[Instagram] lalalalisa_m: An emotional, beautiful story that will soon be yours. Dream Short Film // premiering 2025.08.13 11pm EST
I'd rather be in outer space šø
Aqua Utopiaļ½ęµ·ć®åŗć§čØę¶ćē“”ć

ellievsbear

No title available
Monterey Bay Aquarium

if i look back, i am lost
Not today Justin
Three Goblin Art
Cosmic Funnies

ē„ę„ / Permanent Vacation

titsay

PR's Tumblrdome
RMH

ā

Kiana Khansmith

oozey mess

No title available
Jules of Nature

Janaina Medeiros
šŖ¼

seen from United States
seen from China

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Sweden

seen from United States

seen from Germany

seen from Germany
seen from Singapore

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Germany
seen from Netherlands
seen from Finland
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Singapore

seen from United States
@anggraini15
[Instagram] lalalalisa_m: An emotional, beautiful story that will soon be yours. Dream Short Film // premiering 2025.08.13 11pm EST
Berdamai;
Berdamai dengan apa yang terjadi, adalah cara paling sunyi untuk tetap bernapas dalam dunia yang tak lagi ramah.
Tak semua luka bisa pulih dengan datangnya pengganti, karena beberapa kehilangan kadang diciptakan untuk menetap, bukan untuk digantikan.
Dan semua ini bukan tentang melupakan, melainkan memaafkan dan merelakan segalanya. Sebab ada yang terlalu dalam untuk dicaci, dan tak ada yang terlalu suci untuk disesali.
Kita hanya belajar menerima, bahwa tak semua yang kita jaga akan tinggal, dan tak semua yang kita cintai akan kembali.
Jujur, melangkah pergi bukan pilihan yang ringan. Itu adalah keputusan yang dipahat dari ratusan malam tanpa pejam dan ribuan tanya yang tak pernah terjawab.
Sebab cinta bukan hanya tentang siapa yang menggenggam, tapi juga tentang siapa yang melepaskan tanpa ingin dimenangkan.
Ini soal hatiā yang berjuang sendiri saat dunia tak lagi peduli. Yang mencoba bangkit bukan karena sudah tak sakit, tapi karena tahu, bahwa tak ada yang akan menarikmu keluar dari luka selain dirimu sendiri.
Dan pada akhirnya, kau akan tahu: bahwa bangkit itu bukan tentang menjadi utuh kembali, melainkan belajar berjalan meski ingatannya akan tetap kau bawa dalam diam..
49. Duka tidak secepat itu reda, mungkin sesekali lupa, lalu tiba-tiba teringat tentang semua.
Begini ya, cara kerja semesta.
Pelan-pelan membiasakan luka jadi tak kasat rasa.
"Hidup adalah tentang proses, hikmah dan pembelajaran"
Perjalanan hidup telah membuat kita mencermati banyak hal, bahwa hidup bukan hanya sekedar menyelami hari-hari saja.
Bukan hanya tentang menjalani rutinitas dari bangun tidur hingga tidur dan bangun lagi di keesokan harinya.
Tapi, lebih kepada mencari hikmah yang tersembunyi dari setiap pergerakan kita dan apa yang tampak di bumi.
Agar kita belajar dan agar kita temukan makna disebalik peristiwa yang ada.
Yang membuat kita mensyukuri akan nikmat dan kebaikan yang telah Allah anugrahkan, atau menginsafi diri atas keburukan yang telah kita lakukan.
Dan dengannya kita pun berproses untuk terus berikhtiar menjadi lebih baik, mencapai impian dan tujuan, sembari terus menyiapkan bekal amal untuk kehidupan akhirat.
Nyaman dengan Kesendirian
Tau kenapa ada orang yg merasa lebih baik sendiri dari pada memiliki seseorang yg dekat? Membatasi pergaulan dan interaksi dgn org lain? Menutup dirinya?
