Dewasa dan Fakta yang Menyedihkan
Dewasa, sebuah fase yang dalam diriku yang kecil selalu aku dambakan. Dulu, aku tidak sabar tumbuh dewasa, tidak sabar untuk punya privillage menentukan pilihan ku sesuka ku, tidak sabar melakukan yang aku mau, tidak sabar untuk melakukan hal-hal yang hanya untuk orang dewasa yang melakukannya. Aku yang kecil, mendewakan yang namanya menjadi dewasa.
Pada akhirnya setiap manusia akan sampai pada tahap itu, entah karena keadaan dan karena tuntutan waktu kehidupan. Ada orang yang dewasa karena keadaan membuatnya harus melewati benturan masalah yang menyakitkan, ada juga yang mecapainya karena standar sosial menyebutnya, “waktunya telah tiba”
Aku yang dulu mendewakan yang namanya dewas mana mungkin menyangka kalau aku akan menulis hal demikian, “Bahwa tidak ada yang baik perihal dewasa” bahkan setelah aku punya kuasa untuk mengambil pilihan, bahka setelah aku bisa melakukan apapun yang aku mau, bahkan setelah aku melakukan hal-hal yang hanya orang dewasa bisa melakukannya. Aku merasa diriku yang dulu terlalu bodoh untuk menggemari hal-hal yang memberatkan seperti ini, seperti tidak sabar untuk menjadi dewasa.
Nyatanya, menjadi dewasa tidak pernah baik, sekalipun aku bisa melakukan apa yang aku dulu inginkan. Karena pada nyatanya, dewasa adalah kata lain dari bertanggung-jawab, bertanggung jawab terhadap gerak dan langkah apapun yang aku ambil. Menjadi dewasa, orang tidak perlu repot-repot untuk mengasihani, tidak perlu repot-repot untuk memaklumi, yang ada, orang-orang dengan senang hati menuntut, menuntut untuk menjadi ini itu, untuk begini dan begitu, serta merta menghakimi atas pilihan hidup yang awalnya kamu yakini dengan sepenuh hati.
Menjadi dewasa, benar jika kata orang itu adalah kamu yang selalu harus bisa bertanggung jawab, bertanggung jawab atas hidup mu sendiri. Pada siapanya? Pada keluarga mu, pada orang-orang di lingkungan mu, pada segala hal yang pada akhirnya membuat kamu berpikir, sesungguhnya dewasa itu adalah kamu yang tengah mencoba memenuhi ekspetasi orang lain.
Faktanya, aku ingin menolak, pada akhirnya hidup ini adalah hidup ku, aku seharusnya menemui dewasa seperti apa yang aku pikirkan saat aku kecil dulu. Tapi pada nyatanya, dewasa menurut ku tidak pernah sejalan dengan apa yang orang-orang disekitar ku pikirkan. Setiap hal yang aku mau, setiap hal yang aku lakukan, setiap langkah yang aku ambil, aku tidak punya hak utuk tidak bertanggung jawab untuk menyelaraskannya dengan ekspetasi mereka. Sebut diriku menyedihkan karena harus memenuhi ekspetasi orang lain, tapi semua orang terlalu berhasil membuat ku demikian, sampai pada kenyataan aku tidak tahu lagi bagaimana caranya hidup selain untuk bertanggung jawab terhadap ekspetasi orang lain.