everyone is running their own race in their own time.
Thus, what’s meant for you always arrives right on time.
hello vonnie
RMH
Mike Driver

Love Begins

pixel skylines

Andulka

@theartofmadeline
Today's Document
he wasn't even looking at me and he found me
KIROKAZE
Keni

Kiana Khansmith
Sade Olutola
Claire Keane
Monterey Bay Aquarium
One Nice Bug Per Day
Sweet Seals For You, Always

Discoholic 🪩
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
will byers stan first human second

seen from Poland
seen from United Kingdom
seen from Germany

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Sweden
seen from Sweden
seen from Türkiye
seen from Canada

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Germany

seen from Türkiye
seen from Australia

seen from Türkiye
seen from Malaysia
seen from Germany
seen from United States
seen from United States
@fadhila-trifani
everyone is running their own race in their own time.
Thus, what’s meant for you always arrives right on time.
Opini Sebelum Menikah
"Udah lulus kuliah ya? Kapan nikah?"
"Calonnya mana nih? Kok nggak pernah liat?"
"Tante punya sepupu ganteng, lho! Abdi negara! Kamu mau liat nggak?"
Sebagai anak perempuan dengan usia 23 tahun, aku sudah cukup bosan dengan pertanyaan-pertanyaan senada.
Beberapa kali terpintas "Apa iya menikah semudah itu?", "Apa iya setelah menikah sudah pasti bahagia?", dan "Mungkinkah setelah menikah, hidupku terjamin selamanya?"
Maka, terpintaslah ide menulis cerita ini. Aku ingin mengemukakan 6 opiniku berupa hal-hal yang harus kulakukan sebelum memutuskan untuk menikah:
1. Mencintai Diri Sendiri Sepenuhnya Aku pernah mendengar Ario Pratomo, seorang Content Creator berkata: "Jangan berani menikah kalau kamu belum selesai dengan urusanmu sendiri." Kata-kata sederhana, namun maknanya dalam. Tentu sebelum menikah, aku harus terlebih dahulu selesai dengan urusanku sendiri. Bersahabat dan memaafkan hal-hal buruk yang pernah terjadi di masa lalu. Mencintai diri sepenuh-penuhnya.
2. Mengejar Cita-cita Selagi muda, selagi masih memiliki energi yang banyak, dan selagi mampu. Aku ingin meraih apa yang kucita-citakan sejak kecil. Bertemu lebih banyak manusia, melakukan hal-hal baru, memaknai perjalanan, dan berjalan ke tempat baru.
3. Mandiri Secara Finansial Aku belajar untuk menikah ketika kondisi keuanganku stabil dan aku memiliki keahlian yang bisaku kembangkan seiring usia. Tentu kita tidak bisa menebak takdir dan masa depan. Seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan memaksaku (sebagai istri) untuk memegang kendali, aku tidak bisa begitu saja pasrah dan berpangku tangan.
4. Menjadi Lebih Dewasa Meskipun ada ungkapan "Usia nggak berpegaruh pada kedewasaan seseorang." Namun, berkaca dari diri sendiri, kurasa emosiku yang masih belum stabil masih harus terus dievaluasi. Tentu aku nggak mau selama pernikahan didominasi dengan cekcok karena ego yang tinggi.
5. Membangun komunikasi Yang Sehat Masalah akan selalu ada dalam hubungan. Seiring bertambahnya usia, masalah bisa jadi menguatkan hubungan, atau justru melemahkan. Temukan seseorang yang memelukmu ketika kamu melakukan kesalahan. Temukan seseorang yang teguh membangun komunikasi yang sehat, tanpa merendahkan, tanpa menjatuhkan pasangan.
6. Luwes Dalam Menyatukan Dua Keluarga Karena keseriusan menikah bukan cuma soal aku dan pasangan. Tapi juga menyatukan dua keluarga dengan dua budaya dan kebiasaan yang berbeda. Aku harus menerima dia dan orang tuanya, adik dan kakaknya, neneknya, semua keluarganya. Sekarang waktunya mempersiapkan diri agar lebih luwes ketika bertemu keluarga pasangan.
Yang pasti, Menikah bukan soal kompetisi. Menikah juga bukan solusi untuk mengakhiri drama-drama personal kehidupan. Menikah tentu membutuhkan kesiapan jiwa dan raga yang matang dan selaras.
Jadi, mohon untuk saat ini jangan tanya dulu: “Kapan menikah?”
@ceritacita @sekotenggg @pcltelor @mathmythic @adhit21
Toxic Relationship (2)
Salah satu kesalahan fatal dalam menjalin hubungan adalah ketika kamu terus menganggap bahwa dia pasti akan berubah, meski dia telah menyakitimu berkali-kali. Kamu pun merasa punya tanggung jawab untuk mendampingi dia menjadi pribadi yang lebih baik.
I felt like my mental health totally was in danger, but I loved him. Then, I choose to dare my own part.
Setelah beberapa kali melakukan upaya putus, akhirnya aku benar-benar berhasil memutuskan hubungan di bulan Januari 2019. Walaupun pada saat itu rasanya masih sayang, namun aku sadar kalau hubungan ini tentu nggak layak diteruskan.
Dia yang nggak terima, mulai sering memohon lewat chat, telepon, bahkan menemui secara langsung dan menyatakan kalau dia nggak bisa menjalani hari tanpaku. Dia berjanji akan berubah dan memperbaiki kesalahannya.
