“We are alone. No matter what they tell you, we women are always alone.”
Roma (2018) dir. Alfonso Cuarón
I'd rather be in outer space 🛸

oozey mess
h
occasionally subtle
Monterey Bay Aquarium
Peter Solarz
we're not kids anymore.

izzy's playlists!

tannertan36

Discoholic 🪩
AnasAbdin
todays bird
$LAYYYTER

❣ Chile in a Photography ❣

Product Placement
No title available
Three Goblin Art

Love Begins

Origami Around
Sade Olutola
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from China

seen from United States
seen from Tunisia

seen from United States

seen from United States

seen from France
seen from Russia

seen from United States
seen from Uruguay
seen from United States

seen from India

seen from United States

seen from Malaysia

seen from TĂĽrkiye
seen from Italy

seen from Italy

seen from United States
@yoybud
“We are alone. No matter what they tell you, we women are always alone.”
Roma (2018) dir. Alfonso Cuarón
“The thing is, Bob, it’s not that I’m lazy, it’s that I just don’t care.”
Office Space (1999)
Sendiri Dengan-Nya
BRAAAAAAK!
Setelah didobrak, akhirnya pintu itu terbuka. Sejumlah tetangga mulai menyerbu masuk ke dalam rumah yang telah lama tak menunjukkan tanda kehidupan penghuninya. Tiba-tiba seseorang memberi tanda.
Mereka mulai berkumpul di sebuah ruangan tak berjendela. Di sana mereka melihatnya, terbujur kaku sebuah tubuh renta. Tertidur tanpa selembar pun busana.Â
Semua akrab dengan sosok itu, dulu ia pernah punya keluarga. Namun, tiba-tiba ia memilih hidup sebatang kara. Tak pula ia kekurangan harta. Kabarnya, harta tersebut ia sumbangkan dengan sukarela.
Ia tak pernah terlihat bercengkrama. Hobinya ialah duduk-duduk di beranda, berderma senyum pada siapa saja yang melintas.
Seakan-akan ditelan bumi, ia lenyap seketika. Tak pernah lagi terlihat senyumnya di beranda.
Para tetangga pun curiga. Apa yang terjadi padanya?
Kini mereka tahu bagaimana kondisinya. Ia terbujur kaku selamanya. Memeluk erat sebuah tanda silang di dada. Rupanya, ia hanya ingin sendiri dengan-Nya.
Kamu yang Selalu Berdiam Diri
Aku selalu berbagi denganmu setiap hari. Cerita senang dan sedih, apapun itu selalu kubagi. Kemampuan mendengarmulah yang kukagumi. Kamu selalu mampu mendengar tanpa tendensi.
Sudahkah aku mendatangimu lebih dari jutaan hari? Ah, kita tak mungkin mengingat-ingat ini. Ketika bersamamu waktu serasa berlari. Detik, menit, jam, hari tak lagi punya esensi. Aku senang akan rasa ini.
Tapi, kadang aku jengah mengahadapi dirimu yang selalu berdiam diri. Aku juga butuh tanggapan sesekali. Pernah sekali aku berteriak padamu, tapi kamu tetap tak peduli.
Apakah kamu tak punya sesuatu untuk dibagi? Bagaimana hidup yang kau jalani? Biasa saja atau menyenangkan sekali? Kamu memang kokoh, tapi apa tak ada seorang yang datang dan kemudian sengaja menyakiti? Ah, lelah aku lama-lama melempar pertanyaan yang sama berulang kali. Biarlah kuterima dirimu yang seperti ini. Biarlah aku puas dengan 1 kalimat yang selalu kau tunjukkan, "DILARANG KENCING DI SINI!"
Tingkah Polah Suripah
Rutinitas pagi Suripah bisa dibilang tak biasa. Ia suka membayar belanjaan dengan uang bernominal besar, padahal totalnya beberapa ribu rupiah saja. Penjual mana yang tak mengelus dada? Banyak yang geram dibuatnya. Namun, ada yang menerima dengan lapang dada. Salah satunya adalah Ce Ana.