Dalam stigma positif bagi mereka yg paham akan menilai, "Oh, mungkin memang karakternya, dia introvert. " Tapi, ditengah masyarakat yg memiliki budaya sosial yg tinggi, hal ini mungkin dianggap tidak wajar.
Mereka akan menilai dan menjustifikasi dengan stigma negatif. Meski mungkin kasusnya memang kebanyakan karena kurang percaya diri. Tapi ada bagi sebagian orang alasannya karena agar tidak ada lagi orang yg berekspektasi terhadap dirinya atau mungkin bisa saja karena takut akan melukai seseorang lagi nantinya.
Mungkin ada cerita di balik sikapnya itu. Mungkin ada luka yg masih tersimpan, mungkin ada trauma yg masih terpendam.
Rasanya lebih mudah berinteraksi dengan orang asing. Hanya berbalas sapa. Atau jika sempat bercerita panjang, saat berpisah usai sudah. Tak butuh ada perasaan emosional yg kemudian berlanjut.
Selalu ada alasan dari tindakan sikap diam atau sikap tertutup seseorang. Sebagian besar dirasakan oleh mereka yg introvert, meskipun tidak semua introvert merasakan hal yg sama. Tapi, ada mereka yg sulit atau memilih memberikan jarak dengan orang lain karena mereka ingin menjaga perasaan mereka sekaligus menjaga perasaan orang lain.
Meski niat mereka baik, sayangnya tidak semua orang bisa memahami itu. Ada yg bahkan tidak peduli apa alasannya. Mereka hanya ingin melihat apa yg ingin mereka lihat. Menutup diri dari segala kemungkinan atau sulit menerima sudut pandang lainnya. Atau mungkin ada yg memahami, tapi tidak tau mesti merespon atau berbuat apa.
Apapun penilaian orang lain, itu hak mereka. Setiap tindakan pasti memiliki konsekuensinya. Tidak ada yg salah dengan memilih menjaga jarak dan menutup diri. Itu bahkan mungkin bagian dari caranya bertahan. Hanya kita belajar untuk memahami dulu. Syukur jika bisa membantu. Jika tidak bisa jangan langsung menjustifikasi orang lain dengan stigma yg buruk.
Sadarkah kamu, kamu yang acapkali memikirkan perasaan orang lain di sekelilingmu, mementingkan agar mereka tidak tersakiti oleh ucap kata atau tindakanmu, sejatinya kamu justru sedang menyakiti diri sendiri.
Kasihani dirimu, mungkin mereka tidak terlalu peduli dengan kamu dan perasaanmu.
Jadi tolong jangan lagi mengucap kata "Iya" yang seharusnya bisa "Tidak".
Naik Turun
Hidup akhir-akhir ini kayak role-coaster. Dinamikanya gak main-main menurutku, tapi satu hal yang kusadari adalah ketakutan dan kekhawatiranku tidak seperti sebelum-sebelumnya. Karena beberapa kali mengalami fase naik-turun dan terlewati, ada keyakinan yang kuat bahwa ini pun nanti akan terlewati. Sekarang lebih mindful dan menikmati prosesnya, mengamati setiap detail makna dan tujuan. Sebagai salah satu hal berhasil kutangkap maknanya dengan sangat baik (menurutku). Keputusanku sebelumnya yang kuanggap salah (karena menghasilkan output yang tidak sesuai harapan), tapi justru dari pengambilan keputusan sebelumnya itulah aku dipertemukan dengan orang-orang yang kini justru bisa menjadi mentor dan guru. Orang-orang yang mungkin takkan pernah kudapatkan aksesnya jika aku tidak mengambil keputusan kemarin. Sehingga (misal kita konversi dengan nilai uang), kerugianku kemarin yang ratusan juta itu WORTH-IT banget dengan apa yang akhirnya kumiliki saat ini ketidak menghadapi dinamika baru. Itu semacam biaya belajar!