Kemudian keenggak relaannya mulai berkembang: beberapa kali dia berinisatif menghadiahkanku barang-barang seperti make up, tas, sepatu, dan sebuket bunga lengkap dengan suratnya. Di lain waktu, ia memberikan banyak makanan dan beberapa lembar surat.
Suatu pagi, dia tiba-tiba berada didepan rumah dan bersikeras mengajakku berbicara. Aku sangat panik lantaran selama ini aku berpacaran secara diam-diam tanpa diketahui orang tua. Mama kebingungan dan sedikit takut karena ada sesosok pria yang memaksa menemuiku dan mengetuk pagar rumahku dengan kencang. "Bon, mama takut kamu dilukain." Namun, aku berhasil menenangkan mama dan mengajaknya bicara.
Hingga suatu ketika, ia tahu aku sedang dekat dengan laki-laki lain, ia sangat marah dan semakin nggak terkendali.
Ia mulai berani memberikanku ancaman seperti: mau menghancurkanku, ingin melihatku menderita, bahkan ancaman yang mengarah ingin membunuhku.
Setiap kali bertemu di kampus, ia membuntutiku dan mengucapkan kata-kata yang menyakitkan sambil mengacungkan jari tengah. Hal itu menorehkan trauma sampai saat ini.
Beberapa hari setelahnya, dia mulai berani mengirimkan paket anonim ke alamat rumahku yang berisi ancaman. Totalnya ada 5 paket di waktu yang berbeda. Paket dengan isi yang bermacam-macam dan membuat hatiku hancur setiap kali membukanya.
Aku terpuruk sekali saat itu. Depresi benar-benar nyata. Setiap bangun tidur, yang kulakukan hanyalah menangis, nggak nafsu makan, nggak ada gairah dalam berkegiatan, bahkan beberapa kali terpintas ingin mengakhiri hidup.
Akhirnya, aku beranikan diri menceritakan ini ke kakakku. Ia memintaku untuk mengumpulkan semua barang bukti seperti seluruh paket ancaman, print out chat yang mengancam, serta beberapa voice note yang mendukung. Berkat dukungannya, aku merasa ada harapan yang bisa menyelamatkanku.
Kakakku menyusun sebuah rencana. Tentu rencana yang matang dan serius. “Ayo dek kita selesaikan ini. Tenang, kamu punya aku.” kalimat tulus darinya yang perlahan menguatkanku.
Beberapa hari kemudian setelah kejadian demi kejadian tersebut, aku dan kakakku ditemani oleh dua orang aparat mendatangi rumahnya untuk menemui mantanku dan ibunya. Selain membawa barang bukti ancaman, kakakku juga menyiapkan surat perjanjian yang akan mengikatnya untuk tidak menggangguku lagi.
Kejadian itu sangat menyakitkan sekaligus melegakan. Aku tak kuasa melihat tangis ibunya pecah karena nggak tahu kejahatan yang dilakukan anaknya terhadapku. Rasanya, aku nyaris pingsan karena sangat emosional kala itu.
Akhirnya, ia mengakui segala kesalahannya dan berjanji nggak akan mengulangi perbuatannya. Dia dan ibunya menanda tangani sebuah surat perjanjian dengan catatan: apabila dilanggar, ia akan menerima konsekuensi hukum yaitu dipenjara.
Hari ini, sudah lebih dari setahun kejadian itu berlalu. Lukanya masih terasa, traumanya masih ada. Namun aku percaya aku sudah jauh lebih kuat dan sadar untuk menjalin hubungan yang sehat kelak.
I have spent too much of my time and my energy in a toxic relationship. Now, it’s time to take care of me, to pursue my dreams, and to live my life.
@henniarum @adhit21 @gugunm @mathmythic @sekotenggg
Toxic Relationship
Aku pernah terlibat dalam sebuah hubungan yang toxic dan abusif. Hubungan yang selalu membuatku takut untuk mengakhiri, dan berujung pada kesulitan memaafkan diriku sendiri.
Hubungan ini aku jalani selama 3.5 tahun lamanya. Tentu pada awalnya aku berekspektasi untuk bahagia dalam menjalani hubungan. Aku berekspektasi akan menjalani hubungan yang bisa saling belajar dan mendewasakan, serta dapat terus dijaga hingga ke tahap yang lebih serius.
*Tarik nafas.. Baik aku mulai bercerita
Aku memutuskan berpacaran dengannya setelah 2 bulan perkenalan. Dia orang yang humoris, baik, sederhana, dan pemberani. Selalu ada kejutan sederhana yang berarti darinya, seperti tiba-tiba membawakan makan siang, inisiatif mengantar jemput, dan memberikan hadiah kecil.
Namun diawal pacaran, terdapat hal aneh yang tidak kusadari: dia meminta password semua media sosialku dan berinisiatif memblokir beberapa teman pria. Katanya. dia ingin dijadikan yang satu-satunya.
Lama kelamaan, dia mengatur caraku berpakaian, tidak boleh menggunakan make up, tidak boleh menghubungi teman laki-laki, bahkan apabila ada histori nama laki-laki di kolom search media sosialku, dia akan marah. Ia juga membatasi impian-impianku, salah satunya keinginanku dalam mempelajari alat musik. Baginya, hal itu bisa membuatku dikenal oleh lebih banyak orang dan berpotensi membuat hubunganku dengannya goyah.
