Manja, Cengeng, Sakit-Sakitan
Hallo selamat datang di laman yang lima hari kedepan akan terisi penuh dengan cerita-cerita masa lalu dari seorang Hennika Arumsari :p
Oia, gimana puasa hari pertamanya? Lancar-lancar kan? Baiklah kalau begitu, Markimu, mari kita mulai!
Sebelum adzan subuh di kabupaten Bogor, tanggal 9 Agustus 1997, setahun sebelum negara porak-poranda dan harga sembako melambungkan tinggi, seorang anak manja hadir ke muka bumi. Bapaknya tidak ahli kasih nama, akhirnya minta masukan dari pamannya (adek dari kakeknya bayi yang baru lahir itu). Katanya begini "Arumsari, pokoknya nama belakangnya itu. Di terawanganku tiba-tiba muncul nama itu. Nama depannya terserah kamu", maklum bapaknya keturunan asli Banyuwangi, Jawa Timur, jadi terawang-terawangan sudah menjadi hal yang biasa. Bapaknya mencoba untuk kreatif, dikasih nama depan Hennika, gabungan namanya sendiri sama sang istri, Hennang dan Ikah. Jadi kawan, kalau sekarang kalian tanya apa arti namanya ya cuma itu yang bisa dia jelasin. Eh tapi jangan ceng-cengin nama bapak kayak zaman SD dulu ya, please jangan, hahahaha!
Ya namanya anak kecil ya sudah hampir lupa dulu hidupnya gimana. Cuma ada foto-foto umur 1-4 tahun di album sama cerita-cerita tambahan dari umi (panggilan dia buat manggil ibunya). All of it, Hennika Arumsari yang di masa kecilnya dipanggil "Arum" tumbuh jadi anak yang sangat manja, cengeng, sakit-sakitan (?). Oia sekilas info, nyebut lagi nama Arum tuh keinget masa TK, ada temen yang tiba-tiba curhat ke orang tuanya "Mah, aku punya temen, tapi namanya aneh. Masa katanya namanya ADEMSARI". Baiklah kita skip dulu bagian itu. Let's break one by one.
Si Arum ini manja banget. Gimana engga, dia tuh susah banget buat kenalan sama temen baru. Setiap diajak bertamu ke rumah rekan orang tuanya pasti nolak kalau diajak main sama anak kecil yang seumuran, satu jam kemudian minta pulang. Gak tau ini ujian atau berkah buat orang tuanya. Tapi katanya emang itu jurus biar gak lama-lama bertamu, jadi pas izin pulang bilang ke tuan rumah "anaknya udah minta pulang" wkwkwk dasar orang dewasa, penuh drama.
Kemanjaan ini sangat berimbas sama sifat cengeng. Dikit-dikit nangis. Coba bayangkan ya, coba. Setiap tidur siang harus ditemenin uminya. Kalau dia bangun tidur gak ada uminya di samping, jerit-jerit deh manggil yang dicari. Sampe pernah dulu waktu satu keluarga besar jalan-jalan ke Bali (sayangnya ke Bali di waktu belum kenal instagram, coba sekarang udah penuh deh feeds IG :p), dua sodara sepupu seumuran seneng banget lari-lari jungkir balik di Tanah Lot. Hujan-hujanan teriak-teriak sana sini, Arum? Nangis teriak-teriak kesel gara-gara ditinggal. Dia gak bisa lari kenceng. Dikit-dikit jatoh. Sungguh lemah :( Udah manja, cengeng, penakut. Mau jadi apa Anda Hennika Arumsari?
Belum berakhir di situ, saking penakutnya, Arum gak pernah mau main sama temen yang temennya gak ngajak duluan. Gila gak tuh? Baginya temen adalah siapapun yang "Mau nyamper dan ngajak main duluan". Sampai-sampai beberapa hari yang lalu uminya bilang gini "Teh Teh, untung udah gede mah temennya banyak yah. Kepikiran dulu waktu kecil Teteh suka bilang 'Mi, Mi, itu temen teteh' saking temenan pengennya diajak duluan". Ya walaupun gak kebawa 100% tapi emang sikap ini ada efeknya sampe hari ini hahhaha. Selektif banget nyari "temen" (Dengan arti kenal banyak orang itu udah keharusan karena hidup di zaman ini gak bisa nutup relasi, tapi untuk punya 'temen' yang deket dan nyaman sama diri tu, pasti kena seleksi alam hahaha mohon maaf anaknya sudah terlalu sering di kecewain, jadi lebih baik lebih selektif :').
