Semakin lama kita bertarbiyah, seharusnya kita lebih dewasa dalam menyikapi dinamika dalam berdakwah, juga berjamaah.
Kita merasa senang saat pertama kali masuk, lalu kecewa dengan sebuah peristiwa, menepi sejenak, kembali lagi dalam lingkaran, pasang surut, sampai akhirnya kita mencoba istiqomah dengan lingkungan yang ada, dengan segala dinamikanya.
Ada saat dimana kita memiliki banyak teman, ada saat dimana kita merasa ditinggalkan, ada saat dimana para senior mulai hilang arah, qudwah berceceran.
Ada saat dimana para penerus mulai jatuh berguguran, bahkan sebelum berperang. Ada saat dimana kita kecewa dengan ekspektasi diri kita, merasa semua hal harus berjalan dengan ideal, hingga akhirnya tersadar, kita banyak menuntut tapi kita lupa berbuat, tidak menjadi contoh, bahkan jauh dari nilai yang diperjuangkan.
Tapi percayalah, semua itu proses pendewasaan yang akhirnya membuat kita menjadi tangguh untuk memegang amanah ini.
Kita percaya bahwa dakwah tak membutuhkan kita, tapi kita yang membutuhkan dakwah. Kita tahu bahwa kita adalah sekumpulan manusia, bukan malaikat atau nabi yang lepas dari kesalahan.
Kita itu, percaya hanya dengan Allah lah pertolongan itu hadir, bukan semata kontribusi yang sudah banyak kita lakukan, syuro-syuro pagi-petang, atau agenda-agenda dakwah yang kadang niatnya salah hanya untuk mencari dunia.
Imam Hasan Al-Banna Rahimahullah pernah berkata :
Berjuanglah untuk kebaikan dan kebenaran, sepahit dan sesulit apapun. Bersatulah dalam jamaah, sebenci dan sekecewa apapun, karena berjamaah lebih baik dari sendirian. Bangkitlah ketika jatuh, dan jangan menyerah, sampaikanlah dakwah ini setiap saat, agar saudaramu merasa memiliki dan dimiliki. Jangan tinggalkan yang dibelakangmu, tunggulah dengan kesabaran dan keikhlasan.
Setiap diri kita pernah khilaf, maafkanlah diri sendiri dan juga saudara kita, tak perlu sungkan untuk meminta maaf dan meminta nasihat, atas contoh yang buruk, tidak amanah, atau hal-hal yang tak patut untuk diucapkan dari lisan, secara sengaja atau tidak.
Terakhir, jangan lupa untuk memanjatkan doa, agar terhindar dari sikap keakuan, sembari berharap untuk selalu dikuatkan, dan yang paling penting agar dapat dipertemukan dengan saudara kita, di JannahNya kelak. Amiin.
*) ditulis setelah agenda jaulah ke KAMMI Komisariat Sholahuddin Al-Ayyubi UNS, bersama adik-adik yang hebat nan mengerikan