Seleksi Alam
Dulu, aku pernah berpikir: kenapa ya temanku kian hari semakin sedikit? Padahal aku bisa berteman dengan siapa saja. Ngobrol apapun juga bisa nyambung rasanya.
menjadi manusia dewasa, aku kian disibukkan dengan menyelami aneka pengalaman baru dan mengejar cita-cita. Keluar pondok pesantren, masuk ke dunia perkuliahan, dan saat ini di dunia karir.. banyak hal yang perlu dibagikan kepada teman, namun waktunya terlalu sedikit. Alhasil, aku membagikan kepada orang-orang yang kurasa klik dan aku percaya.
Akhirnya, aku sampai pada titik di mana temanku bisa dihitung jari.
Manusia, terus bertumbuh, terbentuk, dan belajar seiring waktu. Pola pikir dan kepribadian yang terus berkembang menuntun kita ke lingkaran yang sefrekuensi.
Banyak manusia yang hadir silih berganti dalam kehidupan, namun layaknya proses seleksi alam, hanya akan tersisa beberapa orang terdekat yang dapat dihitung dengan jari yang akan tinggal di sisi.
Mungkin sangat sedikit jumlahnya, namun merekalah yang selalu ada di saat jatuh bangun kehidupanku. Mereka yang tetap berupaya akan meluangkan waktu untuk selalu hadir dan setia. Mereka membentuk menjadi lingkaran yang sefrekuensi.
Ada yang bilang, Semakin dewasa, lingkaran pertemanan semakin mengecil, semakin mengerucut. Kita dilatih untuk memilah mana yang bisa kita jaga seterusnya dan mana yang perlu dilepas.
Perkara teman, bukan seberapa kuantitas orang-orang yang mengelilingimu, namun bagaimana kualitas persahabatanmu, bukan?
Maka hidup harus terus berlanjut. Tak peduli sebanyak apapun temanmu saat ini, jagalah mereka yang terbaik. Ketika teman-teman terbaikmu bertahan, kamu akan baik-baik saja.
@henniarum @gugunm @adhit21 @sekotenggg @mathmythic