Aku jadi terbiasa dengan pola pacaran yang nggak sehat, dan aku perlahan-lahan memberlakukan pola dan standard yang sama. Jadi, ketika dia melakukan kesalahan tersebut: aku bisa marah sejadi-jadinya dan merasa dikhianati.
Ada fase di mana aku sudah mulai berpenghasilan. Aku mulai menawarkan jasa illustrasi dan aktif magang di sebuah perusahaan saat masa libur kuliah. Dia yang melabeli dirinya sebagai anak broken home dan harus menjaga adiknya, lantas mulai minta dibelikan barang-barang keinginannya.
"Kamu kan udah punya gaji, aku belum. Kamu nggak maukah bikin aku seneng dengan beliin ini.. itu..ini.." Sampai aku merasa bosan, tapi aku paham betul bagaimana hancurnya hatinya semenjak perceraian orang tuanya.
Satu sisi, jiwa kepedulianku dibuat bimbang karena kondisinya membuatku selalu mudah merasa kasihan dan luluh.
Nyatanya, itu bukan tanggung jawabku untuk memastikan apakah dia bahagia dan memenuhi segala kebutuhannya.
Mulailah ia meminta dibelikan makanan, dibayarkan ongkos angkutan umum, dan meminta uang untuk membeli keperluannya.
Pernah suatu ketika ia membentakku di sebuah restoran karena tidak ingin membayar makanannya. Kejadian itu tak hanya terjadi sekali dua kali, aku semakin melihat ia mudah marah dan tempramen terhadap sesuatu.
Ia tak segan menunjukkan kalau ia nggak suka sesuatu dengan lantang. Pun, sering sekali aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau ia berani main tangan atas sesuatu yang ia benci. Terkadang, ia juga mengeluarkan kata-kata yang merendahkanku dan membuat hatiku sakit. Namun, satut sisi ia begitu manipulatif hingga menekanku menjadi pihak yang bersalah dan harus meminta maaf.
Hal itu menjadi tamparan keras karena akulah yang mengizinkan dia dengan toxic traitsnya mendominasi dihubungan. Aku akhirnya merenung dan berpikir:
Lebih baik terlambat menyadari daripada terjebak seumur hidup.
Lantas, akhirnya dari sekian percobaan untuk memutuskan hubungan, Januari 2019 lah aku berhasil benar-benar melakukannya.
Eits, apakah bisa memutuskan orang tersebut dengan baik-baik?
Tentu tidak, Ferguso! Drama semakin memuncak karena ia menolak untuk putus dan mulai menerorku. Nanti akan aku ceritakan di 'Toxic Relationship (2)' ya!
@gugunm @adhit21 @sekotenggg @mathmythic @henniarum
Bukan untuk Menyempurnakanmu
Kelak, aku ada bukan untuk menyempurnakanmu. Aku ada untuk menarik napas panjang menghadapi keras kepalamu, aku ada untuk melihat ke dalam matamu, lalu mengangkat satu alisku, ketika kamu mulai ragu terhadap sesuatu…
…aku ada untuk melihatmu dari sudut mata, ketika leluconmu salah tempat, aku ada untuk diam seribu bahasa ketika kamu mulai tidak peka, aku ada untuk menepuk pundak dan pipimu, mengangkat wajahmu yang mulai menampakkan lelah dan putus asa, kemudian berlagak hebat dengan mengatakan, “semua akan baik-baik saja.”
Jadi, tolong terima, keberadaanku bukan untuk menyempurnakanmu. Silakan kecewa. Tapi rasanya tidak perlu aku katakan, bahwa kamu, dan segala yang ada di sana (di dirimu), sudah merupakan takaran yang paling pas untuk dihadapi dengan kekuatan yang aku miliki.
– @dedesisi
Belajar Dari “The World of Married Couple”
Setiap akhir pekan, aku selalu menyempatkan nonton Drama “The World of Married Couple.” Drama Korea ini menjadi Drakor pertama yang masih kutonton secara konsisten dan selalu dibuat gemas.
Drama ini bercerita tentang Ji Sun Woo, seorang dokter sukses yang pernikahannya dengan Lee Tae Oh, seorang sutradara film hancur berantakan. Ternyata Lee Tae Oh menjalin hubungan gelap dengan Yeo Da Kyung yang berparas cantik dan jauh lebih muda dari Sun Woo. Yang lebih menyakitkan lagi, perselingkuhan ini diketahui dan dibiarkan oleh teman-teman Sun Woo.
Meskipun Sun Woo masih sangat mencintai Tae Oh, perselingkuhan yang sudah menghasilkan anak itu, tidak bisa begitu saja dikesampingkan. Sangat sulit memaafkan kesalahan yang begitu besar, apalagi melupakannya.
Film ini membuatku gregetan, bahkan sempat terbawa cemas karena jalan ceritanya yang penuh konflik. Namun, kuakui banyak pelajaran yang bisa diambil dari drama ini.
Urusan cinta dan pernikahan, mungkin terlihat indah. Dulu sewaktu masih SMA, aku selalu bermimpi ingin cepat menikah. Menikah terlihat menarik, membahagiakan secara instan, dan menenangkan. Nyatanya pernikahan tidak sesederhana itu. Ada tanggung jawab yang besar dan berlaku seumur hidup yaitu mempertahankan.
Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, ia harus menerima segala lebih dan kurangnya pasangan. Menerima kalau adakalanya pasangan terlihat cuek, menua dan kulitnya semakin keriput seiring usia, bahkan harus menerima ketika berbeda pendapat yang memicu perdebatan.
Tentu, di dunia ini tidak ada yang sempurna, semua orang memiliki kekurangannya masing-masing. Sebagai pasangan, melengkapi dan memperbaiki kekurangan harus bersama-sama dilakukan. Ketika terasa jenuh bahkan merasa kurang cinta dengan pasangan, mungkin "sosok baru" yang hadir akan terlihat lebih menarik. Namun, perlu diingat-ingat lagi apa alasan pertama ingin menikahinya.
Nyatanya, cinta memang butuh pengorbanan. Kalau tidak siap berkorban, lebih baik jangan memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius.
@henniarum @adhit21 @gugunm @sekotenggg @mathmythic
"Life is about people; the people you meet, the people you miss. Even the people you hate. Most of all, life is about the people you love. Some of them will die before you do. Nothing will ever bring them back." - Bill Gates
Dalam perjalanan, kita pernah dan akan bertemu dengan beragam manusia dengan rupa, cara berpikir, dan cara berperilaku yang berbeda.
Kita bertemu dengan orang yang ingin mengenal kita seutuhnya, adapula yang biasa saja, ada yang hanya sekedar lewat, dan ada yang terlihat manis namun menusuk di belakang.
Nyatanya, setiap dari mereka membawa pelajaran dan ragam warna. Maka, semoga hati kita selalu diberi pemahaman yang baik, pemahaman bahwa tidak semua kebaikan didapatkan dengan formula yang sama.
@henniarum @adhit21 @sekotenggg @mathmythic @gugunm
Boleh Jadi
Boleh jadi, sosok yang kita anggap aneh karena selalu menyendiri dan tak pandai bicara adalah seseorang yang dalam hatinya menyimpan luka dan trauma amat dalam, hingga sulit merasa percaya kepada orang lain.
Boleh jadi, pedagang yang dengan ramah menawarkan dagangannya adalah orang yang tengah kebingungan dan hampir putus asa mencari rezeki. Keluarganya di rumah merasa kelaparan, anak-anaknya kesulitan mendapat akses pendidikan yang layak.
Boleh jadi, gelandangan yang kita merasa jijik dengan kehadirannya adalah orang yang paling peduli dan penyayang dengan kucing liar. Baginya, sekotor apapun di masyarakat, ia harus menebar welas asih kepada sesama.
Boleh jadi, sahabat yang selalu menemani di masa-masa sulit dan selalu terlihat ceria adalah orang yang tengah berjuang mati-matian melawan depresi. Baginya, hidup sedang terasa sulit hingga beberapa kali terpikir untuk bunuh diri.
Boleh jadi, bapak yang selalu menjadi orang paling pertama untuk menentang dengan keras beberapa pilihan kita, adalah orang yang telah merasakan betapa pahitnya kehidupan. ia ingin menjaga anaknya sekuat mungkin agar tidak jatuh di lubang yang salah.
Maka, perlulah kita berbuat baik terhadap sesama. Kita tak pernah tahu apa perjuangan yang sedang ia lalui. Pun, kita tak pernah tahu apa kebaikan yang sebenar-benarnya tertanam dalam hatinya. Soal keburukan yang kita lihat, biar kita serahkan kepada Tuhan. Hanya Tuhan yang berhak memberikan penghakiman terhaadap seseorang.
Tentu tak ada ruginya berbuat baik. Kebaikan yang walaupun bentuknya kecil nan sederhana, namun bila dilakukan dengan setulus hati, mampu memberikan energi yang kuat dan menular kepada orang lain.
@henniarum @adhit21 @gugunm @mathmythic @sekotenggg
Melepaskan
Pada Akhirnya, manusia akan selalu punya pilihan untuk bertahan atau melepaskan, bukan?
Ada hal-hal yang mungkin harus dihentikan ketika tak kunjung ada perbaikan. Ketika keresahan tak kunjung reda, ketika apa yang kita lakukan terasa salah, ketika semua hal dirasa tidak berjalan semestinya bahkan terasa meyakitkan, maka tinggalkanlah. Barangkali, hal yang lebih baik dan membahagiakan telah menunggumu.
Sampai kapan rasanya dibiarkan menyakitkan? Perlukah ditunggu hingga berkali-kali lipat terasa lebih sakit?
Tentu ini bukan perkara ketika merasa gagal sedikit, kita bisa langsung meninggalkan. Namun, saat semesta seolah memberikan sinyal terus menerus untuk meninggalkan, ketika intuisi mulai berbicara: mungkin itu pertanda kalau hal tersebut pantas ditinggalkan.
Tentu perlu keberanian yang besar untuk memutuskan bertahan atau meninggalkan. Maka, dengarkan dan percayakan selalu intuisimu.
Apapun yang sedang terjadi, kuharap kamu kian diberikan kebesaran hati untuk bertahan atau melepaskan :)
@henniarum @adhit21 @gugunm @sekotenggg @mathmythic
Seleksi Alam
Dulu, aku pernah berpikir: kenapa ya temanku kian hari semakin sedikit? Padahal aku bisa berteman dengan siapa saja. Ngobrol apapun juga bisa nyambung rasanya.
menjadi manusia dewasa, aku kian disibukkan dengan menyelami aneka pengalaman baru dan mengejar cita-cita. Keluar pondok pesantren, masuk ke dunia perkuliahan, dan saat ini di dunia karir.. banyak hal yang perlu dibagikan kepada teman, namun waktunya terlalu sedikit. Alhasil, aku membagikan kepada orang-orang yang kurasa klik dan aku percaya.
