Semakin dekat dengan hari itu, semakin besar pula kekhawatiran yg ada.
“InsyaAllah nanti kan dijalaninnya bareng2, semoga bisa ‘saling’ di fase kehidupan selanjutnya. Bismillah ya.” Katanya.
Mohon doanya.

ellievsbear
One Nice Bug Per Day
sheepfilms
AnasAbdin
tumblr dot com

pixel skylines
he wasn't even looking at me and he found me
styofa doing anything
we're not kids anymore.
$LAYYYTER

Origami Around

⁂

tannertan36

Janaina Medeiros

Kiana Khansmith

❣ Chile in a Photography ❣
will byers stan first human second
No title available

祝日 / Permanent Vacation

PR's Tumblrdome
seen from United States
seen from United States
seen from Palestinian Territories

seen from Australia
seen from United States

seen from Singapore

seen from Bangladesh
seen from United States

seen from Bangladesh
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from New Zealand

seen from Malaysia

seen from South Korea

seen from Russia

seen from France

seen from Spain
seen from Tunisia

seen from Uzbekistan
seen from United Kingdom
@zakiakarima
Semakin dekat dengan hari itu, semakin besar pula kekhawatiran yg ada.
“InsyaAllah nanti kan dijalaninnya bareng2, semoga bisa ‘saling’ di fase kehidupan selanjutnya. Bismillah ya.” Katanya.
Mohon doanya.
Wanita dan Kekhawatirannya
Ibuku bilang tiap wanita akan dihadapkan dengan apa yang ia takutkan, entah menunggu penantian siapa yang akan datang, entah pada mengidamkan seorang buah hati yang tidak kunjung datang, ada pula yang terlalu gelisah pada karir dan masa depan. Wajar kok, laki-laki juga sama. Tapi setidaknya, bagi wanita yang beriman ia akan tau pada siapa harus meletakkan keluh kesah dan kekhawatirannya, tidak berlarut dan mengumbarkan kegelisahan pada sembarang orang atau dunia sosialnya. Yang kurang dari wanita hanya kurang sujud dalam sholatnya, menangis dalam sepertiga malamnya, dan bakti pada ibu ayahnya.
Sebab rembulan tidak selamanya purnama, akan ada waktunya malam gelap dan pekat, menjadikan setiap wanita mengharapkan cahaya terang dari sang pemilik rembulan. Adanya ujian dan kekhawatiran agar wanita semakin dekat dengan Tuhannya, bukan malah dekat dengan semua manusia di dunia maya. Sebab solusi bukan datang dari sesama kita, tapi dari-Nya.
Wanita dan kekhawatirannya itu unik dan ajaib, sebagaimana hati mereka yang mudah berbolak balik, tidak menentu dan mudah goyah meski dengan angin kecil. Semakin ia menunduk akan semakin kencang pegangannya, semakin ia menjaga dirinya dan hatinya akan semakin kuat pondasinya.
Begitulah ibuku bilang dalam percakapan kecil dan celetukan tanpa sengajanya sore ini. Semoga Allah jaga setiap wanita yang menjaga harga dirinya.
@jndmmsyhd
Berkah
Dalam Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi disebutkan, berkah memiliki dua arti: (1) tumbuh, berkembang, atau bertambah; dan (2) kebaikan yang berkesinambungan
Akhir-akhir ini saya banyak merenungi terkait hal ini. Berkah. Kata yang senantiasa berputar-putar dalam pikiran, terutama saat menjalani berbagai proses akhir-akhir ini. Dari proses belajar, mengajar, melamar beasiswa, pekerjaan, serta aktivitas-aktivitas lain yang selama beberapa minggu terakhir cukup menguras pikiran, mengurangi waktu tidur, entah masih memikirkan, bener gak sih ini ada berkahnya?
