Antara Bakso dan Boraks
Bicara soal makanan, tentu sebagai anak yang ngambil jurusan buat expert dibidang ini, merasa terbebani jika nggak tau tentang bahan tambahan pangan. Padahal mah sebenarnya biasa aja sih wkw
Dulu pas kuliah, sempat ambil mata kuliah bahan tambahan pangan ini. Tapi, entah kenapa ya, kok ga nyangkut ilmunya . Apa kebanyakan tidur dan ngobrol sendiri ya? Wkw
Yah, mungkin dulu gak terlalu paham ya belajar itu buat apa. Terutama, tidak tau, penerapan atau aplikasinya itu mau kemana.
Misalnya contoh paling kecil adalah masalah bahan tambahan pangan ini. Aku tau teori-teori tentang apa yang boleh ditambahkan dalam makanan dan apa yang tak boleh.
Bagi bahan tambahan pangan yang boleh pun ada batas penggunaannya yang tak bisa pakai ilmu kira-kira tanpa tau teori, apalagi ilmu feeling. Belum lagi, bahan tambahan pangan yang berbahaya yang sudah tidak diakui lagi sebagai bahan yang aman, semua dipelajari.
Tapi, balik lagi dari narasi di awal, semua itu hanya teori. Teori tanpa praktek tentu saja hanya sebatas ilmu. Jadi, aku tidak bisa mengenali mana bahan tambahan pangan aman maupun yang berbahaya dalam dunia nyata.
Salah satu bahan yang selama ini sering orang gunakan adalah boraks untuk membuat makanan awet. Setauku juga, banyak masyarakat yang sudah aware dengan isu dan tak lagi menggunakan bahan ini. Namun, semua pandanganku itu berubah sejak siang tadi.
Kita tau ya, kalau bulan-bulan ini musim orang nikah. Nikah di tengah kondisi pandemi seperti ini tentu tak bisa seperti nikahan pada umumnya dulu dong, yang prasmanan atau piring terbang. Ada peraturan bagi yang punya hajat untuk membungkuskan saja makanan untuk tamu agar bisa dibawa pulang.
Peraturan ini tentu menguntungkan bagi orang rumah yang gak diundang agar tetap bisa ikut menikmati makanan kondangan.
Ini juga merubah kebiasaan hajatan pernikahan menjadi sangat praktis sebab tak perlu berlama-lama berada disana. Tapi disisi lain, muncul masalah baru berupa makanan bisa cepat basi jika si tamu tak kunjung memakan nasi kotak dan jajannya.
Akhirnya, para pembuat makanan di hajatan itu memakai berbagai cara agar makanan itu tetap awet.
Ada yang membuat makanan sekering mungkin untuk menghindari basi, adapula yang menyiapkan makanan dengan jarak waktu pendek dari acara.
Tapi yang nggak habis pikir itu, kok ada pemikiran ngasih pengawet ke makanan kondangan. Yang dipakai itupun yang berbahaya pula.
Ada yang menambahkan boraks ke bakso dengan tujuan bakso ini akan awet sampai sore.
Aku yang denger hal ini cuma bisa geleng-geleng kepala. Aku tau teori bahwa boraks itu gak boleh buat makanan, tapi aku gak tau bau maupun bentukan boraks itu bagaimana.
Alhasil ketika tadi ada bakso aku makan saja satu butir. Itupun aku sebelum makan aku cuma bilang, kok bau obat ya? Kok kecut? Ini basi ya? Kok aneh? Abis itu aku cium baunya, bilang ini basi kayaknya. Belum puas memastikan, aku ambil sebuah bakso dan tak makan. Ya gimana ya, tau itu basi tetep dimakan wkwk buat memastikan. Hadeuuh.
Aku baru tau kalau ternyata bakso itu tidak basi, tapi dikasih boraks setelah ada diskusi antara ibu dengan tetangga membicarakan sebaiknya dimakan atau tidak bakso ini. Sekali cium tetanggaku tau ini boraks. Beuh, aku kuliah di pangan ga tau ini boraks dan malah langsung makan meski mencium keanehan._.
Ketika tau hasil musyawarah bakso itu langsung shock shock banget. Cuma mikir, aduh aku makan satu lagi T.T
Kemudian hanya menggumam, kok tega ya? Kok tega ngasih itu buat dimakan banyak orang di kondangan. Aku cuma mikir, ketika orang ngasih boraks ke bakso itu, apakah tidak tau jika itu berbahaya?
Kalau yang ngasih itu tidak tau bahayanya, maka yasudah, artinya sosialisasi mengenai bahan tambahan pangan ini masih kurang. Berarti, tingkat kesadaran masyarakat soal isu ini masih belum ada, atau bahkan belum terbentuk. Dan ya mau gimana ya, orang tidak tau?
Tapiii, jika yang ngasih boraks ini sadar betul bahwa boraks itu tak boleh digunakan dalam makanan, juga dengar resikonya, maksudku, kok tega bener? Apakah tak tau bahwa ini perkara yang besar? Kok tega?
Rasanya kalau dipikir-pikir kok ya gak mungkin ya, orang itu dengan sengaja berniat "meracuni" banyak orang di kondangan. Maka, sepertinya itu adalah kekhilafan yang entah ia sadar atau tidak, ia lakukan.
Darisini aku jadi paham bahwa ilmu di perkuliahan itu tak menjamin akan membuat seseorang jadi expert. Tetap saja, pengalaman itu yang akan membentuk pemahaman seseorang. Dahlah.