"Aku nggak punya uang kecil, Ce. Habis, kemarin dipake keluar sama anakku," alasan andalannya sembari mengeluarkan uang bergambar proklamator bangsa.
Tak banyak bicara, Ce Ana membungkus belanjaan Suripah yang habis 5000 perak saja. Suripah juga acap kali menceritakan di mana ia menyimpan hartanya.
"Ce Ana, kalung emas, cincin emas, dan uang 5 jutaku kalau kutaruh di laci lemari aman kan ya? Nggak apa-apa kan ya, Ce? Habisnya bingung mau taruh di mana," tanyanya yang kemudian disusul derai tawa khas miliknya. Mirip cengiran kuda.
Ce Ana membalasnya dengan senyum, tanpa sepatah kata.
Tingkah Suripah yang besar kepala ini memantik rasa khawatir pada diri Suroya. Ia selalu mewanti-wanti Suripah untuk tak menceritakan di mana ia menyimpan harta benda. Bagai bicara dengan tembok, omongan Suroya tak juga membuat Suripah berkaca.
Suatu pagi, Suroya hendak mengajak Suripah pergi berbelanja. Ia mengetuk pintu rumah Suripah seperti biasa.
"Kok lama, ya?" tanyanya.
Ia kaget, ketika mengetuk agak keras tiba-tiba pintu terbuka. Masuklah Suroya dengan hati gundah gulana. Rumah Suripah sepi, karena ia tinggal sebatang kara. Suaminya lebih memilih bersama istri muda.
Sesampainya di kamar Suripah, menjeritlah Suroya. Ia melihat Suripah tergeletak dengan mata terbuka. Sebuah tali rafia berwarna merah melilit lehernya. Suroya hanya bisa berdiri dan tak tahu harus bagaimana.
Suroya lemas, terduduk di dekat sahabat karibnya. Sebelum kehilangan kesadaran, Suroya sempat melihat laci lemari terbuka. Semua harta benda Suripah hanya tinggal cerita.
Mahasiswa Asu!
Gawainya berbunyi. Secepat kilat ia membuka pesan tersebut, secepat kilat pula rona wajahnya berganti. Ia dongkol setengah mati.
Tak lama berbunyi lagi, nyaringnya setengah mati.
Rupanya masih pesan teks dari yang tadi. Ia membaca dengan setengah hati. Tiba-tiba matanya membelalak lebar sekali. Emosi tak dapat ia kuasai lagi.
"Mahasiswa asu!" umpatnya dalam hati.
Pelajaran no. 5: Terkadang kebahagiaan itu adalah tidak mengetahui seluruh kenyataan yang ada
Hector and the Search For Happiness, Francois Lelord
Pelajaran no.2: Kebahagiaan sering kali datang di saat-saat yang paling tidak terduga.
Hector and the Search for Happiness, Francois Lelord
Pelajaran no. 1: Membuat perbandingan bisa merusak kebahagiaan.
Hector and the search for happiness, Francois Lelord
... kita harus berhati-hati ketika bertanya kepada orang apakah dia merasa bahagia. Itu adalah sebuah pertanyaan yang bisa membuat mereka teramat sedih
Hector and the Search for Happines, Francois Lelord
… kaum wanita itu manusia yang sangat rumit, meskipun kau sendiri adalah seorang psikiater.
Hector and the Search​ of Happiness, Francois Lelord
bersamamu melawan luka
akhirnya kita bisa bersama. kamu menjadi penyemangatku dalam melawan luka. entahlah, kalau tak ada kamu, aku tak sanggup rasanya. luka ini terlalu berat untuk kupendam sendiri dalam sakitnya rasa.
aku senang kamu bersamaku melewati perjalanan waktu yang terasa lama, meskipun kamu diam saja.
berdua selalu
riuh suara kembang api memenuhi hatiku. hati yang sedang gembira karenamu. hati yang berbunga-bunga karena terus bersamamu. berdua selalu. melewati hari yang tak lagi sendu.
merah jambu. dulu itu ronamu. kini tubuhmu beku di dalam lemari pendinginku. tak apalah, pikirku. aku tetap cinta kamu.
Akhir yang bahagia bisa datang dalam bentuk apa saja, ingat itu.
The Wednesday Letters