Pernah juga waktu itu, Arum sore-sore pulang kerumah nangis ketakutan. Jadi waktu dia main sama temen-temen rumahnya, ada satu anak yang tiba-tiba jatoh dan nangis. Lapor ke orang tuanya dia didorong Arum, padahal cuma gak sengaja tersenggol. Makin ciut lah nyari seorang Arum buat nyari temen duluan hahaha. Parahnya lagi, masih anak tetangga rumah, adik kakak perempuan. Tapi sumpah ya julidnya tiada dua. Pilih-pilih temen dengan alasan yang "gak bisa dimengerti". Kalau anak-anak sekarang nyebutnya anak-anak sok jagoan. Tiba-tiba suatu hari semua anak jauhin Arum ini. Mereka dibawah pengaruh dua anak adik kakak sok jagoan. Arum nangis lagi, dan tambahlah traumanya. Intinya, masa-masa awal sekolah dasar jadi masa yang paling tidak bisa dibanggakan. Naik sepeda roda dua pun gagal terus. Jatoh sekali, dan gak mau coba lagi. Maklum, penakut (eh tapi saya buat pembelaan dikit, anak kelas 2 SD dibelikan sepeda oleh bapaknya ukuran sepeda orang dewasa, tau sepeda ontel united king yang kayak sepeda-sepeda penjual bunga? Nah itu, roda besar, dan kaki si anak yang belum nyampe ke tanah. Jadi bukan salah saya juga ya waktu itu, badan ini terlampau mungil).
Masuk ke bagian ketiga, sakit-sakitan. Uminya bilang kalau sampe sekarang punya badan rentan penyakit memang efek dari masa kecil. Dulu sebelum negara api menyerang (kelamaan dong bos), dulu sebelum Arum punya ingatan kuat, rumah tempat tinggalnya berpindah-pindah. Mengikuti kerjaan bapaknya. Tak jarang juga mereka keluarga kecil itu tinggal di mes/kontrakan yang sudah disewakan oleh kantor. FYI, bapaknya bekerja di sebuah perusahaan besar peternakan ayam. Jadi, kontrakan yang saat itu ditempati tak pernah jauh dari debu persak (serpihan serutan tukang kayu) yang dibawa ber-truk-truk lewat depan rumah. Ditambah kondisi panas (maklum waktu itu belum kenal AC yang bisa di pasang di rumah, belum kebeli juga), jadilah kipas angin sang pelipur lara. 24 jam tak pernah lepas angin. Diperparah dengan kebiasaan buruk setiap kali mudik ke Banyuwangi, sengaja orang tuanya membelikan ciki-ciki berkemasan jumbo, alasannya "biar anteng di perjalanan".
Alhasil menuju tahun ke 3 pernah hidup di bumi, terserang sakit batuk tak berkesudahan. Setiap bulan bolak-balik dokter anak (namanya Dokter Weni, Arum seneng banget karena nama dokternya mirip nama depannya "Henni", sejak saat itu juga Arum memilih dokter sebagai cita-citanya, yang dimasa remaja dia sengaja patahkan demi pindah haluan). Hampir terkena TB Paru, dengan hasil rogten paru-paru tertutup kabut. Anak umur 3 tahun terpaksa minum obat merah. Setengah atau satu tahun ya? Maaf lupa. Jadi kalau ada yang masih penasaran, Hen koq badannya gak gemuk-gemuk? Makan dong yang banyak! Hen cacingan ya? Oke kawan, itulah asal-usulnya. Dan kebanyakan anak yang punya rekam jejak penyakit serupa memang cukup sulit dalam penggemukan badan (eh tapi gak tau deh nanti kalau udah ada yang selalu ngingetin 'makan yang'). Ya mau tidak mau memang semuanya pasti memiliki efek. Ntah baik ntah buruk. Memang sengaja dibuka cerita tema ini dengan segala bentuk ketidakpositifan diri. Biar esok punya lahan ceritakan bagaimana si anak manja itu berubah 180° menjadi manusia sok dewasa yang selalu lebih nyaman untuk nangis sendirian di bawah bantal atau dipojok kamar. Menjadi dewasa itu menyebalkan, Rum. Kamu sih dulu do'a nya keliru.
Masa kanak-kanak itu penuh kejutan. Terlalu tak manusiawi bila kita bandingkan tiga masa secara berlebihan. Anak-anak, remaja, dewasa. Semua punya tantangan dan ceritanya masing-masing. Tapi tetap saja lebih nyaman menjadi anak-anak. Masa dimana masalah paling sulit adalah PR matematika, mainan terhebat adalah main rumah-rumahan, robot-robotan, masak-masakan, dan sejenisnya. Penuh imajinasi, tak takut dalam mencoba. Rasa ingin tahu jadi nahkodanya, keberanian jadi kapalnya.
Besok ku ceritakan yang seru-seru ya! Biar tau alasanku sekarang suka sekali novel dan cerita fiksi hahahha see you!
@sekotenggg @mathmythic @adhit21 @gugunm @fadhila-trifani