salam mahasiswa DIGITAL BISNIS, kebayang ngga kalo dalam 3 atau 4 tahun lagi kamu punya website kaya begini? Membuatnya semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, ini kalau kamu kuliahnya di jurusan Digital Bisnis. Kuliahnya santai,.magang dianterin kerja dicariin 🤣 enak apa ngga? ya enaklah, masa ngga‼️ #ragumukinirugimunanti😁 Dapatkan bantuan biaya kuliah mandiri hingga 20.000.000 rupiah selama Ramadhan 🤣🤣 #seputarkuliah #kuliahdisinidijaminkerja #kotabandung #kotapelajar #infobandungkota #bandungkeras #bandungjuaraa #lp3ibandung #lp3itepatcepatkerja #zonamahasiswa #lp3i #beasiswakuliah #kuliahkerja #pelajarsma #pelajar #kuliahbisnis #jadimahasiswa #kuliahonline #pelajarsmk #bantuankuliah #kipkuliah2022 #mahasiswabisnis #mahasiswadigital #digitalbisnis #pelajarhitskota #infobandungraya (di Bandung Jawa Barat) https://www.instagram.com/p/CbxcCVvPacN/?utm_medium=tumblr
Apa sih Bisnis Digital dan seperti apa prospeknya? Jurusan ini akan mengajarkan untuk merancang dan menjalankan bisnis yang berbasis digital. Ilmu yang akan diperoleh adalah perpaduan dari manajemen, bisnis, teknik informatika, dan juga sistem informasi. Prospek kerja bisnis digital antara lain: 1. Social Techopreneur 2. Businees Digital Planner 3. Business Digital Developer 4. Digital Marketing Analyst 5. Data Analyst 6. UI/UX Analyst Kenapa harus belajar Bisnis Digital? 1. Prosentase 70% praktek 30% Teori. 2. Jenjang Kuliah Sarjana Terapan. 3. Tiga tahun kuliah, satu tahun penempatan magang dan kerja 4. Tersedia Surat Perjanjian Penempatan Magang dan Kerja (SPPMK) 4. Dibimbing oleh dosen Praktisi andal. 5. Biaya kuliah terjangkau. Hanya dengan cicilan 600rb-an, kamu sudah bisa kuliah di Politeknik LP3I! Jangan lewatkan kesempatan ini. Tentukan pilihan yang bijaksana untuk masa depan yang bersahaja! #seputarkuliah #infokuliah #masukkampus #anakkuliah #infokampus #mahasiswaindonesia #beasiswakuliah #mahasiswabaru #mahasiswahits #kampusindonesia #masukptn #kuliah #infosbmptn #mahasiswaakhir #semesterakhir #infoterkini #universitas #pejuangskripsi #kampuszone #mahasiswa #kampus #infoptn #sbmptn #dagelan #beasiswa #mahasiswaabadi #mahasiswacantik #viralindonesia #jurusan #lp3ipoliteknikeksis (di Bandung Ajaaaahhhh) https://www.instagram.com/p/CaYtB78PRqa/?utm_medium=tumblr
Haihaiii, akhirnya kelar juga ya mata kuliah Jurnalistik Spesialisasi ini khusunya kompartemen Gaya Hidup. Hahaa gak nyangka gua bisa satu kelompok sama kalian, Dewi Rachmanita Syiam dan Lukman Hoedi. Ditengah-tengah kurang jelasnya mata kuliah ini karena materi yang gak tahu kayak gimana dan dosen tamu yang yaaa kurang “Gaya Hidup” (iya gak ya?) kalian masih bisa diajak kerja sama untuk menuntaskan tugas.
Dalam tulisan ini gua cuma mau bilang Terima Kasih telah menerima gua jadi satu kelompok sama kalian. Terima Kasih karena buat tugas ini jadi gak repot dan menyulitkan. Terima Kasih karena saat masa-masa kritis mata kuliah lain kelompok ini masih bisa liputan ke Jakarta-Bandung-Jatinangor. Terima Kasih, Dew karena sudah memberikan ide yang ciamik buat tugas ini. Terima Kasih juga karena membuat liputan berjalan mudah karena hasil kerja kerja keras kau dan segala waktu liputan yang telah kau atur sebaik mungkin. Terima Kasih juga Lukman karena tidak ragu menjadikan gua temen sekelompok dan tetap tenang dengan proses pengerjaannya (gitu gak sih man?)