Entah mengapa selalu bermuhasabah, sudah sejauh mana keberkahan yang akan diperjuangkan atau yang sudah digapai pada proses ini, apakah benar, di sini nanti akan membawa berkah, apakah benar niat ini sudah lurus, hingga pertanyaan-pertanyaan lainnya senantiasa membuat diri yang masih jauh dari kesempuranan ini berefleksi akan segala amal perbuatan yang telah dijalani.
Setelah menggali-nggali, membaca berbagai sumber, maka betapa mendalam makna berkah ini. Bahwa berkah, menurut Imam Al-Ghazali, dapat disebut sebagai ziyadatul khair fi kulli haal , atau bertambahnya kebaikan dalam setiap perbuatan. Sebuah kata yang tanpa kita sadar sering kita ucapkan setiap sali di salam kita, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Barangkali makna dari sini sudah terlihat bahwa setiap pertemuan dengan siapapun, kita selalu mendoakan akan keberkahannya, sebagaimana dia mendoakan akan keberkahan untuk kita.
Hingga akhirnya perenungan ini sampailah pada suatu pertanyaan, memang seperti apakah sesungguhnya keberkahan itu, sejauh apa maknanya, sedalam apa hingga seluruh umat manusia amat menginginkannya?
Dalam salah satu kajiannya, Ustadz Salim A. Fillah menyampaikan bahwa dalam doa yang diajarkan Rasulullah pada pengantin baru pun, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa di zaman jahiliyah dulu, saat Sayyidina Uqail bin Abi Thalib menikah, orang-orang mendoakan “Bir-Rafaai wal Baniin”, yang berarti semoga bahagia dan banyak anak. Bukankah itu memang impian? Bukankah itu merupakan hal yang diharapkan?
Namun tidak demikian menurut pendapat Sayyidina Uqail bin Abi Thalib. Beliau meminta agar para tamu undangan mendoakan, sebagaimana Rasulullah mendoakan “Barakallahu Lakuma… Wa Baraka ‘alaikuma… wajama’ bainakuma fil khaair”. Semoga Allah memberikan berkah “kepada”mu.. dan Semoga Allah memberikan berkah “atas”mu, serta menghimpun kalian berdua dalam kebaikan”
Betapa sempurna, doa ini, jika dimaknai dalam bahasa arab. Pertama, kata “Lakuma”, dalam bahasa arab adalah perkara-perkara yang menyenangkan. Kedua, kata “’Alaikuma”, dalam bahasa arab adalah perkara-perakara yang menyedihkan. Keduanya, agar semoga Allah memberikan keberkahan baik di masa bahagia maupun susah. Ketiga, “dan semoga Allah menghimpun kalian beruda dalam kebaikan”, maka terlepas nanti ada masa susah dan senang dalam kehidupan, kita senantiasa berpegang teguh pada Iman kepada Allah, agar senantiasa berhimpun dalma kebaikan.
Doa yang begitu dalam maknanya ini, sudah tentu bukan hanya dipersempit dalam konteks pernikahan saja, namun juga dalam dimensi kehidupan secara luas, seberapa universal-nya makna barakah ini, sehingga barangkali sebab itulah kita senantiasa menyebutnya setiap hari saat bertemu dengan saudara kita, kita selalu menyebut dalam doa-doa sehari-hari, seperti doa makan salah satunya.
Dalam salah satu nasihat pernikahan Gus Baha, beliau menyampaikan, bahwa ada banyak pernikahan yang tak bertahan lama dikarenakan dari awal sudah salah niat, yang dikejar adalah kemegahan, kemewahan, kebahagiaan, atau hal-hal lain yang justru akan mengaburkan makna dari barakah itu, bahwa sesungguhnya keberkahan itu bisa hadir saat senang maupun susah.
