Sebelum Kata Menjadi Luka
Pernah gak berfikir, betapa banyak luka di dunia ini yang lahir bukan hanya dari pukulan, tapi juga dari ucapan? Lidah memang tak bertulang, tapi tajamnya bisa melampaui pisau. Sekali bicara tanpa hati-hati, ia bisa menggores harga diri seseorang, bisa menghancurkan semangat yang sudah susah payah dibangun. Dan yang paling berbahaya lagi, kata-kata itu tidak bisa ditarik kembali, ia akan membekas disana.
Menjaga lisan itu bukan hanya soal sopan santun, tapi soal iman. Sebab dari lisanlah cerminan hati seseorang terlihat. Kalau hatimu tenang, kata-katamu akan meneduhkan, tapi bila hatimu penuh iri dengki, maka yang keluar hanya racun yang melukai orang lain, dan pada akhirnya—melukai dirimu sendiri. Jadi, jagalah lisanmu sebagaimana kamu menjaga ibadahmu, karena di hadapan Allah, keduanya sama pentingnya.
Apalagi kalau lisanmu dipakai untuk mencibir takdir orang lain. Berhati-hatilah, sebab mencibir hidup seseorang sama saja dengan mengomentari tulisan Tuhan. Kamu tidak tau perjuangan di balik senyum mereka, kamu tidak tau doa yang mereka panjatkan di malam-malam yang mungkin mereka tak tidur. Tuhan punya cara yang berbeda untuk setiap hamba-Nya, dan tidak ada satu pun dari kita yang cukup berhak menilai apakah kisah mereka pantas atau tidak.
Tolong, berhentilah menjadikan lidahmu sebagai alat untuk menghakimi. Dunia ini sudah cukup keras tanpa harus kau tambahi dengan kata-kata tajam yang menampar. Jika kamu tak mampu menenangkan seseorang dengan ucapanmu, maka cukup diam saja, apa susahnya. Diam tidak membuatmu kalah, justru membuatmu jadi lebih baik. Karena diam di saat bisa menghina, itu tanda hati yang sudah belajar tunduk pada ego.
Kata-kata juga bisa menjadi doa, tapi juga bisa menjadi dosa. Kamu yang memilih jalannya. Maka sebelum berbicara, tanyakan pada dirimu sendiri: “Apakah ini membuatku lebih dekat dengan Tuhan, atau justru menjauhkan?” Sebab nih, setiap kalimat yang keluar akan dimintai pertanggungjawaban, bahkan yang menurutmu sepele “Ah cuma gitu aja kok baper”.
Jagalah lisanmu, bukan karena kamu takut dinilai manusia, tapi karena kamu sadar: Tuhan mendengar bahkan sebelum kata itu sempat terucap bibir. Maka biarlah suaramu menjadi sesuatu yang membawa tenang untuk dirimu bukan yang menimbulkan luka pada hati orang lain. Karena orang yang mampu menjaga lisannya, sejatinya sedang menjaga hatinya agar tetap bersih, dan dari hati yang bersih—akan lahir kehidupan yang lebih ringan untuk dijalani.
Ada kalimat yang terdengar sepele bagimu, tapi menjadi beban bagi orang lain. Ada gurauan yang niatnya ringan, namun jatuh ke hati seseorang seperti batu.
Lisan itu kecil, tapi mampu menyalakan bara dan memadamkan jiwa.
Maka berhati-hatilah, karena sering kali bukan hanya perbuatan besar yang melukai, melainkan ucapan-ucapan kecil yang tak dijaga.