The Truth about Someone Who Left
Part 2
A. W.
Jakarta, Juli 2017.
Mereka bilang, “Enak ya jadi pihak yang mutusin, gampang, gak perlu mohon-mohon buat mempertahanin hubungan.”
Aku bisa bilang kalau apa yang mereka katakan itu salah. Menjadi pihak yang memutuskan untuk pergi itu tidak enak. Sama sekali.
Jika ada yang bertanya, lalu mengapa dilakukan? Aku akan menjawab karena aku tidak ingin menyakitinya lebih lama lagi.
Lalu aku mendengar banyak orang yang menyesal karena mereka yang diputuskan duluan, mengeluh kenapa bukan mereka yang memutuskan lebih dulu. Aku benar-benar ingin berteriak kepada mereka bahwa sungguh, tidak enak memutuskan duluan.
Mereka tidak mengerti kalau meninggalkan itu lebih susah daripada ditinggalkan. Sama saja sakitnya dengan ditinggalkan. Tapi tidak ada yang bertanya apakah aku baik-baik saja, karena orang yang memutuskan pergi harusnya tidak kenapa-kenapa, bukan?
Mereka tidak tahu bahwa sulit sekali berpura-pura bahwa aku sudah tidak peduli saat aku mematahkan hati dan menghancurkan mimpi-mimpinya.
Mereka tidak tahu betapa seringnya otakku bertanya-tanya apakah aku melakukan kesalahan dengan memutuskan dia. Apakah aku melewatkan kesempatanku dengan melakukan hal yang bodoh seperti ini? Apakah aku menghancurkan hidupnya dan dia tidak akan bisa bahagia? Namun aku tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut karena orang yang memutuskan tidak berhak bertanya-tanya, bukan? Jika orang seperti aku bertanya-tanya, maka akan dimaki-maki dengan perkataan, “Kalau ragu begitu, jangan mutusin!”
Meninggalkan itu lebih susah daripada ditinggalkan. Saat kamu ditinggalkan maka kamu jatuh, menangisi kepergiannya, mencoba move on, gagal move on, menangis lagi dan pada akhirnya kamu bisa bangkit dan berdiri lagi. Tapi kalau meninggalkan, itu butuh keberanian. Keberanian untuk pergi tanpa kesempatan untuk bertanya-tanya ataupun penyesalan.
















