Entah kemarin atau beberapa hari lalu. Ada serangga masuk ke dalam kamarku. Dengan niat baik, meski takut, kubantu serangga itu keluar. Sudah beberapa kali dia mencoba, tapi tidak kunjung ketemu jalan keluarnya. Sampai dia memilih diam, menunggu, dan menempel di gorden kamarku.
Akhirnya, kubuka jendela agar dia bisa terbang kembali ke alam bebas. Jendelaku terbuka bagian bawahnya, sedangkan bagian atasnya adalah engsel jendela. Takut-takut aku buka jendela lebih lebar, biar serangga itu mudah terbang, dan menemukan jalan keluar.
Serangga itu keras kepala sekali. Konsisten terbang ke bagian atas jendela yang tidak bercelah. Berkali-kali menubruk kaca yang bening. Ingin rasanya kutangkap, lalu kulepas, tapi aku memilih diam saja. Setengah karena takut, setengah lagi karena ingin memperhatikan.
Kucoba membuka jendela lebih lebar lagi, tapi bagian engsel malah semakin tertutup rapat. Beberapa kali serangga itu sudah hampir ke tepi jendela, tapi kembali ke tengah dan berusaha sekuat tenaga menghantam kaca.
"Memang kaca itu bening, menampilkan hamparan pohon dan kebun yang luas, tapi kalau kamu terus terbang di situ, kamu tidak akan bebas," kataku bicara sendirian. Aku tahu serangga itu tidak akan paham maksud ucapanku. Terbukti dengan responnya yang malah terbang semakin keras melawan kaca yang bukan tandingannya.
"Cobalah sesekali ke bawah atau cari jalan lain yang mungkin saja bekerja. Ada kalanya kita perlu keterampilan, bukan sekadar kekuatan," tambahku lagi sambil tetap diam memperhatikan.
Aku menunggu hingga beberapa detik kemudian. Tepat ketika aku mulai tidak peduli dan berniat menutup kembali jendela kamar, serangga itu benar-benar melakukannya. Dia terbang rendah ke bawah, mengikuti panggilan angin, dan akhirnya kembali lepas ke alam bebas.
Aku pun menutup jendela sambil masih terdiam karena merenungkan andai aku-lah serangga itu.