Mahasiswa sejatinya mengalami tahap filosofis. Tahap ini ada pada mahasiswa semester akhir yang kerjanya hanya merampungkan penelitian (beda kasus dengan lama daftar sidang karena kesiangan). Pada umumnya, mahasiswa yang sedang berada di Tahap Filosofis itu berangkat dari pernyataan yang klasik; kuliah itu gunanya untuk memanusiakan manusia atau memperbaiki hidup--atau "kuliah 7 semester belum cukup membuatku jadi manusia, baru membuatku jadi GGS (Utama, Boy Riza. 22. Semester tidak diketahui). Seiring berkembangnya pola pemikiran mahasiswa, maka berkembang pula fase filosofis itu. Sekarang, mahasiswa yang berada di Tahap Filosofis tidak sekadar untuk merenungkan kehidupan di depan buku, namun juga berstrategi. Tahap Filosofis memang secara eksplisit tidak se-filosofis dahulu, Tahap Filosofis sering dijadikan domplengan untuk sebuah pengalihan agar nasib penelitiannya tidak dibicarakan. Akan tetapi, domplengan tersebut tidak destruktif kepada para mahasiswa filosofis yang masih ngencuk di kampus. Setelah dipikir-pikir, Tahap Filosofis itu jatuh pada Tahap Posmodernisme. Seperti definisi Posmodernisme pada umumnya yang menekankan pada sebuah pembaharuan, mahasiswa Posmodernisme memilih untuk berada di fase tersebut dikarenakan visi, misi, dsb dkk dll. Mahasiswa Posmodernisme biasanya lebih mempunyai pemikiran filosofis yang lebih tinggi terkait "mengapa tidak cepat wisuda?" Cepatnya wisuda, bagi para Mahasiswa Posmodernis, sejatinya bukan suatu 'checkpoint' lagi titik loncatan keberhasilan hidup. Wisuda adalah syarat utama, namun Mahasiswa Posmodernis memilih untuk mengenyampingkan wisuda (hanya beberapa saat) untuk beberapa hal yang sangat urgensi. Seperti pengalaman bekerja untuk beasiswa S2, program luar negeri agar lebih mudah dapat beasiswa S2, dsb. Dengan demikian, stereotipe bahwa mahasiswa yang wisudanya kelebihan umur telah terbantahkan. Mahasiswa yang telat wisudanya, apalagi hanya telat 7 bulan, bukan berarti mahasiswa yang kosong melompong bak lutut mafia JAV Jepang. Setiap manusia (mahasiswa) mengalami pertarungan dalam hidupnya yang tidak diketahui, maka dari itu berhentilah menjadi hakim pendidikan yang berstandar durasi kuliah dan waktu wisuda. Mau bagaimanapun filosofisnya mahasiswa, wisuda tetap menjadi tujuan utamanya. Lebih cepat memang lebih baik, lebih lama itu yang dicari--asalkan bermutu. (Januari, 2016.)