Asas Retroaktif, 1 dari 3
“Kamu tuh udah semester 4 mas, coba liat rapormu. Bisa nggak kira-kira keterima di SNMPTN?” begitu kira-kira kalimat yang seringkali diulang oleh Ibuk di rumah. Kalau diliat-liat, meskipun rerata nilaiku selalu diatas 8, tapi grafik nilaiku labil sekali. Kadang nilainya megah sekali untuk dipandang, kadang memalukan sekali bahkan untuk diintip. Wajar memang, dari SMP hingga SMA, aku ndak terlalu fokus akademis. Di SMP ada OSIS beserta latihan kepemimpinannya, di SMA ada Paskib beserta diklat “seru”nya. Di SMP ada program tahfidz/menghafal Qur’an, di SMA ada latihan rutin futsal. Heu.
“Selama 2 semester kedepan, kita akan ada Study Tour ya nak anak, ke kampus yang ada di Jogja, Semarang, Malang, dan Surabaya. Persiapkan yo!” kata Wali Kelasku. Yes, jalan-jalan! Malioboro, Kopi Areng, Simpang Lima, aku padamu!
Hilih. Emang iya? Ah mbujuk. Itu kataku, bahkan sebelum mendengar sosialisasi di 2 kampus yang ada di Jateng itu. Ya jadilah aku mencari tempat strategis itu, di belakang, dan tidur kalau bisa. Udahlah, 3 hari ini, emang aku niatkan untuk jalan-jalan kok, bukan buat yang lain, apalagi cari kampus.
“Sido milih kampus seng ndi mas? Apik ta kampus seng nang Jogja karo Semarang? Tertarik ora?” Sek sek bu. Kan aku udah punya pilihan jurusan dan kampus. Itu lho, Hubungan Internasional di kampus Malang. Masio udah ke Jogja atau Semarang, ya sregnya kesitu. Diucapkan? Mbatin dulu aja. Takutnya Ibuk malah banyak pikiran sebelum waktunya. Jangan.
"Saya sangat grogi untuk berbicara didepan sini Pak, kampus ini merupakan kampus impian saya" ucapku saat itu pada studi banding yang dilakukan oleh sekolahku di suatu kampus di Malang. Pede sudah mengalahkan urat maluku. Sugesti, aku bilang ke diri sendiri. Semua orang butuh itu, aku pikir. Jika 1+1 pasti 2, maka Fatchur+SNM/SBM pasti HI Malang. Ah bodo amat, toh BK bilang kalau milih jurusan itu, kemungkinan besar aku keterima. Dadah SBMPTN, welkam SNMPTN!
“Nyoh dek, coba pake jakunku, rasakan UI-nya” kata senior SMA ku yang sudah berkuliah di UI saat itu. Yo tak tolak lah! Aku udah bilang, lek HI Malang ya udah disana aja, titik. Tapi eh tapi, kok ada yang ngena ya, hmm. Mereka bilang UI itu biaya pendidikannya murah, banyak fasilitasnya, banyak beasiswanya, dan lainnya. Sepanjang perjalanan, aku bengong aja di motor. Apa benar aku milih HI Malang karena pilihanku? Atau karena tetanggaku berada di jurusan itu juga.
Dasar aku, kini aku mulai diujung rasa terperdaya oleh bujuk rayu orang-orang tua yang mengenakan jaket kuning itu. Bukan itu yang aku gelisahkan, terjangkau biaya atau kemudahan akses. Bukan, bukan itu. Kuningnya itu lho, itu yang aku gemas. Bukannya akan lebih epic, jika lautan biru di sekolahku, dipecah oleh yang kuning-kuning begitu? Ah dasar aku, yang tidak suka mengikuti hal-hal yang dibiasakan.
“Gak, gak. Wes ta mas, jangan jauh-jauh kuliahnya” ya kira begitu kunciannya Ibuk. Aku coba agak maksa, kalo aku pengen jauh kuliahnya, ya di UI gitu. Ibuk nolak, hmm.
“Yawes gini aja, Ibuk bolehkan kamu milih UI di SNMPTN tapi kalo ga keterima, Ibuk gabolehin lagi kamu milih UI di SBMPTN atau ikut SIMAK” kata-kata itu tajam sekali. Wadidaw dibalik wadidaw, ternyata sombong pula aku dulu. Aku bilang oke, toh aku pernah jadi ketua organisasi dua kali, dua kali bos. Yakali kan ga keterima.
“MAAF ANDA BELUM LOLOS DALAM SNMPTN 2015” tau gak sih arti dari kata-kata itu buat aku? Ya selamat tinggal UI! Ibaratnya, kamu mau masak telor, telornya kamu pecahin, nah yang keluar tuh jengkol, bukan kuning atau putih telor. Aku ngomong ke diri sendiri, gabisa gabisa, mau gak mau aku harus ikut SIMAK. Ketika aku ngomong itu ke Ibuk, jawabnya simpel. “Yo ndaftar aja, paling ya ga keterima”, ngh.
“Ya selamat ya anak-anak, kalian semua lulus dengan nilai memuaskan. Akan lebih baik kalau Skripsi kalian segera dibuat jurnal.” Oh wow, alhamdulillaaah. Setelah drama skripsi yang makin dramatis di akhir-akhir, akhirnya aku lulus juga. Jika sok-sokan norak flashback, keterima jurusan top Universitas di Surabaya, membuktikan bahwa aku bisa diterima di jurusan favorit di UI, dan berkompromi dengan ortu tentang keputusanku, rasanya sangat singkat sekali.
Hikmah yang sok-sokan aku petik adalah mimpilah yang tinggi, agar usaha-usahamu tinggi pula. Jikalau, ternyata yang kamu dapatkan tidak sesuai, maka yakinlah bahwa Allah SWT tidak akan mengkhianati usaha-usaha kamu.