When someone knows you well, love takes many forms. 🍵💕 Some are less flashy, but mean just as much.
Chibird store | Positive Pin Club | Instagram
todays bird
$LAYYYTER
KIROKAZE

#extradirty
The Stonewall Inn

bliss lane
TVSTRANGERTHINGS

Discoholic 🪩
occasionally subtle
🩵 avery cochrane 🩵
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
cherry valley forever

pixel skylines
Sweet Seals For You, Always
almost home
Not today Justin
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

titsay
The Bowery Presents

Love Begins
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Slovakia

seen from Singapore

seen from Germany
seen from United States
seen from Colombia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Indonesia

seen from United States
seen from Venezuela
seen from Venezuela
@anggunpertiwiii
When someone knows you well, love takes many forms. 🍵💕 Some are less flashy, but mean just as much.
Chibird store | Positive Pin Club | Instagram
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin 𝘙𝘢𝘩𝘪𝘮𝘢𝘩𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩 berkata,
“Dunia tidaklah panjang,
hari-harinya berlalu,
maka bersabarlah,
sampai menjumpai ketentuan Allah”.
Syarh Riyadhus Shalihin
Bersabarlah...
Musibah paling menyedihkan bukanlah perasaan yang dikorbankan, melainkan waktu yang disembelih oleh kesia-siaan.
Taufik Aulia
Persimpangan Doa
Setiap darimu tidak akan pernah tau di persimpangan mana akan bertemunya antara harap juga doa yang dilangitkan, juga tidak akan pernah tau ditempat mana akan bersemainya doa. Taukah kamu, bahwa setiap doa akan ada tempat terbaik untuk dikabulkan? Karena sebenarnya, doa itu adalah kebaikan untuk setiap yang memohon, ia begitu dahsyat bahkan bisa mengalahkan akal logika.
Persimpangan doa, akan dipertemukan pada siapa yang sudah siap menerima, oleh siapa yang sudah mampu memikulnya, dan menjalankannya dengan baik. Bukan melulu soal pencarian sebagian jiwa, tapi lebih dari itu. Persimpangan doa akan membawa pesan tersendiri, bagaimana dengan diberinya kamu kebahagiaan, kamu mampu untuk lebih bersyukur dan lebih menerima dengan penerimaan yang baik. Jika ternyata kamu baik menjalaninya, akan ada persimpangan doa lain yang akan menyapamu, ia adalah bagian dari mimpi yang pernah kamu minta dengan pengharapan agar di kabulkannya.
Dipersimpangan doa, kamu akan dipertemukan pada ia yang sama-sama memohon untuk satu tujuan kebaikan. Disitulah, ia akan berbagi cerita denganmu tentang bagaimana ia bisa sampai pada persimpangan ini. Dipertemukankan denganmu, tidak bisa diterka tapi semuanya nyata.
Teruslah berdoa pada setiap apa yang kamu inginkan dan citakan. Karena jika saatnya tiba, kamu akan menemukan persimpangan doamu sendiri. Untuk kebaikanmu juga sekelilingmu.
@jndmmsyhd
"Maha besar Allah dengan segala ketentuan dan nikmatnya. Saat orang di luar sana menganggap saya atau kamu sebagai seorang yang baik, padahal usia saya berkarat dengan banyaknya main-main, terlalu banyak hal yang ingin ditulis tapi takut jika nanti malah menjadi bumerang untuk saya pribadi."
Maha besar Allah dengan menutup semua aib kita, nikmat yang kadang terlupa, tidak taunya orang pada aib kita adalah nikmat yang sangat besar, mensyukurinya dengan tidak berbangga hati dan memvonis bahwa diri ini seorang yang sholih.
Barangkali nanti orang melihat kita sebagai seorang yang baik, maka ucapkan doa semoga Allah benar-benar menjadikan kita seperti yang orang sangka. Dan jika nanti orang menjauh dari kita tersebab aib-aib kita yang tampak, maka ucapkan doa agar Allah matikan kita dalam keadaan taubat, bukan maksiat yang berlanjut.
