“Akhir – akhir ini kita sering liat acara atau gerakan bertemakan pemberdayaan perempuan, tapi kok gaada/jarang ya yang mengangkat soal pemberdayaan laki – laki.”
Sebaris chat yang masuk di sebuah grup WA itu membuat gue merenung. Di dalamnya juga disertakan sebuah link yang mengarah ke sebuah laman postingan instagram. Tanpa pikir panjang gue langsung menelusuri akun tersebut dengan seksama dan senangnya karena rasanya banyak pemikiran gue yang tersuarakan lewat berbagai postingannya. Sebuah postingan instagram dari akun yang membawakan sebuah kampanye yang berbeda dari yang lainya. Jika biasanya kita banyak disodori mengenai tema-tema relasi gender dan relasi kuasa, maka akun dan kampanye yang dibawa di sini adalah soal relasi serasi. Kalau dari yang gue tangkap di sini, relasi serasi dalam hal ini sendiri merupakan sebuah sudut pandang hubungan laki – laki dan perempuan yang didasarkan atas optimalisasi peran masing – masing yang kemudian membentuk tatanan kehidupan yang harmonis.
Kita sepakat bahwa Tuhan menciptakan laki – laki dan perempuan setara. Setara namun tentu tidak sama. Ada peran dan tugas masing – masing dari keduanya, yang kemudian tergambarkan dari perbedaan penciptaan laki – laki dan perempuan bahkan dalam tingkat bio molekuler, hormonal hingga sistem organ dan fungsional. Perbedaan ini merupakan kodrat yang sejatinya melekat erat sejak manusia itu dilahirkan. Kodrat yang berarti hukum alam dari kekuasaan Tuhan yang kemudian tidak bisa ditentang oleh manusia. Misalnya Allah menciptakan perempuan dengan rahim dan ovarium, kemudian menjadi kodrat perempuan adalah untuk bisa hamil dalam proses regenerasi manusia. Laki – laki tidak diciptakan memiliki rahim tapi memiliki testis yang berfungsi memproduksi sperma untuk membuahi ovum dalam rahim. Di sini kita bisa sadari dengan jelas bahwa perempuan dan laki – laki memiliki peran dan fungsinya masing – masing yang seharusnya diselaraskan agar bisa saling melengkapi dan terbentuk tatanan kehidupan yang seharusnya.
Hari ini kita melihat banyak sekali konflik akibat dari perbedaan peran yang bersifat budaya antara laki – laki dan perempuan. Terdapat sebuah jurang yang diciptakan oleh buah pemikiran manusia sendiri. Pelabelan sepihak soal peran dimana perempuan harus bisa masak, dan laki – laki harus tegar dan tidak boleh lemah apalagi menangis. Tentu banyak yang tidak setuju, termasuk gue karena ini adalah batasan atau standar yang terlalu dibuat – buat dan gaada kaitannya dengan kodrat. Bukan hendak membela diri karena gabisa masak ya (wkwk), tapi menurut gue masak bukan standar alamiah atau kodrat yang hanya melekat bagi perempuan. Kenapa? Karena sejatinya makan adalah kebutuhan dasar hidup baik bagi laki – laki maupun perempuan, maka seharusnya masak (menyediakan makanan yang layak) adalah sebuah skill hidup yang juga harus dimiliki baik oleh laki - laki maupun perempuan. Apalagi kita bisa kita lihat sekarang bahwa pekerjaan chef lebih banyak dipegang oleh laki – laki. Begitupun dengan menangis. Kenapa laki – laki disudutkan jika menangis padahal secara biologis laki – laki dan perempuan sama-sama diciptakan dengan sistem sekresi air mata yang berarti memang dibutuhkan oleh keduanya. Menangis adalah bentuk ekspresi emosi yang tidak membedakan ia perempuan atau laki-laki. Tuhan menciptakan perempuan dan laki – laki bisa dan boleh menangis, tapi kenapa justru kita sebagai manusia yang jadi melarang?
Banyaknya gerakan kemudian yang mengangkat soal permasalahan ini, namun makin ke sini gue rasa jadinya gerakannya melampui permasalahan yang ada. Kini gerakan – gerakan yang ada bukan hanya hendak menghilangkan pembagian peran secara budaya tadi tapi juga hal – hal yang melekat sebagai kodrat. Misalnya gerakan perempuan menolak hamil tanpa alasan yang dibenarkan atau bahkan hal – hal seperti merubah jenis kelamin. Menurut gue tentu ini menyalahi kehendak Tuhan, yang gue lihat dalam kacamata seorang theist. Tentu pandangan ini gabisa disamaratakan dengan orang – orang yang memandang hal ini dengan kacamata yang berbeda, misalnya dengan mereka yang bahkan gapercaya dengan Tuhan apalagi agama. Tapi jangan sampai orang – orang ini ikut mempengaruhi pemahaman dari orang – orang yang secara prinsip keagamaan menentang hal tersebut. Maka kepada sesama muslim gaada salahnya dong gue mengingatkan untuk melihat lewat sudut pandang yang seharusnya?
Sebenarnya sudah sering gue membahas masalah ini, tapi sebuah chat itu hari ini membangunkan lagi keresahan untuk tidak hanya diam. Dan sejujurnya ada banyak hal yang ingin sekali gue bahas tapi akan sangat amat panjang ya rasanya dan harus dipetakan secara khusus tiap poin bahasannya. Tapi intinya sebagai seorang muslim (mungkin juga dengan pemeluk agama lain yang di agamanya mengajarkan hal yang serupa) pemahaman soal relasi serasi ini harus bareng – bareng dipropagandakan dan ditegakan. Karena semua hukum dan kodrat yang diamanahkan Tuhan kepada kita pasti ada maksud dan untuk kemaslahatan kehidupan kita sendiri sebagai manusia yang mana jika tidak diindahkan dampaknya juga akan merugikan manusia itu sendiri. Aelah udahlah jadi panjang banget gini nulisnya wkwk karena besok gue mau kerja klinik kita sudahi saja dulu, mohon doanya supaya kerja Prosto gue besok lancar yak!
Oiya izinkan gue menutup dengan kutipan yang juga gue liat di akun instagramnya @serasi.keun yang kemudian gue tambahkan sedikit :
“Kalau makai kaca mata hitam, sekitar kita akan berwarna apa? Yap, hitam.
Kalau makai kaca mata coklat, sekitar kita akan berwarna apa? Coklat dong.
Kacamata yang kita gunakan sangat memengaruhi penilaian kita, tidak terkecuali untuk relasi antar gender.
Salah satu kaca mata yang dapat digunakan adalah islamic worldview. Dan seharusnya sebagai seorang muslim kacamata ini jugalah yang harusnya kita gunakan.”