Kayaknya memang rumusnya begitu, kalau mau naik level, kita akan diuji di level sebelumnya dan perlu mengambil bekal sebaik-baiknya dari level tersebut utk bersiap menghadapi level berikutnya. Bekal itu hanya bisa didapatkan dengan berpikir jernih. Karena bekal itu berupa hikmah. Bagian itu yang termasuk sulit, karena aku pun baru menyadarinya saat bertemu dengan dinamika saat ini. Bahwa ujian di sebelumnya, ternyata menyiapkanku untuk menghadapi level ini. Alhamdulillah. Kalau nggak, mungkin saat ini aku udah nggak sanggup dengan ujiannya. Dan sekarang kalau melihat masalah, selalu penasaran dengan apa yang akan berhasil kuambil pelajarannya dari sini. Masalah yang terlihat sangat besar pun ketika dikonsultasikan dengan guru-guru kami, rasanya tenang banget. Kayak dunia ini itu kecil, tidak perlu digenggam dalam hati.
Memang masalahnya belum selesai, tapi ketenangan hati menjalani masalah adalah sebuah hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya akan kumiliki. Alhamdulillah. (c)kurniawangunadi
Labirin batin yang belum selesai
Barangkali, yang kita sebut ikhlas itu belum benar-benar bebas dari keinginan untuk terlihat mulia. Kita merasa telah memberi tanpa pamrih, padahal masih berharap dinilai baik. Kita merasa telah melepaskan, padahal hanya memindahkan harap dari materi menjadi validasi.
Ikhlas, dalam hakikat terdalamnya, bukan sekadar melepas genggaman tangan melainkan juga melepas segala keterikatan hati. Termasuk keterikatan terhadap pujian, tepuk tangan, bahkan pengertian dari orang lain.
Tapi manusia adalah makhluk yang kompleks. Di satu sisi ingin tulus, di sisi lain ingin dipahami. Ingin memberi tanpa pamrih, tapi juga tak ingin dilupakan. Maka di antara ikhlas dan harap, kita sering terjebak dalam labirin batin yang tak selesai.
Barangkali inilah latihan hidup: belajar memberi tanpa menunggu kembali, berkata tulus tanpa berharap diamini, dan menanam kebaikan lalu melupakan bahwa kita pernah menanamnya.
Karena sejatinya, keikhlasan tak butuh saksi. Dan yang benar-benar ikhlas, bahkan lupa bahwa ia telah ikhlas.
Saring traumamu. Jangan Jadikan Standar Menilai Dunia
Penafian: aku pernah bilang padamu, tidak semua tulisan untuk semua orang. Kenali level luka dan medan emosionalmu. Jika tidak sesuai, berpindahlah ke tulisan lain yang mungkin lebih bisa memelukmu.
Di antara luka-luka yang tidak pernah kita minta, tumbuh semacam keyakinan bahwa dunia ini tidak lagi netral.
Kita menatap orang lain seakan-akan mereka menyimpan motif tersembunyi yang akan merusak kita. Kita mencium niat busuk bahkan dari tangan yang menawarkan roti. Karena pengalaman mengajarkan bahwa kasih bisa menjelma jebakan, dan janji bisa menjadi preambul dari penindasan.
Tetapi, apakah adil jika kita mengangkat trauma sebagai tongkat pengukur seluruh umat manusia?
Trauma adalah bekas luka dari percakapan yang tidak selesai. Ia membentuk pola pikir, cara menakar bahaya, dan memilih siapa yang boleh mendekat. Tetapi, tidak semua orang datang untuk menusuk. Beberapa hanya ingin duduk di sebelah kita, tanpa kata-kata, dengan mata yang jujur dan tangan kosong. Dan kita, karena terbiasa membaca dunia dengan skenario perang, menolak mereka masuk. Kita menjadikan trauma sebagai algoritma utama: jika dia begini, maka dia pasti akan begitu. Jika mereka memakai kata āsayangā, maka mereka pasti akan pergi. Jika dunia terlihat cerah, maka badai pasti di depan mata. Begitu seterusnya.