Menata kepergian.
@jndmmsyhd
“Kalo sedang dikasih hepi, ga perlu menampakkan banget di publik, perhatikan perasaan orang lain. Kalo sedang sedih dan menjadi yang melihat org share kebahagiaan di publik, mari kendalikan perasaan minimalisir kebaperan.”
—
Dua sisi sudut pandang ini bisa menjembatani perdebatan antara ‘kita yang merasa baik-baik saja menampakkan kebahagiaan di publik karena ga perlu terlalu menjaga perasaan orang lain’ VERSUS ‘kita yang merasa bahwa kita juga harus menjaga perasaan orang lain dengan mengendalikan apa-apa yang ditampilkan.
Sebagai yang lagi hepi, kita perlu berempati. Sebagai yang lagi kesusahan, kita perlu bersabar dan mengendalikan perasaan.
Sesederhana itu perkara ini. Rasul tuh orang yang paling menjaga perasaan, dan Rasul juga orang yang paling bersabar dalam semua keadaan. Kalo sebagai yang berbahagia kita ga peduli perasaan orang, dan ketika kesusahan kita tidak bersabar dan mengendalikan perasaan, siapa yang kita anut?
*tulisan ini muncul setelah gw nonton video Mr.Kokom dari Malaysia yang judulnya ‘Manusia Yang Tak Tahu Bersyukur.’
MAAF IBU
Ya Allah sebagaimana ibuku telah mencintai aku dengan caranya, maka cintai dia dengan cara-Mu ya Allah
Ya Allah sebagaimana ibuku telah mengasihi aku dengan caranya, maka kasihi dia dengan cara-Mu ya Allah
Ya Allah sebagaimana ibuku telah menyayangi aku dengan caranya, maka sayangi dia dengan cara-Mu ya Allah
Ya Allah sebagaimana ibuku telah menghapus derita yang aku miliki dengan caranya, maka hapuslah derita yang dia miliki dengan cara-Mu ya Allah
Ya Allah sebagaimana ibuku telah membantu aku dengan caranya, maka bantulah dia dengan cara-Mu ya Allah
Ya Allah sebagaimana ibuku telah banyak menyelesaikan masalahku dengan caranya, maka selesaikanlah masalahnya dengan cara-Mu ya Allah
Karena sungguh ya Allah. Tiada wanita dengan hati; jiwa; dan niat yang tulus kepada aku selain ibuku. Tiada seorang wanitapun yang bisa membuatku tegar; membuat ku bahagia; menghapus luka dan berbagai derita di kala aku merasa susah, kecuali ibuku ya Allah.
Aku bersaksi atas nama-Mu ya Allah, karena sungguh demi Allah, ibuku lah yang paling pantas untuk mendapat kebaikan apapun; kebahagiaan apapun; kedamaian dan ketentraman apapun di dunia ini berkat kasih dan sayangnya yang selalu ada untuk buah hatinya.
Ibuku menyayangiku dengan tulus dari hatinya. Karena kasih sayang tulus yang dari hati dapat dirasakan di hati pula. Dan sungguh ya Allah aku bersaksi bahwa aku telah merasakan ketulusan atas kasih dan sayangnya di dalam hatiku.
Maka ya Allah jika ada hal yang bisa aku perbuat untuk membahagiakannya; bantulah aku; bimbing aku; beri aku kekuatan.
Karena ya Allah aku tak sekuat ibuku. Aku tak setegar dia. Aku tak sesabar dia. Aku tak setaat dia dalam menyembah-Mu; bersujud dan memohon kepada-Mu untuk kebaikan yang bahkan bukan untuk dirinya sendiri.