Akhirnya, aku sampai pada titik di mana temanku bisa dihitung jari.
Manusia, terus bertumbuh, terbentuk, dan belajar seiring waktu. Pola pikir dan kepribadian yang terus berkembang menuntun kita ke lingkaran yang sefrekuensi.
Banyak manusia yang hadir silih berganti dalam kehidupan, namun layaknya proses seleksi alam, hanya akan tersisa beberapa orang terdekat yang dapat dihitung dengan jari yang akan tinggal di sisi.
Mungkin sangat sedikit jumlahnya, namun merekalah yang selalu ada di saat jatuh bangun kehidupanku. Mereka yang tetap berupaya akan meluangkan waktu untuk selalu hadir dan setia. Mereka membentuk menjadi lingkaran yang sefrekuensi.
Ada yang bilang, Semakin dewasa, lingkaran pertemanan semakin mengecil, semakin mengerucut. Kita dilatih untuk memilah mana yang bisa kita jaga seterusnya dan mana yang perlu dilepas.
Perkara teman, bukan seberapa kuantitas orang-orang yang mengelilingimu, namun bagaimana kualitas persahabatanmu, bukan?
Maka hidup harus terus berlanjut. Tak peduli sebanyak apapun temanmu saat ini, jagalah mereka yang terbaik. Ketika teman-teman terbaikmu bertahan, kamu akan baik-baik saja.
@henniarum @gugunm @adhit21 @sekotenggg @mathmythic
Menerima
"Gagal, sedih, ragu, jadi terdengar masuk akal pada waktunya."-NKCTHI
Patah, gagal, menyalahkan diri sendiri, hingga kehilangan harapan. Semua orang pasti pernah merasakan momen di mana terasa sulit menerima diri sendiri.
Saat melihat pencapaian teman misalnya. Aku begitu keras membandingkan diri. Rasanya masih saja stuck belum berjalan jauh. Kok hidupku masih di sini aja ya? Akibatnya, aku mengizinkan diriku patah oleh diriku sendiri.
Nyatanya, nggak adil kalau membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Jalan yang ditempuh, bagaimana orang lain berjuang dengan segala roller coasternya, bahkan bagaimana titik di mana dia mulai ingin menyerah namun berusaha bertahan, tentu sangat berbeda dengan yang aku rasakan.
Maka, perlahan-lahan aku belajar untuk menerima seiring bertambahnya usia:
1. Menerima kalau nggak semua hal di dunia harus bisa aku kendalikan 2. Menerima kalau manusia pasti pernah berbuat salah dan kekeliruan 3. Menerima kalau memaafkan bisa melegakan hati sendiri 4. Menerima kalau nggak selamanya apa yang menjadi sudut pandang kita selalu benar, kita tetap perlu menimbang sudut pandang orang lain 5. Menerima kalau perbedaan itu indah 6. Menerima kalau sedih, frustasi, patah semangat juga bagian dari perasaan sebagai manusia. Nggak ada yang salah dengan perasaan 7. Menerima kalau setiap manusia punya jatah gagalnya masing-masing.
Tentu, menerima bukan berarti menyerah dengan keadaan yang ada. Manusia mustahil bisa terus berkembang kalau memutuskan untuk selalu menyerah, bukan?
Aku memaknai menerima dengan keikhlasan. Ikhlas tentu tidak sama maknanya dengan menyerah. Ikhlas artinya menerima keadaan secara penuh, bahwa ada hal yang dapat kita ubah dan optimalkan, dan ada hal-hal yang perlu kita terima dengan lapang dada dengan dasar pemahaman bahwa tidak semua hal di dunia ini dapat kita kendalikan.
Akhir kata, Ada yang pernah berkata kepadaku bahwa:
"Mereka yang paling berbahagia adalah mereka yang memiliki kebesaran hati untuk menerima."
@henniarum @adhit21 @gugunm @mathmythic @sekotenggg
Penolakan
Waktu usiaku 10 tahun, aku pernah bilang ke bapak kalau aku bercita-cita ingin jadi pelukis. Aku ingin menjadi pelukis hebat dan karyaku bisa bertebaran di mana-mana. Namanya anak-anak, aku begitu antusias dan ringan ketika mengungkapkan hal itu.
Sontak bapak melihat tajam ke mataku dan mengeluarkan kata-kata yang membuatku terkejut: "Apa-apaan jadi pelukis? Pelukis itu masa depannya nggak jelas. Liat tuh pelukis di jalanan, terlihat gembel dan nggak keurus."
"Pokoknya nggak boleh jadi pelukis! Masih banyak cita-cita lainnya yang bisa kamu pilih."
Jleb, aku benar-benar nggak menduga kata-kata itu yang akan keluar dari mulut bapak. Hatiku langsung terasa sesak dan aku berusaha keras menahan air mata.
Pengalaman tersebut masih kuingat dengan detail sampai sekarang. Saat itu, aku merasa kehilangan harapan, nggak percaya diri, dan merasa sia-sia sudah berlatih gambar tiap saat.