Trauma yang tidak disaring akan menjelma menjadi ideologi. Ia memberi kita rasa kuasa untuk menilai sebelum mengenal, membenci sebelum disentuh. Ia membuat kita merasa benar karena kita pernah salah. Membuat kita merasa bijak karena kita pernah disakiti. Tapi itu bukan kebijaksanaan. Itu adalah mekanisme bertahan hidup yang belum sempat dipertanyakan. Kita hidup dari luka, dan diam-diam membangun kekuasaan moral darinya.
Seorang penulis pernah menggugat kepalsuan dalam konsep ākesucianā. Menolak menjadikan perempuan sebagai lambang penderitaan suci yang pasif. Ia menulis perempuan bukan sebagai luka yang harus dikenang, tapi sebagai tubuh yang berpikirāpenuh hasrat, logika, dan pilihan. Itu mengingatkanku bahwa kita tak harus terus-menerus hidup dari luka.
Kalau aku boleh menambahkan: kita boleh pernah disakiti, kita boleh membawa luka, tetapi jangan membuatnya menjadi dalih untuk menyalahkan dunia yang belum kita kenal. Jangan jadikan luka sebagai lensa satu-satunya. Dunia mungkin tidak didesain untuk mengobati kita. Tapi dunia menyediakan kemungkinan untuk sembuh, jika kita mau menenun luka itu dengan benang yang baru
Saring trauma itu, bukan untuk menghapusnya, tapi untuk memastikan ia tidak memutuskan semua jalur komunikasi. Dunia tidak akan mengecil demi luka kita. Tetapi kita bisa membesarkan jiwa kita agar tak merasa sesak di dalamnya.
Jangan jadikan trauma sebagai satu-satunya tafsir. Karena jika hidup hanya dibaca lewat trauma, maka harapan akan selalu tampak seperti ilusi.
Sudut pandang seseorang yang menjalani pernikahan meski Allah takdirkan sebentar saja namun sungguh memberikan banyak hikmah di dalamnya.
Ini untuk mbak-mbak, mas-mas yang ingin dan dalam proses menuju pernikahan. Percayalah bahwa idamanmu yang sholih tentu akan ada kurangnya. Dan sungguh jika kamu membayangkan pernikahan akan indah jika bertemu dengan seseorang yang baik, sholih, akhlak bagus sepenuhnya tidak salah dan sepenuhnya tidak benar juga. Karena sesholih atau sesholihah apapun pasangan kalian jika kalian tidak mampu mengimbanginya maka kamu akan tertinggal atau bahkan menjadi masalah. Jika kamu bermimpi bahwa pernikahan akan saling mengisi kekosongan ilmu maka tidak sepenuhnya benar, saranku sebaiknya kamu memulai dari dirimu sendiri. Karena pasangan hebat yang kita lihat hari ini adalah pasangan yang keinginan untuk belajarnya tinggi, kemauan untuk memenuhi keterampilannya baik, keinginan untuk bertumbuhnya tinggi saat masih sendiri.
Sungguh tidak ada pernikahan yang ideal. Akan ada saja permasalahan yang hadir mengiringi. Jangan bermimpi akan hidup indah ketika sudah menikah, jangan membayangkan akan ditemani selalu, jangan membayangkan akan romantis dan bahagia selalu, jangan habiskan waktumu untuk melihat keromatisan yang dipertontonkan di media sosial.
Habiskan waktumu untuk memperbanyak ilmu, memperbaiki akhlak, melebarkan sayap dan jaringan, meluaskan kesabaran, banyak bertemu dengan orang baik dan hebat. Karena pernikahan yang bertumbuh tidak akan lagi mengingatkan hal-hal yang sederhana seperti sholat, makan, dan sebagainya. Tapi jadikanlah pernikahan impian mu pernikahan yang meluaskan kebaikan, memperpanjang generasi-generasi baik, membicarakan hal-hal besar sehingga lahirlah peradaban yang baik untuk masa depan.
Ingat ya ini sudut pandang bisa jadi berbeda dengan sudut pandangmu.
suatu hari