Ibu ku mencintaiku dengan caranya; maka aku berdalih selalu berselisih dan menganggap diri telah mencintainya dengan cara yang ku miliki. Cara yang ternyata salah. Maafkan aku ya Allah dan maafkan aku ibu. Maaf…
Sumber foto : Google
Syaikh Robi bin Hadi Al Madkholi حفظه الله berkata
" Hak kedua orang tua tidak akan pernah gugur walaupun mereka terjatuh dalam perbuatan bid'ah, walaupun mereka terjatuh dalam perbuatan kesyirikan karena sesungguhnya wajib bagimu bergaul dengan keduanya di dunia dengan cara yang baik"
Washoya Luqmanul Hakim Li Ibnihi hal 92
Perkataan yang harus selalu di renungi detik demi detik, karena sejatinya syurga terdekatmu berada di dalam rumahmu yaitu ayahibuk.
Meskipun berbeda pemahaman, beginilah cara Allah menguji tiap-tiap hamba-Nya.
Ada yang diuji dengan keluarganya, pasangnya, anaknya, hartanya dst.
Bila ada perkataan orang tua yang tidak melanggar syariat selama itu baik, wajib untuk dipenuhi.
Terimakasih ayahibuk, meskipun ada perbedaan diantara kita. Engkau selalu mendengarkan dan berlapang dada dengan keputusan anakmu ini.
Keluarga Tidak Selamanya Mendampingi
Cahaya dari lampu di pinggir jalan itu terbatas, setelah itu kamu harus tetap berjalan dalam gelap malam, dengan apa yang ada padamu, entah sendiri atau bersama. Seperti itu juga keluarga, tidak selamanya mereka harus menemanimu, kelak kamu akan berjalan dengan cara hidupmu sendiri, menghadapi masalah dan menentukan pilihan. Tidak selamanya keluarga harus menjadi tameng dan tempat meminta bantuan.
Cobalah untuk mandiri, menjadi dewasa dan memiliki hati yang kuat, karena kelak di penghujung perjalanan setiap orang akan bertanggung jawab pada dirinya masing-masing. Harusnya, tiap bertambah usia bertambah pula kualitas hidup, dari cara menyikapi masalah, memandang permasalahan, mengurangi sifat yang buruk.
Jika laut pasti akan ada surutnya, jika gelapnya langit pasti akan ada purnamanya. Maka kamu, pasti akan ada masa bahagianya. Karena usaha dan doamu tidak mungkin Allah tidak dengar. Ia tau kapan waktu yang tepat memberikanmu cahaya dan terangnya kehidupan.
Kelak kamu akan memiliki sebuah keluarga, dan mulai mengajarkan kehidupan pada anak-anakmu, memberikan kekuatan pada mereka bagaimana harus bertahan dan mempertahankan, membisikkan pada mereka bahwa nanti mereka akan menjadi lebih baik darimu. Kapal yang besar akan melahirkan kapal-kapal kecilnya, seperti ini perputaran dunia.
Syukurilah keluargamu, darinya kamu tumbuh, dan darinya kamu belajar kehidupan.
@jndmmsyhd
Sebelum Genap.
“Ujung dari langkah yang kita buat untuk mencari adalah penerimaan.” - Iidmhd
… karena akan selalu ada yang lebih baik tetapi yang menerima apa adanya kamu; tidak selalu ada.
Menilik postingan instastory Masgun kemarin seputar “Apa sih yang kamu ingin tanyakan kepada calon pada saat proses pranikah yang mungkin sungkan ditanyakan tetapi penting?“ dan seperti biasa respon dari ask me tersebut memberikan banyak sekali pencerahan.