Pengalaman itu membuatku takut untuk mengambil jurusan perkuliahan yang berkaitan dengan menggambar, baik Desain Komunikasi Visual, Animasi, ataupun seni rupa.
Mungkin itu patah hati pertamaku karena penolakan. Patah hati di masa kecil yang meninggalkan trauma. Nyatanya, penolakan itu masih terasa sangat menyakitkan sampai saat ini.
Tentu, tak ada seorangpun yang menyukai penolakan.
Penolakan terasa menyakitkan bahkan bisa membuat seseorang ingin berhenti berjuang dan menyerah.
Pelan-pelan, aku belajar untuk menerima dan memeluk rasa sakit karena penolakan tersebut. Aku merefleksikan apa yang sebaiknya aku ambil. Akhirnya, sampai saat ini aku tetap bisa meneruskan hobi menggambarku dan belajar secara otodidak.
Nyatanya, kita semua pasti pernah mengalami penolakan dalam hidup. Orang yang jalan hidupnya terlihat mulus dan berhasil sekalipun di perjuangannya mengalami penolakan berkali-kali.
Proses yang paling sulit memang menerima penolakan. Karena kita terlalu menaruh ekspektasi terhadap apa yang kita utarakan atau lakukan.
Mungkin dengan menghadapi penolakan, hati kita pelan-pelan terbentuk menjadi lebih kuat dan tangguh. Penolakan juga bisa menjadi cara untuk lebih peka terhadap diri sendiri dan membuka perspektif baru agar lebih baik lagi.
Penolakan yang mendewasakan kita, bukan?
Akhir kata, aku kutip kata-kata baik Iman Usman dalam buku ‘Masih Belajar’:
“Karena penolakan akan selalu kita temui, kita harus belajar untuk bisa tumbuh bersama penolakan.”
@henniarum @gugunm @mathmythic @sekotenggg @adhit21
You Are Doing Just Fine
"Gemukan mbak. Nggak pernah nyoba diet?" "Kok kamu lanjut S2? Nikahnya kapan?" "Laki-laki kok nangis, harus kuat dong!" "Perempuan masa nggak bisa masak?" "Kenapa kamu nggak berencana punya anak? Kasian ibumu kepengen punya cucu tuh."
Tarik nafas berkali-kali.
Kamu punya pengalaman dinyinyirin orang lain, bahkan keluarga sendiri? Kalau boleh bercerita, tubuhku yang kurus dan pipiku yang terlalu tirus hampir selalu dijadikan bahan obrolan, bahkan bercandaan ketika bertemu teman ataupun keluarga. “Kamu kok makin lama makin kurus ya? Makan dong Bon.” Nyatanya, aku sudah melakukan upaya-upaya untuk menggemukan badan termasuk menambah porsi makan.
Hmm.. Mungkin niatnya sekedar basa-basi untuk memulai obrolan, namun bukankah ada beberapa cara lainnya untuk menunjukkan kepedulian tanpa mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan, bukan?
Ada juga sahabatku yang sampai saat ini belum bisa menyelesaikan studi. Sahabatku terhambat di judul skripsi yang membuatnya tenggelam dalam depresi. Ia selalu khawatir dengan cibiran dosen dan teman lain yang mengakibatkan ia nggan datang ke kampus. Akhirnya kini, ia memulai untuk bangkit walaupun menurutnya ini sudah sangat tertinggal.
Aku suka berpikir, kenapa manusia mudah sekali menilai bahkan mengeluarkan kata-kata yang melukai hati orang lain, sedang mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Nyatanya, kita nggak tahu seberapa dalam penderitaan, jatuh-bangun, perjalanan, dan perjuangan yang dialami orang lain, bukan?
Nyatanya, apa yang kita lakukan bisa jadi akan terlihat selalu salah di mata orang-orang yang nggak suka dengan kita, ataupun sebenarnya peduli, namun menurutnya itulah cara terbaik untuk mendorong kita berkembang.
Pada akhirnya, kita semua manusia. Kita nggak bisa memaksa orang lain untuk memahami kita. Tapi kita bisa belajar untuk memahami dan menerima diri sendiri. Bahwa, kitalah yang lebih paham setiap fase yang kita alami. Jangan biarkan cibiran orang lain membuat energi kita habis.
Aku percaya, kiita sedang sama-sama berjuang. Mari menguatkan, bukan menjatuhkan. Semoga kita bisa fokus meniti jalan masing-masing tanpa terlalu sibuk mencela mereka yang terlihat berbeda.
Tentu di perjalanannya, akan ada yang bergerak lambat, ada yang merasa stagnan tidak bergerak, ada yang hampir memutuskan untuk menyerah, dan ada yang percaya dengan kesempatan yang diberikan Tuhan.
Semesta tentu tidak peduli siapa yang lebih dulu ataupun tertahan di belakang. Semesta mencintai mereka yang tak menyerah.
Relax sweetheart, you are doing just fine.
@henniarum @adhit21 @mathmythic @sekotenggg @gugunm
The Perks of Being a Highly Sensitive Person
Satu hal yang aku sadari seiring bertambahnya usia adalah aku sangat sensitif. Beberapa kali mencoba test tingkat sensitifitas, aku termasuk orang dengan Highly Sensitivity.