suatu hari nanti, kamu akan menemukan kebahagiaan yang tiada berbatas. mungkin kamu menikah dengan orang yang sangat baik agamanya--tak seperti orang(-orang) yang sebelumnya pernah ada dalam hidupmu. mungkin juga tidak, kamu tetap sendiri. tetapi kebahagiaan itu ada dan nyata, dalam bentuk ketenangan hati yang tiada berkurang.
suatu hari nanti, kamu akan. dan pada saat-saat itu, aku yakin sekali bahwa kamu akan sangat mensyukuri yang pernah terjadi. kepergian orang yang dulu kamu cintai setengah mati, patah hatimu, luka batinmu. semua berubah menjadi rasa syukur. sebab itulah yang mengantarkanmu ke ruang hidup bernama kebahagiaan dan ketenangan.
lalu, pada saat-saat kamu sangat bahagia nanti, kamu akan ingat aku. seseorang yang bukan siapa-siapamu, tetapi pernah mendoakan kebahagiaan untukmu. kamu akan ingat aku sebab mungkin, barangkali, bisa jadi, kebahagiaanmu datang juga karena aku telah memaafkan dan aku mendoakanmu kebaikan hidup.
kamu akan ingat aku. dan mungkin pada saat-saat kamu sangat bahagia itu, hatimu akan terbuka dengan lebih lapang. untuk memaafkan aku--yang tidak pernah punya niat jahat apa-apa kepadamu. yang hanya dipaksa oleh keadaan. yang hanya berupaya sekuat tenaga untuk bertahan.
atau barangkali, hatimu juga akan terbuka dengan lebih lapang. untuk meminta maaf kepadaku--yang yah, kamu yang lebih tahu sepertinya karena apa.
semoga kamu bahagia ya. aku tidak tahu bagaimana kabarmu sekarang dan aku sudah berhenti mencari tahu sejak lama. tapi, sesekali, aku masih mendoakanmu. semoga kamu bahagia. jika sekarang belum, suatu hari nanti kamu akan.
š„¹
Tanya.
Pernahkah bertanya kepada dirimu sendiri, mengapa di hari ini kamu mudah sekali marah, mudah sekali terhasut, pikiranmu selalu keruh, hatimu selalu rusuh? Padahal sebelumnya kamu selalu tenang, selalu damai. Menerima keadaan apapun, ketika situasimu tidak baik-baik saja. Bahkan kamu sedang tumbang, tapi kamu selalu berpositif.
Kamu yang dulu, selalu berpikir jernih. Memandang segala sesuatu dari arah yang baik, kini mudah sekali berpikiran sempit. Kamu yang dulu tidak mencaci kalau tidak memiliki, tidak memaki kalau tidak didapat. Karena dipahami yang bukan untukmu tidak akan pernah menjadi milikmu, kini menjadi lepas kendali.
Kamu waktu itu sangat tenang, tidak ada riuh di kepalamu, tidak ada kebisingan di pikiranmu. Sebab mengerti masing-masing sudah tertakar rezekinya, tidak akan tertukar.
Pernahkan bertanya mengapa di saat ini kamu begitu berisik, entah itu pikiranmu, entah itu hatimu. Kalau benar demikian, tidak kah kamu merindukan dirimu yang dulu?
@menyapamakna1
Kadang, kita merasa kehilangan⦠padahal nggak selalu ada yang benar-benar hilang.
Yang berubah mungkin cuma caranya hadir. Yang dulunya dekat, sekarang cukup dalam doa. Yang dulunya ramai, sekarang cukup jadi kenangan yang baik.
Hidup memang nggak ngajarin kita untuk menggenggam erat.
Tapi untuk belajar merelakanādengan damai.
Bukan karena kita lemah, tapi karena kita tahu⦠semua yang datang adalah titipan, dan semua yang pergi adalah bagian dari rencana.
Kalau rasanya sesak, mungkin bukan karena dunia sempit.
Tapi karena hati kita penuh dengan yang belum kita lepaskan.
Dan kadang, rasa itu muncul bukan tanpa sebabā¦
Mungkin ada luka yang belum sembuh, atau dosa yang belum kita tangisi cukup dalam.
Tapi jangan takut. Allaah nggak pernah jauh...
Yang penting kita mau terus pulang. Sekali pun jalannya lambat.
Karena yang paling penting dalam hidup ini bukan siapa yang tinggal,
