuk:
Kenaikan upah layak sesuai ketentuan.
Hak cuti hamil bagi buruh perempuan.
Kebebasan berserikat tanpa intimidasi.
Keberaniannya membawanya berhadapan langsung dengan otoritas keamanan (Kodim 0816 Sidoarjo). Meski berada di bawah tekanan hebat, Marsinah tetap tegak. Ia adalah tipe pejuang yang tidak akan membiarkan rekannya berjalan sendirian di tengah badai.
Tragedi yang Mengguncang Kemanusiaan
Nahas, keberanian itu harus dibayar mahal. Pada 5 Mei 1993, Marsinah menghilang tanpa jejak. Tiga hari kemudian, tepat pada 8 Mei 1993, tubuhnya ditemukan tak bernyawa di sebuah hutan di wilayah Wilangan, Nganjuk.
Kematiannya sangat memilukan. Hasil otopsi menunjukkan tanda-tanda kekerasan fisik yang sangat berat. Tragedi ini segera memicu gelombang kemarahan publik dan menjadi sorotan internasional terkait pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Marsinah gugur, namun semangatnya justru membakar nyali para aktivis lainnya untuk terus menuntut keadilan.
Sang Pahlawan Nasional Pertama Pasca-Kemerdekaan
Penobatan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2025 membawa pesan kuat. Ia tercatat sebagai tokoh pertama kelahiran pasca-kemerdekaan yang menerima gelar tersebut. Ini membuktikan bahwa pahlawan tidak hanya mereka yang mengangkat senjata di medan perang, tetapi juga mereka yang mengangkat derajat kemanusiaan di lantai pabrik.
Kini, makamnya di Nganjuk tidak hanya menjadi tempat peristirahatan, tetapi menjadi simbol bagi setiap orang yang percaya bahwa keadilan harus diperjuangkan, setinggi apa pun risikonya. Catatan: Perjuangan Marsinah mengingatkan kita bahwa hak-hak yang kita nikmati saat ini sering kali dibayar dengan air mata dan nyawa para pendahulu kita. sumber :
beritanda.com/profil-marsinah-pahlawan-nasional-buruh-perempuan-indonesia/
stiestekom.ac.id/berita/marsinah-pejuang-buruh-yang-resmi-diangkat-sebagai-pahlawan-nasional/2025-11-11
Paradoks Koalisi Simbolik dan Pemutihan Sejarah Marsinah
SURAU.CO – SKEMA (Sketsa Masyarakat): Sepuluh nama lagi ditabalkan Pemerintah Indonesia sebagai pahlawan nasional terbaru tahun ini. Salah satunya Marsinah. Perempuan pemberani yang dibunuh secara brutal pada 1993. Seorang buruh dengan kritik menggemuruh. Usianya baru 24 tahun ketika raga dipaksa melepas nyawa di sebuah gubuk tepi sawah. Elemen masyarakat sipil penegak HAM mengganjar Marsinah…
10 Pahlawan Nasional 2025: Mengukir Jejak, Menerangi Jalan Bangsa
SURAU.CO. Setiap tanggal 10 November, Indonesia mengenang jasa para pahlawan. Upacara dan doa mengiringi peringatan ini, namun, esensi kepahlawanan sendiri melampaui seremoni tahunan. Ia bersemayam dalam sanubari, memandu nurani. Semangat kepahlawanan terus menyala di setiap generasi. Dan tahun 2025 ini menjadi babak baru. Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional.…