Kata siapa, memberi selalu lebih baik daripada menerima?
Padahal ketika memberi, kita 'hanya' bisa memberikan apa yang kita miliki. Sementara ketika menerima, kita menerima 'apa pun' yang orang lain berikan dengan senang hati.
Membaca tulisan seorang teman di feed instagram beberapa waktu lalu, membuatku speechless beberapa saat.
Hari ini, mungkin aku dan kamu sama-sama berlomba ingin memberikan yang terbaik. Berusaha mati-matian mengeluarkan seluruh kemampuan, supaya bisa memberikan yang terbaik sesuai harapan.
Kita jadi manusia yang enggan menerima. Rasanya terlalu menyedihkan karena selalu terus-menerus diberi. Sungkan, seperti terus-menerus disuapi. Rasanya tidak bisa memberikan sedikit saja kontribusi. Kita jadi merasa lemah, karena terlalu banyak menerima. Ego merasa kalah, karena tidak mampu memberi lebih banyak.
Tapi pernahkah, kita berpikir bahwa menerima itu juga sama baiknya dengan memberi?
Coba pikirkan, ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain. Apa yang kita harapkan?
Tentu, kita ingin pemberian kita adalah yang terbaik bagi orang yang kita beri, bukan? Kita ingin, apa yang kita miliki kemudian menjadi sesuatu yang bernilai manfaat, diterima dengan senang hati oleh sesiapa pun yang menerimanya. Lebih maupun kurangnya.
Jika begitu, bukankah menerima dengan senang hati juga adalah bagian dari kebaikan?
Jadi, kalau hari ini kita sama-sama banyak menerima, tidak mengapa. Bukan berarti itu sia-sia dan seakan kita tidak mampu berbuat apa-apa. Tidak perlu ragu untuk mengucapkan terimakasih lebih banyak. Bukankah berarti kita juga belajar untuk jadi lebih bersyukur dengan menerima?
Dengan menerima, kita belajar untuk melapangkan hati. Ada ruang-ruang diri yang tak selalu harus dipenuhi sendiri. Ada kalanya, kita butuh kehadiran orang lain untuk saling mengisi. Sehingga hidup kita beranjak menjadi lebih seimbang: bijak saat memberi, tulus saat menerima.
Sejatinya, penerimaan yang tulus itu juga pemberian. Saat kita menerima, kita belajar melapangkan hati lebih luas lagi. Karena sungguh tidak mudah, menerima sesuatu yang belum tentu sama persis dengan kehendak diri kita.
Jadi.. besok-besok, kusarankan aku dan kamu bisa sama-sama melihat lebih dekat. Lebih dekat lagi dan perlahan merenungi.
Tidakkah saat menerima, ada rasa percaya yang kita berikan?
Jadi, menerima juga merupakan bagian dari kebaikan, bukan?