SuratAndin #30: Ditulis pada Buku Halaman Terakhir.
Pernah cinta sama seseorang.
Yang dengannya aku ingin selalu berjuang
Dan selalu ingin tidak punya cela di hadapannya. (Walaupun sudah tahu manusia tidak ada yang sempurna).
Dulu, aku dan dia selalu berjalan beriringan.
Selalu seimbang kiri dan kanan.
Walau tidak dengan pundaknya, lebih pegal pundak kirinya ketimbang sebelah kanan.
Karena aku selalu menopang dagu dan rasa aman di sana.
Lama kelamaan dia suka berjalan ngebut.
Sering sekali mendahuluiku.
Aku tertinggal di belakangnya.
Dan dia jarang sekali menoleh.
Sekalinya menoleh malah disambung dengan bentakan.
Padahal sejak awal aku menyayanginya dia tidak pernah kasar.
Tetapi seiring aku, dia, dan waktu merangkak maju, watak barunya itu suka pamer kepadaku.
Aku dan dia tidak lagi seimbang.
Di matanya aku seperti banyak cela.
Perjuanganku dianggap angin lalu.
Dia sudah jauh berubah.
Sampai hati dia berucap “aku tidak punya rasa lagi. Dan aku berani pastikan sampai kapan pun aku tidak akan kembali”.
Heran.
Santai sekali gayanya mengucap demikian.
Dan bodohnya, sampai hari ini aku masih suka menangis saat kata-kata itu terngiang.
Oh iya.
Belakangan kuketahui, itu disebabkan kehadiran satu orang.
Wanita lain.