Keberkahan itu bisa hadir dari hal-hal yang sederhana. Bahwa dalam dimensi tasawuf, sebagaimana yang disampaikan Gus Baha, bahwa saat dua orang memutuskan menikah, sesungguhnya dia sudah mendapat tiket akan surga dan pengampunan akan segala dosa untuk terhindar dari api neraka. Lalu mengapa justru banyak pernikahan yang tak berujung kepada kebaikan? Karena seringkali justru pasangan itu melupakan esensi dari barakah itu sendiri, serta mempersulit kehidupannya sendiri misal berselisih masalah uang, masalah sepele dalam rumah tangga, seta hal hal lainnya. Padahal esensi dari pernikahan yang sebenarnya sesederhana maknanya: menuju surga dan menghindari neraka.
Kembali lagi ke esensi barakah baik di kala senang maupun susah, maka esensi lebih dalamnya disebutkan oleh para ulama’ bahwa “Al-Barokaatu tuzidkum fii thooah” - bahwa keberkahan itu adalah dengan bertamabahnya ketaatan kepada Allah.
Semoga di momentum hari Asy-Syura ini, kita banyak bermuhasabah, terlebih dengan nanti saat kita berpuasa, yang keutamannya mampu menghapus dosa, semoga menjadi momen yang tepat untuk banyak-banyak bertanya dalam diri. Sudah sejauh mana keberkahan yang kita dapat?
Apakah benar rezeki yang kita peroleh ini sudah mendatangkan barakah? Apakah benar ilmu yang kita pelajari ini mampu membawa keberkahan bukan hanya untuk diri sendiri, namun untuk orang lain? Apakah benar makanan dan minuman yang kita konsumsi setiap hari itu bukan hanya sekedar bergizi, namun mendorong kita lebih taat kepadaNya, lebih bersemangat dalam beribadah kepadaNya? Apakah benar jika kelak kita meniatkan diri untuk menikah, semata-mata untuk memperoleh keberkahan akan menjalankan sunnah Nabi-Nya? Apakah benar kesehatan kita ini jauh lebih mendatangkan keberkahan dibandingkan kita saat sakit, atau justru malah sebaliknya?
Tentu saja hanya kita sendiri yang mampu menjawabnya, dan semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan pada apapun yang sedang kita ikhtiarkan dan jalani.
Malang, 29 08 2020 00.09, di sela mengikhitiarkan segala yang harus diikhtiarkan Mushonnifun Faiz S
Hati yang Tenang
Sudah hampir setengah tahun terakhir ini membatasi aktivitas di media sosial. Walaupun belum bisa benar-benar lepas dari ketergantungan, beberapa bulan terakhir dari banyak refleksi diri yang dilakukan seolah menjadi jawaban akan segala pertanyaan-pertanyaan yang selama ini berputar-putar dalam pikiran.
Dulu, saya pribadi termasuk orang yang cukup aktif di media sosial. Hampir seluruh aktivitas, kegiatan, atau apapun, rasanya jempol ini tak tahan untuk sekedar berbagi. Dari hal-hal yang bersifat lucu, pencapaian, kekonyolan, sampai sebenarnya hal-hal yang tidak terlalu penting untuk dibagikan.
Perjalanan dua tahun terakhir seolah menyadarkan saya bahwa setiap manusia memiliki ruang privasi masing-masing. Saya cukup terkejut saat saya kuliah di Swedia, hal-hal yang bersifat privasi menjadi sangat dihargai. Jarang sekali teman-teman saya update di media sosialnya, banyak yang tidak memiliki instagram, bahkan nomor hp pun di sana menjadi sesuatu hal yang privasi, yang tak sembarang orang berhak mengetahuinya.
Saat saya bertukar kontak, mereka lebih memilih bertukar facebok, yang nyatanya saat saya membuka profile mereka, hampir tidak ada isi atau update apapun, murni facebook messenger yang benar-benar digunakan untuk berkomunikasi. Bahkan di sana pun tidak diperbolehkan memfoto orang sembarangan, karena banyak yang tidak berkenan untuk dipublikasikan. Pun demikian dalam setiap acara universitas selalu ditekankan jika tidak ingin ditampilkan dalam foto, bisa menghubungi panitia, agar nanti ketika dipublikasikan bisa di edit sedemikian rupa agar tidak muncul secara public.