Berikut beberapa hal-hal yang perlu ditanyakan menurut followers Masgun beserta tanggapannya:
Visi hidup dan rencana setelah menikah? (Make sure. Jangan sampai tidak ditanyakan)
Apa yang dilakukan jikalau marah? Pernah sampai mengekspresikan dengan kekerasan fisik? (Sifat temperamental, mudah marah, dsb perlu divalidasi di lingkungan dan pertemanan dia selama ini. Bagaimana dia jika ada masalah, dsb. Teman-teman terdekat di lingkarannya yang paling melihatnya. Potensi KDRT-nya besar jika kamu tidak bisa mengenali dan mencari data valid soal ini)
Bersediakah setelah menikah tinggal dekat dan atau bersama orang tua saya? (Ini cukup sensitif, tidak mudah bagi seorang menantu untuk beradaptasi tinggal serumah dengan mertua. Jika calonmu mengatakan bersedia, menjadi wajib bagimu untuk membantu dan membuatnya nyaman di rumah orang tuamu. Jika tidak bersedia, tidak perlu memaksa. Cari yang lain)
Orang tua berbeda ormas, bagaimana? (Termasuk berbeda soal lainnya, contoh: beda organisasi keislaman, beda budaya, beda cara pandang soal sesuatu. Ada keluarga-keluarga yang menganggap hal-hal seperti itu sebagai syarat mutlak. Ada juga keluarga yang terbuka terhadap perbedaan seperti itu. Jika tidak bisa diterima oleh keluargamu. Tidak perlu memaksakan. Menikah urusannya panjang, kalian tidak hanya hidup berdua)
Sex life. Banyak sekali kasus tiba-tiba suami didiagnosis HIV positif kemudian yang terkena imbas adalah keluarga. (Ini bisa jadi pertanyaan tabu tetapi penting. Ada yang menjadikannya hal penting, contoh: keperawanan atau keperjakaan, ada juga yang tidak. Jadi, jika sex life ini penting bagimu. Tanyakan. Lebih berat menanggung risikonya daripada beratnya bertanya)
Saya ingin bekerja walaupun sudah menikah. Bagaimana? Boleh? (Ini menjadi case di kalangan perempuan, ingin bekerja setelah menikah. Jika itu penting bagimu, tanyakan. Tidak sevisi. Cukup sampai di sini. Cari yang lain. Karena itu juga akan melihat soal mindset. Perkara nanti kamu ketika menikah akhirnya memilih menjadi ibu rumah tangga, itu juga keputusan sadarmu. Bukan karena disuruh dan terpaksa)
Uang yang kamu dapatkan dari mana saja? Uangnya mengalir ke mana saja? (Ini penting sekali, serupiah pun jangan sampai lolos. Karena ini untuk menjaga harta yang ada dalam keluarga itu benar-benar halal dan berkah. Sekaligus untuk menghitung zakatnya. Jika sudah sampai haul/nisabnya)
Jika saya ternyata tidak kunjung memberikan keturunan, apakah akan menikah lagi atau akan bersabar? (Ini juga pertanyaan sejenis, contoh: laki-laki atau perempuan tidak subur karena kondisi atau sakit tertentu sehingga tidak memungkinkan memiliki anak dalam pernikahan. Hal seperti ini, harusnya tidak hanya ditanyakan kepada pasangan tetapi bagaimana pendapat kedua orang tuanya. Karena bisa jadi ybs tidak mempermasalahkan tetapi tidak dengan orang tuanya)
Pernah HS (having sex) atau tidak? (Hal-hal seperti ini, mungkin ada yang terbuka dan ada yang tidak. Karena bisa jadi jika batal proses pra pernikahannya, kamu jadi tahu rahasianya. Jadi, sepakati sejak awal bahwa di proses pranikah akan terbuka. Karena bagimu ini penting, jika dia tidak bersedia. Ya sudah lebih baik berhenti sebelum lebih jauh sampai kamu mengetahui rahasianya, kecuali dia memang bersedia secara pribadi ingin mengatakannya di awal bahkan sebelum proses lebih dalam. Karena dia memiliki pandangan bahwa itu adalah pintu masuknya. Kita belajar bahwa aib yang Allah tutupi jangan sampai dibuka kembali jika ybs sudah bertobat. Jika kamu merasa perkara HS ini penting, make sure bahwa dia memiliki pandangan yang sama bahwa hal tersebut penting untuk diketahui sebelum menikah. Nanti berlanjut ke persoalan kesehatan reproduksi)
Gaji Pasangan. Ingin sekali menanyakan tetapi bingung memulainya. (Tinggal tanya, gajimu berapa dan bagaimana mengalokasikannya selama ini? Lalu rencana ke depan dengan pendapatan tersebut setelah berumah tangga. Jangan pertaruhkan hal-hal yang besar untuk perkara-perkara ketakutan-ketakutan yang kecil. Pernikahan itu hal yang sangat besar, bertanya dalam proses itu hal yang masih sangat kecil risikonya dibanding dengan menjalani pernikahan itu sendiri)
Apakah keluargamu memiliki utang? Apa saja janji-janjimu terhadap orang tuamu? (Insightfull, apa saja janji-janjimu kepada orang tua? Jawabannya akan sangat penting buat jadi pertanyaan ke diri sendiri, apakah saya bersedia membantu mewujudkan janji-janji tersebut atau tidak?)
