Layaknya makhluk lain yang berkembang biak, terdapat budaya setempat bagi pasangan yang baru menikah, yaitu dikaruniai seorang anak. Tentang anak, belum sama sekali kupikirkan, sosok bayi saja aku kurang suka. Mungkin bapakku terlalu banyak memberi ajaran feminisme, atau mungkin sebaliknya, aku melihat terlalu banyak contoh didepan mataku manusia2 yang makin kesini makin banyak saja anaknya. Aku ragu bahwa pasanganku berpikiran yang sama. Terlebih, budaya setempatnya dia tinggal di desa sangatlah tradisional. Tak sedikit omongan yang kujumpai tentangku yang belum saja hamil. Entah..
Yang pasti, rasanya hanya Ayahkulah yang paham soal ini. Soal apa yang kurasakan dan apa yang kuhadapi . Kami yakin tak semudah itu mengurus anak, butuh banyak pengorbanan dan mau tak mau sanggup tak sanggup semua itu kehidupan yang harus dijalani. Lantas mengapa menginginkan anak? Kalau memang banyak pertumpahan darah kedepannya, seolah menciptakan perkara sendiri, seolah sangat arogan seolah anak adalah sebuah baju untuk dipakai ditengah pertontonan keluarga dan masyarakat. Ya, hanya sebagai perhiasan disebuah keluarga untuk dipamerkan . Ya, dengan anak, mereka pikir keluarga akan sempurna. Dan mungkin saja mereka hanya ingin aku merasakan derita yang mereka rasakan saat mengurus seorang anak. Ya, begitulah.
Beginikah rasanya menjadi manusia? Sungguh terikat, tidak bebas berpendapat, bebas menentukan jalan hidup sendiri. Ya, itulah yang kurasakan. Aku pikir hanya akulah yg paham dan menginginkan hal ini, untuk child free terlebih dulu. Belum tahu kedepannya apakah berencana ataukah memang permanen. Aku sendiri, merasa kurang merasakan hidup, kurang bersenang senang. Masih banyak waktu yang kubutuhkan untuk diriku sendiri. Masih banyak pintu pintu kebahagiaan yang ingin kubuka, dan tebtu saja bukan pintu soal anak.
Mungkin seorang suami hanya berpikir bekerja dan menghasilkan uang. Yang memanage semuanya tetap wanita, memang kaum lemah. Tetap saja kami yg masak, sapu lantai, mencuci baju dan mengurus anak. Mungkin dunia memang tak adil untuk seorang wanita atau mungkin seorang Ibu.
Sungguh aku belum menginginkanmu wahai anak di masa depan. Kau masih bebas di alam sana, sungguh... Janganlah sekali kali terjun ke dunia, sangat menyakitkan, sungguh kehidupan didunia adalah sebuah pengorbanan yang panjang. Aku tak yakin kau akan menyukainya.
Menjadi bernyawa adalah sebuah kesenangan sesaat, pada akhirnya akan ada penyesalan sangat besar akan eksistensi kita dalam kehidupan. Setelah kau merasakan banyak kegagalan, di saat itulah pikirmu akan melayang dan memahami bahwa dunia hanyalah sementara. Ya, akupun akan mati nak. Apa kau yakin dapat hidup tanpaku? Aku tidak dapat menjamin aku akan hidup hingga kau berkeluarga. Aku tidak yakin pula umur suamiku panjang. Semuanya hanyalah rencana Tuhan. Kembali lagi, kita hanya manusia yang tak mempunyai daya apapun untuk merubah takdir. Jadi kukembalikan, apa kau ingin hidup di dunia?














