Hujan adalah pertentangan
Antara air yang menembus bumi dan doa yang menembus langit
Antara rinai yang melembutkan dan doa yang menggoncangkan

seen from United States
seen from United States

seen from Norway
seen from Singapore
seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Singapore
seen from France
seen from Türkiye
seen from India

seen from Malaysia
seen from Japan

seen from France

seen from United States

seen from France
seen from United States

seen from Malaysia
Hujan adalah pertentangan
Antara air yang menembus bumi dan doa yang menembus langit
Antara rinai yang melembutkan dan doa yang menggoncangkan
Cerpen : Pertentangan
Seusai itu, dia hanya bisa tersenyum. Tapi lama sekali kalimat-kalimat itu mengiang di kepalanya. Sejujurnya, menabur garam di hati yang luka. Tapi tak bisa apa-apa.
Teringat bahwa hujan adalah pertentangan, seperti kutipan dalam Buku Teman Imaji (hal 12) :
Seperti mendapat teladan, Kica ikut menjulurkan tangan. Angin menerpa sela-sela jarinya. Ia menarik napas panjang, “Hujan adalah…
View On WordPress
Oleh: Kang Juki Dokumen keluarga KH Achmad Moetawalli www.inikebumen.net DINAMIKA pemahaman tentang ajaran Islam juga mewarnai intera
PERTENTANGAN
"Because people love to be in love." - Adharaisa, Sarah. Known as Abygail. Sepanjang sejarah kemanusiaan, manusia telah banyak melalui tantangan dan kekacauan (chaos). Sebelum sejarah dapat dikatakan "sejarah", semuanya hanyalah pertentangan-pertentangan baik kecil mau pun besar. Maka, mau tidak mau, sejarah yang dapat dikatakan "sejarah" berawal dari pertentangan-pertentangan dan tanpa disadari, begitulah adanya. Maka dari itu wajar saja muncul sebuah adagium mengenai sejarah; siapa yang melupakan sejarah, tamatlah riwayatnya. Adagium tersebut menjelaskan secara intrinsik jika manusia tidak mengingat sejarah sama halnya tidak belajar darinya--sudah barang tentu sejak nabi Adam dipatahkan rusuknya agar Hawa bernafas, sudah ada pertentangan-pertentangan. Di masa ini, hampir seluruh umat manusia mengaminkan adagium tersebut yang mengarah pada sebuah pernyataan yang ditanamkan oleh diri masing-masing manusia mengenai orang yang belajar dari sejarah akan terhindar dari konflik/pertentangan. Akan tetapi, tidak semata-mata hal tersebut benar sebab bisa saja orang belajar dari sejarah akan memulai konflik baru karena mereka mengetahui alurnya. Sudah banyak peristiwa-peristiwa sejarah yang dimulai dari pertentangan, konflik, perang, kerjasama, pertentangan, begitu seterusnya. Dimulai dari perang antara kaum Theis dan Pagan, Perang Salib, penaklukan Anglo Saxon, namun mengapa masih saja ada pertentangan? Sebab pertentanganlah yang menyelamatkan umat manusia. Contoh mudahnya adalah sejarah Eropa Barat dari Dark Ages (Abad Kegelapan) menuju Renaissance (kelahiran baru) pada abad 14. Renaissance bagi masyarakat Eropa Barat merupakan suatu fitrah dan sayangnya, Pertentangan yang hidup sebagai entitas esoterik di dalamnya dikesampingkan bahkan ditinggalkan. Karena Renaissance, masyarakat Eropa Barat dapat melakukan pengujian teori bahkan thesis yang berkaitan dengan sains tanpa harus berurusan dengan otoritas yang paling tinggi di atas kerajaan. Pertentangan-pertentangan yang ditujukan kepada para saintis seperti Bruno-lah yang menggiring Eropa Barat menjadi peradaban yang maju yang khususnya di bidang teknologi. Bruno harus berhadapan dengan otoritas keagamaan karena berteori tentang bumi dan matahari, begitu juga dengan para saintis yang membuat antithesa mengenai lintasan-lintasan alam raya ini. Sejak SD dalam pelajaran