Barangkali, Pulang?
Telah dilalu sepanjang jarak ditempuh, yang dicari perihal tenang dan utuh. Telah pula dibumi-langitkan sejuta kata harap peluk untuk yang pelik. Tertutup kembali lisan yang kemarin mahir berkisah, berganti kata yang hanya mampu meluapkan kesah.
Kata yang tertulis pun mengalami berpuluh kali 'tak jadi'. Ia terlalu takut mengutarakan terlalu jauh. Selayaknya ketika unjuk suara lalu terabaikan karena bosan atau tak menarik. Kata yang tertulis pun turut seperti itu. Kata-kata itu turut takut melukai siapapun yang tak sengaja membaca.
Tersisa kini Ia bersama hati dan pikirannya yang sejak pertama kali bernapas menjadi temannya. Selamanya itulah tempat pulangnya. Keduanya ada hanya untuk menerima segala yang terjadi dalam hidup, tanpa pernah bisa memberikan tenang layaknya merasa 'pulang'.
Sejauh sauh terlepas pada pelayarannya yang pertama kali, sejauh itu, tak ditemukannya dermaga yang benar-benar aman untuk bersandar. Ia kembali beradu dengan ombak, badai, serta bahaya yang mungkin terjadi di tengah samudra. Selama itu.
Lantas, terbiasa. Pada akhirnya, Ia terbiasa bertahan. Selamanya tugasnya memastikan sekitarnya baik-baik saja. Bagaimanapun bentuk pertahanannya. Tak peduli seberapa bahaya medan itu menyiksanya. Sekitarnya harus baik-baik saja hingga pemberhentian yang terakhir.
Tak dirindukannya pulang. Pulang ke mana? Ia hidup untuk pergi menjaga dan bertahan.
Barangkali, sebab yang selama ini dikenalnya hanya arah, bukan singgah. Maka langkahnya terus menempuh perjalanan yang tak pernah benar-benar memintanya menetap. Sesekali ia menoleh, memastikan barangkali ada yang memanggilnya kembali. Namun, angin selalu lebih dulu berbisik: teruskan.
Maka ia melanjutkan perjalanan, sembari diam-diam menyisakan satu ruang yang tak pernah benar-benar ditutup. Barangkali, suatu hari nanti, ada tempat yang tak lagi membuatnya bertanya ke mana harus pulang.
.
tsa's room | 10.42 pm