Pada akhirnya, setiap jemari ini akan bergerak untuk membagikan sesuatu, selalu muncul pertanyaan. Why, why, and why. Mengapa harus dibagikan, jika dibagikan seperti apa dampaknya, jika tidak dibagikan memang mengapa. Adakah kira-kira yang tersakiti dengan caption yang dibuat, atau akankah postingan ini menimbulkan rasa iri, hingga pertimbangan pertimbangan lain yang pada akhirnya membuat diri ini selalu berpikir ulang setiap akan melakukan sesuatu.
Setelah menjalani ‘kebiasaan baru’ ini selama beberapa bulan, akhirnya saya mulai menikmati, bagaimana sekedar menggunakan sosial media seperlunya, sesekali tetap update untuk berkabar satu sama lain, lebih belajar menjadi pendengar / viewer yang baik dibandingkan meng-update konten itu sendiri.
Satu hal penting yang akhirnya hadir adalah ketenangan hati. Saya tidak lagi dipusingkan oleh siapa yang berkomentar, membalas komen-komen julid netizen, membalas dm satu per satu yang masuk, hal-hal yang terlihat sepele namun sesungguhnya ternyata memakan banyak waktu jika kita terlalu disibukkan dengan aktivitas seperti itu.
Benar, bahwa ketenangan hati itu mahal harganya, namun ketika kita mampu menebusnya, rasa-rasanya seperti itulah hidup dijalani seharusnya. Karena dengan ketenangan hati, kita akan jauh lebih mudah untuk berpikir jernih, melakukan aktivitas dengan sepenuh hati, tanpa ada gangguan-gangguan eksternal yang berarti.
Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Fath [48]: 4)
Surabaya, 16 Agustus 2020 16.27
Menikahiku ?
Menikah denganku Bukan berarti kau menikahi kecantikanku, Bukan juga kekayaan dan hartaku
Menikahiku tidak sama dengan menikahi masakanku Atau menikahi pijatan tanganku saat kau lelah
Menikahiku adalah menikahi segala kekuranganku Yang mungkin saja sulit kau terima
Menikahi segala kekurangan yang tak pernah kau harapkan ada pada pendamping hidupmu.
Menikah itu bukan melulu soal cinta. Aku hari ini akan berbeda dengan aku istrimu. Aku istrimu akan berbeda dengan aku usia 30 tahun. Aku 30 tahun pun akan berbeda dengan aku 50 tahun.
Begitupun kamu. Sadar sepenuhnya kamu bukan malaikat.. aku akan menikahi seorang manusia Yang kesalahan dan kekurangannya dimana mana
Bukan selalu soal cinta apalah arti cinta kita jika penerimaan kita pada masing masing diri pasangan masih sangat sedikit luasnya ?
Luaskan penerimaan itu.. Lapangkan kesabaran itu..
Wanita yang kan kau temui di rumah tidak akan menjadi wanita tercantik dalam hidupmu.
Laki laki yang kan kusambut pulangnya tiap hari bukanlah laki laki yang kan selalu bersikap lembut padaku..
Bukan lelaki yang waktunya selalu luang untukku
Bukan lelaki yang selalu mencintaiku dalam Tapi lelaki yang dengan segala kekuranganku, dia tetap tinggal denganku, berbagi segala hal tentang hidup.. Lelaki yang sadar bahwa ia menikahi manusia.. yang tumbuh dengan segudang kecacatan.
Memilihmu
Semakin berjalannya waktu dengan ketidakpastian yang semakin tinggi, anehnya aku semakin yakin bahwa pada akhirnya kamu adalah sosok yang kucari. Visimu barangkali membuatku tak henti-hentinya melangitkan doa agar kau lah yang dipilih olehNya untuk bertumbuh bersama.