sosial, kita sudah diajarkan bahwa teori mengenai litasan planet-planet di galaksi Bima Sakti terus berkembang; dari Antroposentris (manusia sebagai pusatnya) hingga heliosentris (matahari sebagai pusatnya) dan akhir-akhir ini ada yang berteori bahwa sejatinya adalah Geosentris. Bayangkan saja jika pertentangan-pertentangan tidak hidup di dalamnya, barangkali kita tidak secanggih era sekarang ini. Sejarah Eropa Barat sangat besar dan panjang untuk dituliskan. Konflik adalah suatu entitas tak berwujud yang natural adanya. Mengartikan konflik, bukan berarti menjabarkan mana yang baik dan mana yang buruk. Sebab bisa saja keduanya sama-sama baik dan sama-sama buruk, selagi itu semua hal profan, kebenaran yang relatif tentu saja dapat diakui. Contoh lainnya adalah perang, perang sejak peradaban sebelum nabi Ibrahim, Code of Hammurabi, Nicolo Machiavelli, Ibnu Khaldun sudah terjadi dan mau tidak mau dan memang harus diakui bahwa banyak kemajuan yang terlahir akibat perang. Revolution in Military Affairs atau revolusi dalam hal-hal militer baik alutsista, strategi, sampai sifat perang itu sendiri berkembang ke arah yang turut menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Salah kemajuan yang terlahir karena perang adalah mesin komputer dan internet dan tidak perlu dinafikan lagi. Dalam hal ini, bukan berarti perang harus dibentuk dan pertentangan harus diciptakan demi perkembangan umat manusia. Akan tetapi bersikap untuk bersiap diri agar dapat menerima perkembangan selanjutnya. Si vis pacem para bellum, jika ingin damai persiapkan perang. Umat manusia boleh saja melabeli Machiaveli sebagai monster yang tidak mempunyai rasa kemanusiaan atau Thomas Hobes dengan "Homo homini lupus"-nya (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya). Mengatakan mereka monster adalah wajar dan benar, namun tidak benar sepenuhnya sebab sifat alamiah dari manusia adalah sulit menerima realita yang benar-benar terjadi. Kehidupan di dunia adalah keadaan realitas yang nyata untuk hari ini selagi umat manusia masih hidup dan makan di dunia ini, kehidupan setelah dunia adalah realitas yang bersifat futuristik--tetap saja realitas. Kehidupan di dunia kerap dihiasi dengan pertentangan, selalu diisi oleh seniman-seniman yang sangat suka menggunakan warna merah pada kanvas yang berbeda-beda, hal tersebut karena manusia memerlukan konflik itu sendiri. Karena jika manusia menjadi manusia super yang diidam-idamkan Nietzsche (Übermencsh) dan dalam keadaan yang diidamkannya pula, yakni Perpetual Peace (Kedamaian Abadi) maka kehidupan dunia akan menjadi sangat menjemukan. Perpetual Peace berbicara mengenai kedamaian holistik dan hal tersebut tidak didapatkan di dunia sebab Perpetual Peace diidamkan oleh pemikiran manusia yang dicemari oleh ekspektasinya maka hal tersebut bersifat imanensi. Di saat bersamaan, manusia sangat mencintai kehidupan meski pun mereka mengetahui bahwa kehidupan di dunia selalu dihadiri oleh pertentangan sebab kehidupan tidak selalu mengenai pertentangan, di sana terdapat kemanusiaan, harapan, dll. Manusia menyukai hal-hal demikian. Apa lagi dalam hal mencintai, manusia sangat menggemari cinta meski pun mereka sangat mengerti bahwa mencintai adalah penderitaan yang bereda. Ya, because people love to be in love.
Day #53
We accept the love we think we deserve (The perks of being a wallflower) Kesamaan kita adalah perbedaan Kesamaan kita hanyalah egoisme Kesamaan kita cuma pertentangan Tapi tidak ada yang lebih kubela Tidak ada yang lebih kuterima Dari perbedaan Egoisme Dan pertentangan June 30, 2013