Hai Ga, anak perempuan yang bertumbuh menjadi dewasa bersamaku.
Pemilik bangku dan meja belajar di kelas yang sama denganku.
Manusia yang telinganya sering kupinjam untuk menampung keluh dan tangis.
Pemilik rumah yang meminjamkan agar seperti rumahku, nyaris selama 2 tahun.
Pemilik tangan handal dalam menyelamatkan perut yang sering berteriak.
Yang uang sakunya sering sekali jadi tambahan untuk membeli pulsa.
Ga, perempuan yang dulu kukenal kuat dan sangat rapuh secara bersamaan.
Selamat menempuh salah satu mimpi indahmu. Cerita konyol dan andai-andai saat remaja kita telah berhasil diraih.
Selamat memakai cincin di jari manis yang aku pun penasaran bagaimana perasaan mendebarkan saat menerimanya.
Terima kasih Ga, telah berhasil membahagiakan diri sendiri, dan mama.
Terima kasih Ga, telah bertemu yang bisa mendampingi.
Ada haru dan lega, aku melepasmu.
Ga, tidak satu dua tengkar dan adu argumen ditengah kita.
Tidak satu dua ucap kasar dan saling serang dalam waktu yang tidak begitu panjang itu. Namun hal di atas tidak menjadikan do'a baik untukmu surut.
Ga, ada sedih yang sulit dijelaskan.
Terakhir kali, hal buruk berhasil merobohkan tembok di antara kita. Berhasil membuat kita terpisah tanpa ada lagi sapa.
Hingga hari ini, di hari pernikahanmu, musim di hatiku dari pagi tadi tidak kunjung membaik. Sesal dan sedu yang sebisanya kubalut tawa mendengar kabar pernikahanmu.
Tidak bisa mendampingi dan menghadiri acara penting di hidupmu adalah sesal.
Tidak memberi ucapan dan peluk untuk hari ini adalah ketidakwajaran.
Ga, selamat melangkah menuju hal baik, ya.
Telah menemukan pria yang memang seharusnya kamu dampingi. Menemukan laki-laki lain selain papa di hidupmu.
Ga, selamat berjuang dan bertumbuh untuk hidup barumu.
Semoga keluarga yang kalian jalin menjadi keluarga yang selalu dipeluk hal-hal baik.
Hari baikmu adalah hari baikku juga. Hari baik kawan-kawan yang lain.
Dengan kesedihan dan bahagia mendalam, selamat menikah sahabatku, Olga Putri Alwin.