Tanpa Berkabung, Tanpa Berkubur
Six of Crows - Leigh Bardugo
Sebuah ulasan oleh Ghina Hasna Afifa (instagram.com/oghinaa)
Minggu, 03 Juli 2022
—“Keserakahan tunduk kepadaku. Keserakahan menjadi hambaku sekaligus mendongkrak daya tawarku.”
(halaman 53)
Kaz Brekker yang dijuluki si Tangan Kotor, haram jadah yang dibentuk di Barrel sana, ditawari menjalankan sebuah misi mustahil—membobol Majelis Es yang konon tak tertembus—seharga puluhan juta kruge. Dia membawa serta kru berisikan Inej si Siluman, Jesper dengan keahlian menembak yang tiada lawan, Nina dan kesaktiannya sebagai Grisha, Wylan si Tuan Muda yang melipir dari rumah, dan Matthias yang semata-mata ikut untuk meraih kembali kebebasannya. Berlandaskan kepercayaan yang tak seberapa, keenamnya bersama-sama melakukan misi dengan taruhan kemewahan atau ajal.
Pernahkah kamu membaca buku yang membuatmu merasa seperti tidak sedang membaca buku? Mungkin bagiku buku ini salah satunya. Buku ini terlampau seru sehingga 614 halamannya sekonyong-konyong habis tak terasa. Dari segi plot, wah, tidak ada yang perlu dikomentari. Menyoroti cerita sekelompok pencuri, tentu buku ini dipenuhi dengan adegan aksi yang dinarasikan secara luwes. Untuk kamu yang belum terbiasa, mungkin adegan di dalamnya akan merasa too much sebab tindak-tanduk kekerasan dijabarkan secara detail dan berdarah-darah, terkadang membuat kita merasa ngilu sendiri. Terlepas dari adegan laga yang mendominasi, cerita ini juga dilengkapi romansa tipis-tipis sebagai pemanis.
Karakter yang ada di buku ini pun beragam serta diukir dengan sangat apik. Ada Matthias yang digambarkan sebagai prajurit gagah berambut pirang juga karakter Inej si gadis Suli berkulit perunggu. Di setiap babnya, buku ini disajikan melalui sudut pandang orang ketiga dari tokoh-tokohnya. Dengan ini, hal-hal ganjil seperti kenapa Kaz selalu bersarung tangan dan alasan Matthias membenci Nina sedemikian rupa terjawab sejalan dengan kita membaca tiap lembarnya. Perasaan yang dipendam oleh masing-masing tokoh juga turut dinarasikan sehingga memicu timbulnya simpati dan membuat pembaca merasa terikat. Selain itu, buku ini juga diselingi humor—atau mungkin seharusnya sarkas—yang ampuh dalam mengurangi sedikit nuansa tegang. Kalau urusan melucu, Jesper jagonya (padahal sejatinya semua anggota kru sama bobroknya). Dalam keadaan seserius atau seberbahaya apapun, selalu saja ada celetukan-celetukan yang menggelitik perut.
—Kaz memiringkan badan ke belakang. “Apa cara paling mudah untuk merampas dompet seseorang?”
“Todong lehernya dengan pisau?” tanya Inej.
“Todongkan pistol ke punggungnya?” tanya Jesper.
“Racuni minumannya,” usul Nina.
“Kalian semua jahat,” kata Matthias.
(halaman 168)
Dikarenakan linimasa buku ini terjadi setelah kisah seri Shadow and Bone, untuk pembaca yang suka memerhatikan detail cerita seperti aku, kusarankan untuk membaca trilogi Shadow and Bone dahulu sebelum membaca buku atau duologi Six of Crows ini. Ada beberapa bagian yang mengacu kepada seri tersebut sehingga mungkin akan membuat bingung pembaca baru.