Jika saya memiliki prinsip menghindari utang riba tetapi kamu justru kerja di bagian pencari nasabah, lalu bagaimana? (Ini prinsip-prinsip bermuamalah. Ini juga bisa direfleksikan ke hal-hal serupa yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dalam menjalankan agama. Jika bagimu penting dan tidak ada toleransi. Seharusnya tidak ada ruang untuknya. Jika masih ada ruang, berarti itu dorongan hawa nafsu)
Kesehatan. Minta tes kesehatan sebelum nikah terutama tes HIV. (Medcheck. Jika kamu meminta dia medcheck, kamu juga harus. Jika ini penting bagimu, lakukanlah. Hal ini lebih banyak manfaatnya untuk kehidupan pernikahan ke depan. Jika kemudian hasilnya diketahui ada penyakit bawaan di diri calon. Kamu harus siap untuk mengambil keputusan. Jangan menikah karena kasihan, sungkan dan takut omongan orang)
Utang atau tanggungan keluarga saya masih ada. Kamu siap menerima atau tidak? (Saya menekankan kepada teman-teman jika tahu kondisi keluarga soal utang, dsb lebih baik dikomunikasikan. Sebab, utang itu diwariskan. Ekstremnya, jika orang tua tiba-tiba meninggal dan masih ada utang maka anak-anaknya lah yang harus melunasi utangnya. Apalagi jika kondisimu saat ini masih bekerja dan berjuang melunasi utang orang tua)
Pola asuh anak. Apakah nanti akan terlibat dalam pengasuhan atau fokus bekerja? Seperti apa pola asuhnya? (Pandangan soal pola pengasuhan ini juga penting. Jangan sampai ‘kecele’. Cek tidak hanya ke dia tetapi juga keluarganya. Jangan sampai kamu pro-vaks dan baru tahu setelah menikah jika pasanganmu itu anti-vaks. Bisa perang dingin di dalam keluarga. Dan pola-pola pengasuhan lainnya)
Nanti kerjanya bagaimana? Apa masih berbeda kota juga? Karena saya juga berat melepas karir saya sekarang. (Jika pada masa perkenalan sudah tahu career path-nya berbeda dan teguh terhadap keinginan masing-masing. Memang lebih baik tidak usah dilanjutkan. Karena itu adalah misi, caramu menjalankan visi besar yang mungkin kamu sendiri tidak bisa menjelaskannya dengan baik. Apalagi jika pekerjaan tersebut memiliki urgensi besar untuk tetap kamu miliki seperti karena kamu harus membantu keluarga, dsb)
Siap dengan Mama saya yang selalu mengukur segalanya dari uang? (Kita mungkin bisa menerimanya, tetapi tidak bisa menerima orang tuanya atau juga sebaliknya. Dia bisa menerima kita dan orang tua kita tetapi kita sendiri tidak yakin apakah nanti hubungan antar keluarga (orang tua x orang tua) bisa baik. Jika ini penting untuk ditanyakan, tanyakan. Jika ini penting untuk dikatakan, katakan. Karena bisa jadi rumah tangga itu oleng bukan karena kitanya tidak siap menikah dsb tetapi karena intervensi orang-orang terdekat kita sendiri)
Izin poligami karena kerja di luar kota. Saya jawab silakan tetapi bukan dengan saya. (Saya tidak kontra dengan poligami, karena itu ada dalam agama yang saya imani. Yang jelas S&K-nya berlaku. Jika kamu merasa tidak bisa memenuhi S&K-nya tersebut, tidak usah diambil)
Kenapa kamu mudah sekali berutang (uang) demi mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan? (Watak atau kebiasaan bisa ditanyakan. Apalagi jika hal tersebut adalah sesuatu yang tidak se-value dengan diri sendiri. Jika masih tetap tidak menemukan jalan tengah, berbeda pandangan yang artinya sama juga dengan berbeda value. Pernikahanmu jauh lebih berharga daripada orang tersebut)
Jika saya ada masalah dengan Ibunya bagaimana cara dia mendamaikan kami? (Insightfull, bagaimana cara calon mengatasi masalah-masalah yang akan timbul antara kita dengan orang tuanya?)