Selain Terima Kasih, gua minta maaf ya kalo memang kurang berguna di kelompok ini. Maaf juga kalo hasil tulisan gua kurang memuaskan. Maaf karena cuma bisa ngeluangin waktu aja buat liputan tapi kurang membantu. Maaf, dew karena gak bisa dapet narsum yang sesuai. Sorry, man kalo gua gak bisa bantu di hal teknis.
Di kerja tim ini gua belajar kok tentang hal baru, khususnya topik yang kita angkat. Gua jadi suka iseng-iseng baca di media online (re: tirto.id) soal topik ini. Gua juga belajar buat nerima arahan dan belajar untuk nyicil tugas ini, terutama pas liputan. Kita udah prediksi bakal bentrok dengan tugas lain jadilah kita berusaha gerak cepet untul liputan. Meski pun di akhir juga akhirnya sedikit dikesampingkan tapi akhirnya berhasil ya nuntasin tugas ini.
Jangan kapok please bekerja sama dengan gua ya, Dewi yang selalu punya ide-ide menarik dan tahu betul mencari solusi dan Lukman yang selalu sangat bisa diandalkan untuk karya-karyanya. Tetap berkawan, tetap gembira dan… Selamat berjuang di semester-semester berikutnya, semoga kalian bisa lebih mengembangkan ide-ide yang kalian suka.. SEMOGA SUKSES!!!!
-Muhammad Iqbal-
11 Juni 2017-Dibuat dengan niat tulus dari Hati :)
Semester 6 kata senior-senior sih emang penuh tantangan,drama, dan uji kesabaran. Semua itu karena ada mata kuliah yang memang menguji mahasiswanya untuk bekerja sama membuat media dalam bentuk cetak, program televisi, dan juga program radio. Nah, di tulisan ini gua mau menceritakan keluh kesah selama mengerjakan tugas itu. Fokus dari tulisan ini sih bakal lebih ke reflesksi yang isinya kritik dan saran ke rekan-rekan sekelompok sekaligus ingin menyampaikan hal-hal terkait. Gua sengaja nulis ini karena belum tahu kapan bisa kumpul secara full team.
Ok, pertama gua itu sekelompok dengan 6 orang lainnya dari hasil undian, yaitu CM, RN, RC, RP, NC, dan Y. Sejak awal terpilih saya sudah merasa pasrah, merasa sedikit pesimis, dan penuh harap dengan keputusan yang sudah ditentukan. Tadinya sempat ada perubahan kelompok karena sesuatu dan saya sempat mengajukan agar kelompok saya saja yang dipecah. Akan tetapi tidak dikabulkan, sebenarnya beruntung juga tidak dikabulkan karena kalau iya saya pasti merasa bersalah karena egois. Dari situ saya mulai memegang prinsip “Nanti di dunia kerja atau di luar juga gak akan tahu bakal kerja sama siapa aja, jadi berusahalah untuk beradapatasi”. Kemudian, dengan orang-orang yang ada mulailah saya untuk pelan-pelan menerimanya.
Sebelum cerita lebih jauh sebenarnya sempat ada dipikiran kenapa harus dibuat satu kelompok 7-8 orang? Kenapa tidak 10-12 orang saja? Itulah yang membuat saya sempat ragu dalam menyelesaikan tugas ini. Oke, lanjut cerita ke penentuan konsep, para petinggi (Pemimpin Redaksi Majalah, Produser TV, dan Program Radio), dan alur kerja pun dimulai. Di mulai dari konsep, 4 dari 7 punya konsep senada dan penuh keberagaman, 3 dari 7 terserah dan ngikut aja (2 dari 3 itu adalah orang yang punya konsep juga), 1 dari 7 punya ego terhadap konsepnya yang dia bilang “Biar gak mainstream” dan terasa berat sekali baginya untuk menerima keberagaman konsep, terutama untuk pembuatan majalah (cetak). Hingga kami mengiyakan konsepnya dan berusaha dengan yang lain untuk sama-sama membuat ini sesuai dengan standardisasinya
Kemudian, untuk program tv saya punya ego sendiri terhadap konsep. 5 dari 7 setuju dengan menambahkan hal-hal yang dapat saya terima. Satu orang lainnya punya konsep yang (bisa dibilang) sudah dimiliki oleh kelompok lain. Kelemahan saya adalah merasa tidak enak apabila ada yang tidak sreg dengan situasi. Sampai beberapa hari rapat akhirnya semua sepakat dengan konsep program yang dibuat bersama. Hanya saja di awal ini kami bermasalah dengan penamaan program. Di mana lagi-lagi satu orang ingin nama program yang “tidak mainstream”. Kalau saja kelompok ini menganut sistem vote mungkin akan mudah, tapi “katanya” lebih baik dibicarakan sampai semua setuju. hft.