Dulu aku beranggapan sama seperti orang kebanyakan bahwa setidaknya harus mapan sebelum mengungkapkan perasaan. Namun kini? Di tengah pandemi yang tak pasti, kondisi pasca menyeleseikan studi, justru keyakinan itu kian kuat, melawan ketakutan akan materi.
Dan anehnya, kamu terdiam, walau sudah tentu butuh istikharah panjang, butuh beribu doa yang dipanjatkan padahal kita belum pernah sedikitpun bertatapan. Dari situ aku semakin yakin bahwa kelak perjalanan ini akan dilandasi perjuangan, yang mungkin bahkan hampir mendekati zona tidak nyaman.
Jika nanti dalam perjalan kita menemui percabangan muara tujuan, semoga kita akan selalu ingat bahwa Allah sebaik-baik tempat kembali memohon petunjuk jalan. Jika nanti ada konflik-konflik yang terjadi, semoga kita selalu ingat bahwa kita pernah menggariskan kesamaan impian.
Hingga hari ini aku bersyukur, walau belum sampainya terlaksana pertemuan, tapi sudah sampai di sini, pada proses yang bagiku pertama kujalani. Pada proses yang kau inginkan menjadi yang terakhir. Seolah ini menjadi isyarat agar kita berwukuf pada tempat masing-masing. Agar bersegara menyiapkan yang terbaik. Agar semoga bersegera mewujudkan satu tahap ke depan: Pertemuan
Malang, 22 April 2020 Mushonnifun Faiz Sugihartanto
Selalu Ada Hikmah
Ramadan kali ini membuat kita merasakan keadaan yang sebelumnya tidak bisa kita bayangkan.
Namun, akan selalu ada hikmah di setiap musibah.
Mungkin di Ramadan sebelumnya kita tidak sempat mengaji, karena sibuknya pekerjaan yang kita hadapi. Namun sekarang kita bisa fokus ibadah, karena bisa bekerja dari rumah.
Mungkin di Ramadan sebelumnya, waktu kita habis di jalan. Tidak sempat menambah amal ibadah karena macet dan padatnya jalanan. Tapi sekarang, waktu kita sangat berlimpah. Kita berdiam di rumah, dan banyak kesempatan untuk beribadah.
Mungkin di Ramadan sebelumnya kitatidak tahu kapasitas diri sebagai pemimpin dan pembina. Tapi sekarang, sebagian dari kita ada yang harus menjadi imam di rumahya. Sehingga kita harus meningkatkan ilmu agama dan hafalan Qur'an kita.
Mungkin di Ramadan sebelumnya, kita tidak bisa membantu siapa-siapa. Amal ibadah sangat minim adanya. Tapi sekarang, banyak orang membutuhkan uluran tangan kita. Donasi dibuka dimana-mana.
Memang, banyak cara yang Allah berikan agar hikmah sampai kepada kita. Mungkin dengan keadaan sekarang, adalah salah satunya.
Sudah terlalu sering kita berpaling. Maka, sekarang adalah saat yang tepat untuk mendekat. Kepada Allah subhanahu wa ta'ala, yang selalu menyayangi hamba-Nya.
Yakinlah bahwa Allah akan selalu memberikan jalan di setiap keadaan. Jika sendiri, tak ada yang bisa kita lakukan. Tapi bersama Allah, masalah sesulit apapun bisa terselesaikan.
Kabar adalah satu hal paling mewah di antara kita saat ini.
Haizulfa
Ada makna yang tersirat dari setiap senyuman. Alhamdulillah hampir tiap tahun selalu ada pertemuan. Entah tahun-tahun berikutnya nanti.
Status kami masih sama, Masih sama-sama dapet duit dari orang tua haha Masih sama-sama merajut mimpi buat ketemu pangeran berkuda emas dengan hati ibu peri.