“Pernikahan itu hal yang sangat besar, bertanya dalam proses itu hal yang masih sangat kecil risikonya dibanding dengan menjalani pernikahan itu sendiri.”
… karena lebih baik gagal dalam proses ketimbang gagal setelah menjalani pernikahan.
“Membangun visi dan misi keluarga itu berangkat dari memilih pasangan hidup.” - Istri Masgun
Lebih utama jadilah sebaik-baiknya dirimu; sebelum mencari atau ditemukan.
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Libatkan Allah Subhanahu Wata’ala selalu di dalam prosesnya. Lalu niatkan menikah karena ibadah.
“Jika dulu niatnya menikah karena terlanjur suka, suruhan orang tua, faktor umur, ekonomi, keadaan dan situasi, semua ini harus diubah niatnya. Diubah niatnya memang karena ibadah. Ingin mengerjakan karena perintah Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya. Dan betul-betul jika diniatkan ibadah, semua kejenuhan, perasaan-perasaan yang terbebani karena adanya karakter pasangan, beban-beban kewajiban seperti nafkah bagi laki-laki, melayani ekstra dari perempuan ke suaminya, ini akan jadi ringan.” - Ust. Khalid Basalamah.
Sehingga pernikahanmu senantiasa dilimpahkan keberkahan dan menjadi keluarga sehidup sesurga. Aamiin.
Sebab, pernikahan bukan lembaga rehabilitasi.
Berbenahlah sebelum menikah. Berbenahlah bukan agar diterima atau sebab ingin menikah tetapi berbenahlah karena kesadaranmu sendiri dengan memohon pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala.
Jangan berharap orang lain akan berubah setelah menikah; hal tersebut tergantung kemauan yang ada dalam dirinya. Keputusan yang secara sadar dibuat oleh dirinya sendiri.
Jika kamu pun menyadari bahwa mengubah dirimu sendiri harus melewati proses yang tidak mudah dan sebentar maka menjadi mustahil memastikan kamu bisa mengubah orang lain.
Telaah karakter, cara berpikir, dsb karena di situlah ‘rumah’mu seumur hidup; nantinya. Bukan hanya ‘rumah’mu namun juga ‘rumah’ bagi anak-anakmu; kelak.
“Jangan sampai kamu menikah dengan orang yang kamu tidak ingin hidup dengan sudut pandang dan cara berpikir yang kamu tidak mau.” - Masgun
Tidak ada yang sempurna memang, tetapi putuskan dengan penuh kesadaran dan sekiranya kamu rida menjalaninya.
Jadi, pastikan semuanya sudah ‘clear’ sejak awal; sebelum genap :)
“Jangan pernah kehilangan harapan, meskipun kamu berpikir itu semua sudah berakhir.”
—
Sebab, pertolongan Allaah itu dekat.. (via andromedanisa)
aku percaya, pertolongan Allaah itu dekat..
