Sungguh, aku bukanlah lelaki yang cukup pantas. Bila kamu ingin sosok yang di daftar kesibukannya hanya ada namamu. Tidak. Aku angkat tangan untuk itu. Aku terlalu sibuk memeras keringat. Terlalu sibuk menikmati penat. Demi tempat dimana aku bertanggung jawab. Jangan tuntut aku berdiri penuh. Dari angka dua belas ke angka dua belas. Dan ke angka dua belas selanjutnya. Meski kamu menyebutnya sebagai candaan ringan, namun aku merasa tertantang. Aku juga suka bercanda, Nona. Suka. Pun suka mereka-reka kekonyolan dunia. Namun bukan berarti, aku terlena. Pada beberapa hal yang kamu ungkap dengan canda. Jangan minta aku memberi hadiah. Memberi beberapa tangkai bunga. Atau boneka. Jangan. Aku memberi. Saat aku ingin berkasih. Bukan untuk memelas kasih. Aku memberi pada saat-saat yang mungkin kamu tidak tahu pasti. Terima saja. Atau singkirkan saja. Aku berusaha tak akan menanyakannya. Jangan tanya apa yang aku punya. Atau berharap pada yang aku punya. Aku tidak punya apa-apa, Nona. Tidak ada. Masih seperti saat aku lahir ke dunia. Telanjang dan hampa. Aku bukanlah sosok pencinta dengan citra. Aku hanyalah pecinta tanpa apa-apa. Hanya cinta. Itu saja. Terlalu sederhana. Namun indah bila kamu menikmatinya. Kita menikmatinya. Masihkah kamu mau di situ? Di sisi sebuah pintu. Menanti aku pulang dengan lesu. Atau kamu memilih ragu. Seterusnya ragu. Sampai ujung waktu.