You Are Doing Just Fine
"Gemukan mbak. Nggak pernah nyoba diet?" "Kok kamu lanjut S2? Nikahnya kapan?" "Laki-laki kok nangis, harus kuat dong!" "Perempuan masa nggak bisa masak?" "Kenapa kamu nggak berencana punya anak? Kasian ibumu kepengen punya cucu tuh."
Tarik nafas berkali-kali.
Kamu punya pengalaman dinyinyirin orang lain, bahkan keluarga sendiri? Kalau boleh bercerita, tubuhku yang kurus dan pipiku yang terlalu tirus hampir selalu dijadikan bahan obrolan, bahkan bercandaan ketika bertemu teman ataupun keluarga. “Kamu kok makin lama makin kurus ya? Makan dong Bon.” Nyatanya, aku sudah melakukan upaya-upaya untuk menggemukan badan termasuk menambah porsi makan.
Hmm.. Mungkin niatnya sekedar basa-basi untuk memulai obrolan, namun bukankah ada beberapa cara lainnya untuk menunjukkan kepedulian tanpa mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan, bukan?
Ada juga sahabatku yang sampai saat ini belum bisa menyelesaikan studi. Sahabatku terhambat di judul skripsi yang membuatnya tenggelam dalam depresi. Ia selalu khawatir dengan cibiran dosen dan teman lain yang mengakibatkan ia nggan datang ke kampus. Akhirnya kini, ia memulai untuk bangkit walaupun menurutnya ini sudah sangat tertinggal.
Aku suka berpikir, kenapa manusia mudah sekali menilai bahkan mengeluarkan kata-kata yang melukai hati orang lain, sedang mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Nyatanya, kita nggak tahu seberapa dalam penderitaan, jatuh-bangun, perjalanan, dan perjuangan yang dialami orang lain, bukan?
Nyatanya, apa yang kita lakukan bisa jadi akan terlihat selalu salah di mata orang-orang yang nggak suka dengan kita, ataupun sebenarnya peduli, namun menurutnya itulah cara terbaik untuk mendorong kita berkembang.
Pada akhirnya, kita semua manusia. Kita nggak bisa memaksa orang lain untuk memahami kita. Tapi kita bisa belajar untuk memahami dan menerima diri sendiri. Bahwa, kitalah yang lebih paham setiap fase yang kita alami. Jangan biarkan cibiran orang lain membuat energi kita habis.
Aku percaya, kiita sedang sama-sama berjuang. Mari menguatkan, bukan menjatuhkan. Semoga kita bisa fokus meniti jalan masing-masing tanpa terlalu sibuk mencela mereka yang terlihat berbeda.
Tentu di perjalanannya, akan ada yang bergerak lambat, ada yang merasa stagnan tidak bergerak, ada yang hampir memutuskan untuk menyerah, dan ada yang percaya dengan kesempatan yang diberikan Tuhan.
Semesta tentu tidak peduli siapa yang lebih dulu ataupun tertahan di belakang. Semesta mencintai mereka yang tak menyerah.
Relax sweetheart, you are doing just fine.
@henniarum @adhit21 @mathmythic @sekotenggg @gugunm














