Final Chapter : make it undone, done. Ini tulisan terakhirku. Awalnya, akun yg kau baca ini, kubuat untuk menampung segala rasa Yang tak kan sampai lagi kepadamu Kukira, aku bisa konsisten menjadi pecintamu dalam diam Tapi ternyata.. Aku pun ingkar janji Dan aku belajar darimu perihal itu Sudah berapa kali maaf-maaf ku sebarkan, tapi matamu terlalu buta Sudah tak terhitung bagaimana macam usaha yang kulakukan, demi memperbaiki ke-kita-an kita, Tapi nuranimu terlampau gegabah berkelana Agaknya ini memang pilihanmu Bersama dia, selamanya Dan tak lagi melihat diriku, bagian yang pernah 'ingin' ada, selama kurun itu.. Kalau ku teruskan mencari tahu Siapa dia, siapa mereka Aku yakin Tuhan membantuku Hingga di titik terakhir, kebenaran terungkap Karena kau tahu, mudah saja bagiku Orang disekitarnya, aku pun sudah banyak tahu Namun aku tidak gila. Aku yg kau anggap diluar nalar ternyata masih lebih waras dari ucapanmu tempo hari, bukan? Hahahaha. Pikirlah sebelum berbicara, mungkin kau merefleksikan dirimu sendiri saat itu Insecure, takut cintanya mati sebelum berdiri Berapa usiamu? Kekanakanmu kini membuat aku lupa, kau pernah menjadi laki-laki bersahaja di mataku Menjadi yang mature Lalu sekejap saja kau turuti semua kata hati Hingga membuatmu jatuh dalam jalinan yang tidak lebih baik daripada jalinan kita lalu. Oh, salah. Lebih baik kurasa. Ada restu ibundamu didalamnya. maha kuasa atas segalamu Pasti kan bahagia Pasti kan baik jadinya Padahal bila ku tanyakan, siapa yang sanggup memberi jaminan? Kau semakin mahir melawak yang tiada pernah berakhir Aha! Kau akan mengatakan aku mengiri pada pilihanmu Kau akan merasa yang bukan-bukan tentangku Kebiasaanmu. Yang baru kentara sekarang Padahal tlah mengakar kau lakukan itu padaku bertahun-tahun Nanti kau akan tau nikmatnya cinta buta Tenang saja Asal kau cintai dia dengan kata hatimu Kau pinggirkan semua hal yang lebih penting, untuk menyenangkan perihal hatimu bersama dia Dan surga serasa ada di sekitarmu ! Apa? Kau bilang aku sok tahu? Hei, hei, hei... Aku sudah melalui tahap dimana kau baru memulainya saat ini Aku sudah rasakan getir manisnya mencintai tanpa banyak berfikir Mencintai dengan hanya berbekal keyakinan saja Mencintai dengan senantiasa mendamba kenyamanan dan keamanan saat membayangkan aku ada bersama dia yang kucinta Mencintai dengan.... tidak mencari tahu alasan mengapa bisa bertemu dan saling mencinta Aku sudah tahu rasanya bahkan sebelum kau cakap merasakan bagaimana dicintai seseorang begitu bodoh dan naifnya Itulah cinta. Kau kurang pengalaman dalam mencintai Wajar saja caramu menyakiti seperti ini Kau tidak bisa dikualifikasikan denganku, kalau kau pun tidak bersedia Aku bisa sabar seperti itu menghadapimu, bukan karena aku cinta Tapi karena aku paham. Menetapkan pilihan tidak cukup hanya dengan cinta Maka aku belajar, menjadi kawan untukmu. Samsak yang selalu bisa kau gunakan untuk pelampiasan atau melengkapi emosi dari pribadimu, aku tahu itu. Aku, terlalu dini berbakti kepadamu Harapan yang prematur kepadamu, kelak kuyakini sebagai suami Kulakukan semua untuk memenuhi hak mu dari perempuan yang ada disisimu Tapi tak banyak kewajibanmu yang tertagihkan olehku, karena aku penuh maklum padamu Seharusnya itu bisa menjadi kenangan indah bagimu. Pernah ada yang mengistrikan diri kepadamu, tanpa susah payah kau menebus ku di hadapan ayahku dalam bai'at cintamu "Pernikahan bayangan" kita hanya mampu hingga 10 tahun berjalan. Sudah? Cukupkah semua rasaku yg kau ingin tahu? Saat ini aku berusaha sekuat tenaga Membunuhmu dalam rasa Bila kau hanya mampu menggantikan ku lantas berharap perlahan melupakanku, aku lebih kriminal darimu sekarang. Aku membunuhmu. I did, done. Kau adalah orang lain yang mirip saja dari luaran, dengan kekasihku yang dulu Aku tak gentar bila bertemu, karena sorot matamu bukan sorot mata ariesku. Tidak mampu membuatku tenggelam Bila kau temukan suatu saat aku masih menanyakanmu perihal sesuatu, atau menyebutmu dimana saja kau merasa tersebutkan olehku Ketahuilah, aku hanya sedang rindu. Rindu saja. Tidak lebih Kau tak perlu hadir, kau siapa? Kekasihku dulu memang penuh teka-teki, bahkan ambigu. Tapi aku mampu dan mau mengerti akannya. Namun bila kemudian yang datang adalah engkau, aku menyerah Aku sudah tak mengenal lagi siapa Herwanda aries satrio saat ini. Chapter ini, adalah milik kekasihku yang hilang. Dan lalu kuhadirkan kembali, dan aku memilih untuk membunuhnya. Ini adalah chapter kelam dalam buku ku. Aku memang masih buku yang sama Masih menulis Masih berkisah Masih berpuisi Aku hanya sedang mencari sosok muse ku yang baru Karena muse ku sebelumnya, tidak cukup puas dengan royalti yang kubayarkan, maka hengkang lah dia Bila kau tanyakan masihkah ada cinta di hatiku Masih. Dan selanjutnya aku tak tahu harus bicara apa Maka biar saja begini Bila kau memutuskan lari, larilah sekencangnya. Jangan kembali. Tolong. Aku tidak tahu harus berbuat apa bila kau kembali Mungkin saja, aku belum selesai menata hati. Jangan kembali, kau sudah ku bunuh. Harusnya kau mati. ... Surabaya, terima kasih sudah mengajariku kekejaman. Berkatmu aku tahu, tak seharusnya aku menjadi orang baik yang lugu dan bodoh seperti ini. Aku milik Tuhanku saat ini. Maka bila kau menemukan getar kepadaku, temukan Dia dulu.. I hope...