Selanjutnya, adalah program radio. Dalam pembuatan program radio kami semua bingung dengan konsepnya yang harus menyelaraskan dengan ketentuan, sehingga kami pasrah dan bisa dikatakan sedikit mengesampingkan program radio. Hingga satu orang akhirnya menawarkan konsep dan tanpa pikir panjang kami semua setuju serta percaya dengannya. Begitulah awal mula yang… (silakan pikirkan sendiri)
Proses yang ternyata…
Masuk ke hampir menuju eksekusi, kelompok saya ini demen banget rapat dengan pembahasan yang itu lagi-lagi. Terutama permasalahan konsep. Meski pun sudah ditetapkan masih saja ada ada lagi yang sudah lalu dibahas, saat itu pikiran positif saya mengatakan “Ini untuk hasil yang lebih baik kok!” ya tapi kalo kelamaan gak disepakati kan buang-buang waktu banget. Sebelum ada sesuatu yang membuat saya sangat merasa bersalah, saya akan menceritakan bagaimana jajaran redaksi dibentuk.
Dimulai dari adanya konsep, sudah dibicarakan siapa yang akan menjadi Pemimpin Redaksi, Produser TV, dan Produser Radio. Dengan konsep majalah yang satu orang tadi canangkan dia malah ingin menjadi Produser TV dan menunjuk saya untuk menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) Majalah, tentu saja sekelompok sangat menyayangkan, kenapa tidak dia saja yang jadi pemred. Untuk Produser TV tentu saja saya sempat ditunjuk karena saya memang menjadi pemantik untuk konsep tv. Saya sudah bilang tidak mau tapi terus diyakinkan oleh rekan sekelompok. Jika memang saya harus menjadi Produser TV saya meminta rekan-rekan sekelompok untuk menanyakan dulu perihal kinerja saya di berbagai hal terutama penugasan kepada teman-teman lainnya
Satu dari 7 benar-benar melakukannya dan hasilnya cukup menguatkan saya untuk beralasan tidak mau menjadi produser tv. Ya simpulan atau hasil yang dia dapat dari beberapa orang yang dia tanya, jawabannya adalah saya itu lebih banyak negatifnya daripada positifnya. Udah itu aja. Saya mengetahui itu, maka saya menolak untuk jadi produser tv sejak awal dan akhirnya RC bersedia mengambil posisi itu. Setelah permasalahan produser tv, produser radio pun terpilih begitu saja karena memang tak ada yang mampu selain RN.
Kemudian, dalam proses menuju eksekusi ini terjadi suatu insiden di mana mulut saya ini tidak bisa dikontrol lagi. Bermula saat satu orang sangat “mengkritisi” program tv, ia selalu mencari celah kekurangan yang ada. Meski awalnya kami menanggapi dan mencari solusi sama-sama akhirnya terlontar pertanyaan saya terhadapnya, “menurut kamu baiknya bagaimana?” dia terdiam tapi saat yang lain memberikan pandangan dia selalu “mengkritisi”, padahal sang produser dan saya pribadi menganggap program kita itu sudah pas alias tinggal mematangkan isu.
Saya lupa bagaimana persisnya kenapa pernyataan yang saya ucapkan ini malah saya sendiri merasa sangat bersalah setelah mengatakannya, didasari sikapnya yang selalu “mengkritisi” tanpa membantu mencari solusi akhirnya pernyataan ini terlontar begitu saja dari mulut saya. Didasari oleh emosi yang memuncak saya mengatakan “Sejujurnya konsep majalah lu itu jelek, tapi kita semua selalu cari cara supaya itu tuh jadi bagus, bukan komentar doang” saat itu juga saya merasa sangaaaat bodoh dan sangat merasa bersalah karena apa yang saya lakukan itu keterlaluan (saya mengakui itu), hingga saya berusaha menutupinya dengan mengatakan “Ya cara lu nyari celah kekurangan itu bagus. Kita jadi ada usaha buat bikin ini semakin bagus, tapi kalo gitu terus kan bakal buang-buang waktu rapat,” dengan tensi emosi yang sudah mereda saya mengatakan hal itu. Rapat pun berlanjut.. saat itu. Ya namanya juga proses ternyataa… seperti itulah
9 Juni 2017. Sehari setelah penugasan benar-benar tuntas!