tapi siapa yang tetap menggenggam kita⦠bahkan saat kita lagi jatuh-jatuhnya:
Allaah..
Tumbuh dewasa itu ternyata bukan soal jadi tahu semua jawaban. Tapi tentang berani tetap hidup walau kamu tahu kamu nggak tahu harus ke mana. Tentang tetap melangkah, walau kaki sudah berat, dan hati sering kehilangan arah.
Kamu memang belum tiba. Tapi kamu sedang menuju. Dan itu lebih dari cukup.
apa yang berharga?
pada hari ini, apa yang berharga bagimu? jabatan?
kekayaan? cinta? bagaimana dengan ketenangan?
maka aku belajar tentang ketenangan beberapa waktu lalu. ketenangan itu bersumber pada ketaatan kepada Allaah. iya, ketaatan. tidak ada ketenangan yang tidak dimulai pada sebuah taat. orang-orang yang kehidupannya tenang, mereka menjalani hari-harinya dengan menjaga diri dengan baik. berjalan pada koridor syariat yang sudah Allaah tentukan.
ketenangan tidak akan bisa diraih dengan diri yang tidak taat. bagaimanapun mungkin kamu akan tenang, jika anak yang kamu kandung tidak memiliki nasab bapaknya. sederhananya, jika kamu taat pada penjagaan diri, maka hatimu akan tenang sebab kamu tidak akan hamil jika kamu benar-benar menjaga dirimu dengan baik. ini tentu berlaku bukan untuk perempuan saja. laki-laki juga demikian, jika kamu taat, maka kamu tidak akan gusar untuk bertanggung jawab pada apa-apa yang tidak kamu lakukan.
pada hari ini, melihat berita di lini masa media sosial, perihal untuk menormalisasi hamil diluar pernikahan. percayalah pada apa yang dilakukan penyimpangan diluar syariat Allaah. maka sampai kapanpun engkau tak akan pernah merasakan ketenangan. sebab tenang itu ada pada jalan ketaatan kepadaNya. maka pilihlah jalan ketenangan itu, agar kamu merasakan apa itu perasaan bangga dan berharga.
Bila Takdir Menyayangimu Lewat Cara yang Tak Kamu Pahami
Tak semua kehilangan itu benar-benar kehilangan. Dan tak semua yang ditunda adalah penolakan. Kadang, yang tenggelam bukan untuk dihancurkan ā tapi untuk diselamatkan dari arah yang salah. Allah menenggelamkan kapal bukan karena ingin melihatmu terombang-ambing.
Tapi karena Dia tahu: Kapal itu, jika berlayar terlalu jauh, akan membawamu ke pelabuhan yang justru mencelakakanmu. Maka Dia tenggelamkan ā bukan untuk menyakitimu, tapi agar kau kembali memeluk daratan-Nya.
Kadang, cara Allah melindungimu adalah dengan mematahkan keinginanmu. Kadang, cara-Nya menyelamatkanmu adalah dengan memisahkanmu dari sesuatu yang terus kamu perjuangkan.
Bahkan ketika kamu merasa, "Aku sudah cukup berdoa, sudah cukup baik, kenapa tetap tidak diberikan?" Maka jawabannya adalah: Karena Allah mencintaimu ā dengan cinta yang tahu persis kapan waktu terbaik untuk memberi. Dan kadang⦠cinta itu datang dalam bentuk penolakan.
Semua yang Allah tetapkan ā meski menyakitkan ā tetaplah yang terbaik. Karena pilihan Allah untukmu, selalu lebih tahu, selalu lebih tepat, selalu lebih menyelamatkan, dibandingkan semua pilihanmu sendiri.
Selamat bercerita dengan doa, gapapa, semua akan baik-baik saja
@jndmmsyhd
Memeluk Rapuh
Peluklah sisimu yang rapuh. Jangan dibiarkan menangis sendirian. Ia sudah berjuang begitu keras menyelamatkan jiwamu yang hampir menyerah. Ia sudah berupaya menyelamatkan jiwamu yang hampir mati.
Jangan begitu kejam kepada dirimu sendiri. Jangan menghakimi. Temani. Ucapkan terimakasih karena tak memilih untuk meninggalkan dunia dengan sengaja.
@terusberanjak