Seisi kota Madinah seketika gempar seiring kabar burung yang beredar yaitu berita miring tentang Sayyidah 'Aisyah, yang diisukan memiliki skandal dengan seorang sahabat bernama Shafwan Ibn Al Mu'aththal.
Di sebuah rumah besar yang pernah menjadi tempat tinggal Rasulullah ﷺ di awal hijrah, sepasang suami istri saling berbagi resah atas merebaknya berita miring yang menimpa Sayyidah 'Aisyah.
“Wahai Ummu Ayyub,” ujar sang suami, “Andai engkau adalah ‘Aisyah, mungkinkah engkau melakukan hal itu?”
"Aku berlindung kepada Allah dari berbuat yang demikian. Sungguh aku memandang zina sebagai perbuatan yang hina dan keji. Zina adalah seburuk-buruk jalan, sesuatu yang takkan kulakukan meski ada kesempatan. Aku bukanlah orang yang suci dari dosa, tapi perkara zina adalah perbuatan yang bahkan untuk memikirkannya saja pun tak terbayangkan olehku.” Jawab Ummu Ayyub.
“Padahal ‘Aisyah itu tentu lebih baik daripada engkau dalam hal penjagaan diri. Maka demi Allah, dia pastilah suci dari semua tuduhan ini.” Timpal sang suami.
"Bagaimana denganmu, wahai Suamiku?”, Ummu Ayyub balik bertanya. “Seandainya engkau adalah Shafwan ibn Al Mu’aththal, akankah hal keji itu terjadi?”.
“Subhaanallah”, jawab Abu Ayyub. “Sehina-hinanya aku, tak pernah terbersit sedikitpun di hatiku untuk mengkhianati Rasulullah ﷺ apalagi menista keluarga beliau.”
“Dan Shafwan itu juga lebih baik daripada dirimu dalam khidmatnya kepada Rasulullah ﷺ dan keluarganya, maka lebih tak mungkin lagi jika dia melakukkan hal yang dituduhkan orang-orang kepadanya.”
“Subhaanallah. Sungguh kabar burung ini adalah sebuah kedustaan yang nyata!”, simpul sang suami.
Kelak akhirnya terbukti bahwa berita miring yang menimpa Sayyidah 'Aisyah dan Shafwan adalah sebuah fitnah yang keji.
Bahkan Allah langsung yang membersihkan nama Sayyidah 'Aisyah dengan menurunkan ayat Al Qur'an (surat An Nur ayat 11-20) sebagai bentuk pembelaan.
MasyaAllah, tidakkah kita mengambil hikmah dan pelajaran dari kehati-hatian bersikap seperti yang dicontohkan Abu Ayyub Al Anshori dan sang istri?.
“Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukmin lelaki dan perempuan tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri? Dan mengapa mereka tak berkata, ‘Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.’” (QS An Nuur: 12)
Mengapa ketika kabar burung beredar, kita diserukan untuk bersangka baik pada diri sendiri?. Karena sebelum seseorang berburuk sangka pada sesama, sejatinya dia telah membayangkan jika seandainya dia di posisi tertuduh, dia berkemungkinan melakukannya.
Maka jika tersebar kabar burung tentang keburukan seseorang, terutama orang yang kita tsiqah pada kesejatian iman & akhlaknya, yang pertama perlu diperiksa adalah diri kita. Bagaimana jika seandainya kita yang berada di posisi para tertuduh itu?. Akankah kita melakukan sesuatu yang dituduhkan?. Jika jawabannya tidak, maka berbaik sangka pada para tertuduh yang kita tsiqah dengan iman & akhlaknya, adalah lebih utama.
Jadikanlah prasangka baik kita pada diri sendiri, pangkal prasangka baik kita pada sesama.
Sibuklah mengintrospeksi diri sendiri, karena tentang diri sendirilah kelak kita akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban dihadapan-Nya.