Berhenti
Aku pernah berhenti beberapa kali, berhenti yang bukan untuk sekadar mengambil jeda seperti biasanya. Berhenti yang rasanya jauh lebih dalam, dan juga terasa begitu lama.
Berhenti yang membuat pikiranku tidak sedang berada pada tempatnya. Raga di satu tempat, namun pikiran memilih untuk berjalan ke tempat lainnya. Beberapa terasa asing, namun ada juga yang rasanya cukup aku kenali, seakan-akan pernah memijakkan kaki di sana.
Kemarin, aku memilih berhenti untuk kesekian kalinya. Berhenti karena seakan sedang menemui pagar yang tinggi. Tidak ada seorangpun yang lewat, sehingga aku tidak bisa bertanya apa yang ada di baliknya. Tidak ada celah ataupun lubang yang bisa aku intip, juga tidak ada tangga yang bisa untuk aku panjat.
Aku berulang kali melewati jalan yang sama, jalan yang aku paham betul dimana rusak dan beceknya. Tapi kali ini berbeda. Jalan yang kulewati tiba-tiba menjadi sepi, lengkap dengan pagar tinggi yang entah sejak kapan ia berdiri.
Jam tanganku mulai berbunyi, menandakan waktu berhenti yang tersisa sedikit lagi. Dan pada akhirnya hanya ada satu yang bisa dipilih saat keadaan tidak menyediakanku pilihan sama sekali. Satu hal yang seringkali aku pilih meski mungkin dalam keadaan yang jauh dari kata lapang.
Dan pilihan itu ialah, menjalaninya.
Danny Dzulfikri, Agustus 2021