Bisa dikatakan, aku sangat mudah menyerap energi. Misal, aku bertemu dengan seseorang: aku sangat mudah merasa rungsing dan tidak nyaman ataupun plong dan bahagia karena energi yang terpancar dari orang tersebut. Pun, ketika berkunjung ke suatu tempat, aku bisa dengan mudah merasa fresh ataupun tidak betah. Yup, aku mudah terenyuh dengan stimuli fisik, emosional, hingga sosial seperti kata-kata dan tingkah laku.
Contoh lainnya, ketika seharian merasa sedih ataupun kecewa namun di jalan aku menemukan anak kucing, perasaanku bisa segera membaik secara drastis.
Kadang orang lain bilang: "Kamu baperan deh", "Coba deh apa-apa jangan dimasukin ke hati.", dan "Kamu kok perasa banget ya."
Aku pernah menganggap menjadi sensitif adalah hal yang buruk, nggak ada gunanya sama sekali, nggak beruntung, bahkan bisa diubah dengan mudahnya.
Nyatanya, semakin aku menolak, rasanya semakin keras dan nggak adil dengan diri sendiri. Pelan-pelan, aku belajar untuk menerima. Aku belajar untuk memeluk dan memahami diri sendiri. Hingga aku percaya: menjadi sensitif bukanlah hal yang dibangun secara instan (butuh proses panjang hingga ke tahap ini), menjadi sensitif nggak selalu buruk, dan menjadi sensitif bisa jadi adalah sebuah kekuatan.
This is totally okay!
Aku sangat bersyukur Tuhan menjadikanku orang yang sensitif. Berkat hal ini, aku bisa merasakan sesuatu secara mendalam. Hal ini mempertajam empati dan kepekaanku. Aku juga bisa lebih panjang dalam menimbang-nimbang ketika ingin melakukan sesuatu agar tidak menyakiti perasaan orang lain.
Aku percaya apa yang ada di semesta ini adalah sebab akibat. Kalau aku gunakan “sensitifitas” ini untuk kebaikan, semesta akan mengembalikannya berkali-kali lipat.
Menjadi sensitif bisa jadi adalah sebuah anugrah, bukan?
So, I believe this is my superpower as a highly sensitive person. Then, I really cherish my uniqueness! 💙
@henniarum @adhit21 @gugunm @mathmythic @sekotenggg
Berbeda
Apa yang terlintas dibenakmu ketika memiliki kakak dengan gangguan jiwa?
Dulu, aku sangat takut bila teman-temanku mengetahui siapa kakakku. Kakak perempuan yang terdiagnosa memiliki gangguan kejiwaan berupa Bipolar Disorder.
Kakak yang hidupnya sempat ditemani rasa depresi selama bertahun-tahun, sekolahnya berantakan, pemberontak, sering kabur dari rumah, nyaris diusir oleh orangtua, sering dibully, bahkan tak melanjutkan kuliah.
Kakak yang beberapa kali mencoba mengakhiri hidupnya, sering dirawat di rumah sakit jiwa, bahkan dibawa ke tempat ruqyah.
Kakak yang tubuhnya dipenuhi tatto, tindik, dan tidak pernah lepas dari rokok dan minuman.
Iya, itu kakakku. Kak Hana namanya.
Setiap kami jalan-jalan berdua ke suatu tempat, selalu ada pertanyaan: "Ih, kalian beda banget ya!", "Ini serius kakaklo?", "Kok bisa?"
Tentu perbedaan kami sudah melalui proses yang panjang. Kak Hana dengan ceritanya, dan aku dengan ceritaku.
Lalu.. Apakah berbeda identik dengan benar atau salah? Apakah berbeda selalu identik dengan cantik atau buruk? Atau mungkin sehat dan sakit?
Tentu aku mencintai perbedaan kami. Perbedaan yang begitu banyak namun kami tulus menyayangi dan melindungi. Aku dan kakakku saling berpelukan ketika salah satu dari kami tidak baik-baik saja.
Aku bangga melihat bagaimana ia berproses. Dari seseorang yang hampir gila karena perjalanan hidup yang begitu berat hingga bersinar seperti saat ini. Perjalanannya dengan karya seninya yang menyalakan harapan untuk tetap hidup sampai saat ini.
Lantas, apakah kita bisa sebebasnya menilai bahkan menghakimi sosok yang terlihat berbeda, sedangkan kita tidak mengetahui seperti apa kondisi mereka yang sebenarnya?
@henniarum @adhit21 @sekotenggg @mathmythic @gugunm
Unpopular Opinion About Kekeyi
Siapa yang nggak tahu Kekeyi? Sejak kemunculan Kekeyi dengan tutorial makeupnya yang menggunakan balon, Kekeyi sempat menjadi trending dan kian ramai dibicarakan di media sosial.
Sampai akhirnya dia dinilai mencari sensasi melalui ‘pacar settingan’ dengan seorang seleb. Haters Kekeyi semakin banyak. Setiap kali melihat postingannya di Instagram ataupun Youtube, sangat mudah menemukan komentar negatif yang menghina fisik, tingkah laku, dan kecerdasan Kekeyi.
Pun di media sosial lainnya seperti Twitter, sangat mudah menemukan meme ataupun dagelan tentang Kekeyi. Awalnya mungkin terlihat lucu, namun lama-lama muak juga melihatnya.
Rasanya mulai gerah melihat case ini. Sangat mudah menemukan cyber bullying secara terang-terangan. Menurutku, terlepas dari gosip tentang caranya meraih popularitas, dia tetap manusia yang harus dihormati eksistensinya.
