Pasti berat rasanya dihantui segala perasaan yang saat ini kamu simpan. Alih-alih menceritakannya kepada orang lain, kamu merasa semua orang sudah penuh dengan permasalahannya sendiri.
Kamu takut, orang-orang menjadikan keluhanmu sebagai tanda kelemahanmu. Padahal, keluhan tak pernah menjadi abadi, bukankah kamu hanya ingin didengarkan tanpa bermaksud merendahkan dan membatasi diri sendiri?
kamu hanya ingin dibantu sebab ada rasa yang sudah lama ingin kamu lepas, sesekali rasa itu ingin kamu hilangkan. Menghilangkan segala rasa yang ternyata sudah sejauh itu meracunimu. Meski tidak jarang, rasa itu mengikatmu lebih kencang setelah berusaha kamu lepas, hampir saja membuatmu tak bernafas.
Menjadi perempuan perasa memang tidaklah mudah. kadang, kamu ada di masa-masa sesak karena seringnya segala perasaan datang bersamaan. Sedangkan, kamu ketakutan untuk menceritakannya, karena tidak semua manusia akan menjadi teman selamanya.
Meski sulit, aku harap kamu sudah menemukan cara agar segala perasaan itu bisa kamu kendalikan. Kamu bisa sembuh tanpa perlu mencari orang lain untuk mendengarkan keperihanmu. Telinga tanpa menyertakan hati, kadang hanya sampai pada akal yang sulit memahami perasaanmu.
Percayalah, menjadi perempuan perasa bukanlah sesuatu yang lemah. Kamu bisa tumbuh kuat dengan membawa kelembutan yang sedikit orang memilikinya.