Dari Tontonan
Hari ini berlalu seperti hari-hari biasanya, tadi pagi kesiangan, siang hari dilalui dengan malas-malasan, dan sore harinya menonton, ada beberapa tontonan yang membuat aku menangis hingga pusing. Tulisan ini pun aku ketik ketika aku mem-pause tontonan itu dalam keadaan menangis.
Di sana diceritakan tentang orang tua yang jahat terhadap anaknya, tidak berlaku adil, dan selalu merasa tidak bersalah atas semua yang dilkaukannya. Aku membaca komentar di bawahnya, ternyata banyak sekali yang merasakan berada diposisi yang sama dengan “anak di dalam cerita itu. Aku pun sama, merasa, bahkan lebih dalam daripada si tokoh tersebut. Sakit? Pasti. Bahkan selalu.
Sekarang, 24 tahun sudah aku hidup. Tidak sekalipun, tidak sedetikpun, aku merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Tidak pernah sekalipun aku melihat beliau tersenyum kepadaku. Terkadang aku iri, kepada orang lain, bahkan kepada adikku sendiri. Dia bebas untuk melakukan apapun di rumah ini. Dia bebas untuk bercerita, mengeluh, bahkan membentak sekalipun. Bahkan ketika dia melakukan kesalahan, orang tuaku yang akan tetap mendatangi adikku duluan, seolah tersirat permintaan maaf. Tapi, ketika aku yang melakukan kesalahan sekecil apapun, aku akan didiamkan berhari-hari bahkan berbulan-bulan.
Sering aku berpikir, apa salahku? Apa karena aku terlahir tidak cantik? Apa aku ketika kecil sering sakit-sakitan sampai menghabiskan uang kalian? Apa memang aku ini beban buat kalian? Dari kecil aku sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman-temanku. Apa kalian tau? Sakit rasanya. Tapi aku cuma bisa memendam sendiri. Semua perkataan mereka masih bisa aku dengar sampai sekarang. Tidak ada orang yang bisa aku anggap tempat untuk pulang, aku kecil cuma bisa menangis dalam doa. Aku kecil selalu belajar bahwa, ketika dizolimi, berdoalah hal-hal baik untuk diri sendiri. Karena insyaAllah doa itu tidak tertolak.
Kini sedang dalam pandemi, sudah berbulan-bulan aku berusaha tidak ikut makan di rumah. Aku tidak akan memberatkan kalian lagi. Aku tidak akan meminta uang, makan, atau apapun lagi. Sabarlah, sebentar lagi aku juga tidak akan membebani kalian dengan tetap tinggal di rumah ini. Dulu aku berniat untuk pergi saja dari hidup ini. Aku bahkan sudah pernah hampir memutus nadiku dengan menggunakan pisau. Tapi Allah sangat baik. Ia menyadarkanku dengan membuatku bertanya kedapa diri sendiri. Apa aku sudah pernah merasakan bahagia dalam hidup sampai aku berani untuk melakukan ini? Akhirnya aku urungkan niatku. Mulai detik itu aku bertekad, akan membahagiakan diri sendiri, dan tidak akan bergantung kepada orang lain lagi termasuk orang tua sendiri. Aku hanya akan bergantung dan meminta pertolongan kepada Allah.
Semenjak itu aku selalu berusaha untuk selalu berbuat baik kepada orang lain, dihati kecilku masih berharap kalau orang-orang yang aku perlakukan dengan baik, orang-orang yang selalu aku tolong, nantinya akan membantu aku ketika aku dalam keadaan yang juga butuh pertolongan. Karena memang, tidak bisa aku pungkiri, aku tetap butuh orang lain di dunia ini, walapun hanya sebatas meminjam telinga.
- Pekanbaru, 30 September 2020
