Merendahkan orang lain nggak akan membuatmu terlihat keren.
Belum lama aku melihat video mukbang Kekeyi di Youtube, dan kalian tahu berapa jumlah dislike dan hate commentnya? :)
Aku jadi relate dengan apa yang ia ceritakan saat awal tenar. Kekeyi dibesarkan dari keluarga yang broken home. Setelah ayah dan ibunya resmi bercerai, ibunya memutuskan untuk menjadi TKW di Hongkong. Kekeyi hidup dengan tantenya dan ia terpisah dengan ibunya selama 18 tahun.
Somehow, aku merasa iba karena selama itu pula ia kurang kasih sayang dari orang tua. Kepolosannya tentu nggak dibuat-buat. Semua sifat dan sikapnya terbentuk dari perjalanannya selama 25 tahun.
Aku salut dengan kepercayaan diri Kekeyi. Kita emang nggak tahu seberapa teguh hati seseorang, tapi ngeliat keceriaan yang dia tampilkan di sosmed, ngebuatku yakin kalau dia adalah pribadi yang kuat.
Kepolosannya, keceriaannya, keberaniannya dalam melawan insecurity, dan kepercayaan dirinya lah yang menjadi daya tarik.
Sebagai manusia biasa, kita nggak patut mengekspresikan secara bebas rasa kebencian, apalagi sampai memengaruhi orang lain untuk ikutan benci. Tidak bisakah rasa benci dan ketidaksukaan itu berhenti hanya di kita saja?
If you don't like her, just ignore her as long as she not bothering you.
@henniarum @adhit21 @sekotenggg @gugunm @mathmythic
Things I Wish I knew When I Was a Kid
Di usiaku yang ke 23 tahun, tentu aku telah merasakan dan melewati banyak hal. Tidak semuanya baik, pasti ada yang buruk, ada yang menoreh kecewa, bahagia, marah, sedih, hampa, bahkan rasa tertekan berujung depresi. Beberapa pengalaman meninggalkan pelajaran, ada juga yang masih membingungkan dan membuatku bertanya-tanya hingga detik ini.
I believe it happens not only on me, we've experienced a lot of highs and lows sometimes and it feels like the lows outweigh the highs, but look! We've survived every low point we've ever reached.
Menjelang tidur, aku kerap kali memikirkan banyak hal. Seandainya Tuhan memberiku kesempatan untuk kembali ke masa kecil dan memberi pesan untuk "Fani Kecil", inilah yang akan aku sampaikan padanya:
1. Kamu Tidak Sedang Berkompetisi Dengan Orang Lain
Semua orang memiliki keunikannya masing-masing. Tak perlu khawatir bila kamu tak menyukai suatu mata pelajaran, tak perlu khawatir bila kamu sudah berjuang keras mempelajari Matematika ataupun IPA, namun tak kunjung meraih nilai memuaskan. Kamu bisa unggul di bidang lainnya. Dirimu kini hanya berkompetisi dengan dirimu sebelumnya. Terus berjuang ya!
2. Gakpapa Kalau Merasa Takut
Terkadang takut bukanlah hal yang buruk, itu akan menguatkan hatimu seiring usia dan menuntunmu ke hal yang besar.
3. Nikmati Masa Kini
Mengkhawatirkan masa depan bisa membuat waktu kinimu tersita dengan kecemasan. Bermainlah sepuasnya, bersahabat dengan orang-orang, nikmati tidur siangmu, dan berbahagialah layaknya anak kecil. Isi hari-harimu dengan keceriaan.
4. Percayalah Dengan Kemampuan Dirimu Sendiri Jadilah percaya diri, kalau kamu tidak yakin dengan kemampuanmu sendiri, bagaimana bisa membuat orang lain percaya?
5. Terus Mencoba Walaupun Berkali-kali Gagal Bahkan sosok yang menjadi idolamu pun kerap kali mengalami kegagalan, namun itu yang membuat mereka belajar dan kian tangguh seiring usia.
6. Cobalah Hal Baru, kamu Akan Mengerti Mencoba hal baru mungkin menakutkan, namun itu yang akan membukakan jalan ke arah mana kegemaranmu. Dear self, If you don’t step out of your comfort zone you will never realize how great you could be.
7. Katakanlah Tidak Kalau Kamu Merasa Keberatan Walaupun kamu masih kecil, namun kamu berhak menentukan tindakanmu sendiri untuk melindungi dirimu.
8. Berjuang Dan Meraih Prestasi
Kamu bisa menggemari berbagai bidang dan tak ada salahnya jika berjuang lebih banyak untuk menoreh prestasi. Jangan takut untuk mengikuti perlombaan. Kelak kamu akan berterima kasih kepada diri sendiri atas kegigihanmu dalam meraih prestasi. Selain membuat orang tuamu bangga, ini akan menunjukkanmu ke jalan yang tak terduga. Keep on growing. Do this for your shake.
Rasanya tidak mungkin untuk kembali ke masa lalu, namun kelak jika Tuhan menganugrahkanku buah hati, aku akan mengingat pesan ini.
Kalau kamu diberi kesempatan oleh Tuhan untuk kembali ke masa kecil, hal apa yang ingin kamu lakukan?
@henniarum @gugunm @adhit21 @sekotenggg @mathmythic