Bahasannya masih sama, masih seputar perkuliahan, prestasi, bahas pacar si ini pacar si itu, bahas magang, bahas cara cari uang, bahas gmana caranya cepet laku, dan bahasan menarik lainnya. Tapi sekarang udah agak mulai berat sih bahasannya, kadang bahas dakwah ataupun hijrah menjadi lebih baik. Entah ditahun keberapa bahasan kami ini akan berubah.
Bahagia Allah kasih kesempatan buat ketemu teman, sahabat terbaik kaya mereka ❣️
luv u All sehat2 terus semuanya❤️❤️
Aku belajar dari do'a.
Banyak kehangatan di dalamnya.
Tiada kata yang lebih romantis dari pada kata-kata dalam do'a.
Ia meneduhkan hati yang sedang gusar.
Mendekatkan yang jauh.
Menjadikan penyambung antara manusia dan Tuhan-nya.
Ketika hujan turun, maka berjuta do'a pun terucap.
Ketika azan berkumandang, do'a menjadi pemanis saat setelahnya.
Untuk itu.. Aku titipkan kamu dalam do'a💕
ternyata memang benar ya, ekspresi terbaik dari merindukan seseorang itu adalah mendoakannya.
well, buat kamu, yang sedang sibuk dengan segala kesibukannya, semoga Allah selalu melindungi, meridhoi dan memudahkan segala urusannya ya :)
Kau masih belum bisa melepasnya bukan karena kenangan kalian yang begitu banyak, tapi karena diam-diam di hatimu kau masih menaruh harap bahwa suatu saat ia akan kembali dan memperbaiki semua.
Admit that (via mbeeer)
“Bolehkah menyatakan kerinduan? Perasaan kepada seseorang? Tentu saja boleh. Tapi jika kita belum siap untuk mengikatkan diri dalam hubungan yang serius, ikatan yang bahkan oleh negara pun diakui dan dilindungi, maka sampaikanlah perasaan itu pada angin saat menerpa wajah, pada tetes air hujan saat menatap keluar jendela, pada butir nasi saat menatap piring, pada cicak di langit-langit kamar saat sendirian dan tak tahan lagi hingga boleh jadi menangis. Dan jangan lupa, sampaikanlah perasaan itu pada yang maha menyayangi. Semoga semua kehormatan perasaan kita dibalas dengan sesuatu yang lebih baik. Semua kehati2an, menghindari hal-hal yang dibenci, akan membawa kita pada kesempatan terbaik. Semoga.” -Tere Liye
19.54 Malam ini, kau menyampaikan pesan lewat hati bahwa di tempatmu turun hujan. Di tempatku juga, meski intensitas kederasannya berbeda.
Tapi kepada hujanlah barangkali kita harus berterima kasih. Karena hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap menjadi rahasia. Membasahi dua hati yang tandus menunggu jumpa, menghapus titik rindu, dan melarutkan kenangan yang terlalu perih untuk direka ulang. Bukankah semua siklus itu tetap terjaga menjadi rahasia?
kisah rindu matahari dan bulan
Ini tentang kisah rindunya matahari dan bulan
Mereka sama sama merindu
Namun Tuhan tak hadirkan mereka
Dalam waktu dan ruang yang sama
Masing masing miliki tugas tuk sempurnakan dunia
Matahari dan bulan yang merindu
Mungkin sama sama berharap
Rotasi yang ditentukan sekali saja berpapasan
Namun egonya akan memusnahkan 7 miliar insan
Dan mereka memilih untuk bertahan pada jalannya
Ini kisah yang mirip aku dan juga kamu
Semalam aku merindu
Ingin berkata
Ingin ungkapkan
Tetapi hanya ada mulut yang terbungkam
Biarlah
by : Arini Izzataddini
121215
Bila suatu saat kamu tahu, sudah seharusnya kamu melepaskan seseorang namun kamu merasa tak bisa, minta pada Tuhan agar Ia yang memisahkan.
Karena mengetahui dan menyadari bahwa sebuah hal yang begitu menyakitkan hati adalah ketetapanNya, akan menenangkan dan melegakan hatimu.
- Tia Setiawati
(via karenapuisiituindah)