(via andromedanisa)
maka, aku berharap kembali. sebuah harapan yang tidak pernah membuatku kecewa jika aku berharap hanya kepadaNya saja. kabulkanlah wahai Rabbku, kabulkanlah..
Seseorang yang (benar-benar) Memperjuangkanmu
Kalau ada orang yang selalu terihat baik kepadamu, bisa jadi dia sedang mendekatimu. Entah mengapa barangkali kamu harus lebih sering menjaga hati saat berhadapan dengannya. Kamu tidak boleh memberikannya harapan lebih, sebab bisa jadi justru dia hanya bermain-main saja.
Kalau ada seorang yang selalu menghubungimu untuk sekedar basa basi, kamu pun harus membalas sekadarnya. Jangan berlebihan, hingga membuatnya memupuk perasaan yang bisa jadi akan menyusahkanmu ke depan saat kamu ternyata memutuskan untuk menolaknya.
Kalau ada orang yang selalu menolongmu, kamu pun harus menjaga diri dan hati. Sebab bisa jadi pertolongan-pertolongan itu yang nanti membuatmu memendam perasaan yang berlebih. Padahal dia tak lebih dari sekedar perpanjangan tanganNya untuk membantumu.
Kalau ada nanti orang yang mengajakmu pergi, kamu harus berani untuk menolaknya dan memberikan penegasan kepadanya. Sebab kamu diciptakan olehNya untuk menjaga diri, bukan untuk mudah berpergian dengan siapapun.
Kalau nanti ada orang yang menjanjikan banyak hal kepadamu, janganlah mudah percaya. Memang benar, semua berawal dari komitmen dan kepercayaan, namun dia tidak bisa benar-benar dikatakan serius sebelum meminta izin kepada yang berhak atasmu.
“Lalu kepada siapa aku harus percaya, ayah? Kepada siapa aku harus menerima?” seorang anak gadis yang beranjak dewasa bertanya kepada ayahnya yang sedang bersamanya. Ayah itu pun tersenyum, sambil melirik istrinya disampingnya, seraya mengedipkan matanya.
“Bunda, jawab lah pertanyaan anak gadis kita satu ini,” kata ayah sambil tersenyum.
“Kalau nanti ada orang yang seperti ayahmu dahulu saat meminta bunda. Ia akan memintamu baik-baik, menjaga kedekatan denganNya serta hubungan dengan keluarganya terutama ibunya, serta mau bekerja keras untuk menafkahi hidup keluarganya kelak. Sebab dia adalah seseorang yang benar-benar memperjuangkanmu.”
Malang, 6 Mei 2020 15.44 @faizunaa
Berusaha terjaga
Siapa saja bisa mengaku cinta. Namun perbuatanlah yang pada akhirnya membuktikan.
Taufik Aulia
Lelah beribadah itu hanya sementara, nanti akan hilang juga
Sementara pahalanya insyaallah kekal selamanya
Semangat!
Bahkan ketika lo pake pelet atau jimat atau ajian jampi-jampi untuk membuat seseorang bertahan, ketika masa berlakunya habis atau ada pantangan yang dilanggar, lo akan tetep ditinggal.
Pada akhirnya, semua orang yang ada bersama lo saat ini, bakal beralih, berpindah, bergeser, lalu pergi, kok. Ngga ada, literally ngga ada, yang bisa bener-bener membuat mereka bertahan sama lo. Forever and always is a myth. Jangan goblok masih percaya sama pepatah dongeng macam itu.
Nothing can make someone stay; not love, not sex, not kids, not marriage, not even so called family. Blood is thicker than water they said? Ah, severe hemorrhage would suffer you a lot that you need water to help you survive.
Here's a flash reminder for your daily toxic positivity;
you could say I love you every seconds, shower them with lovely acts, give them all they want and need, be the best that you can, call them every spare time, meet them daily, do what they ask, not doing what they dislike, and they still leave.
You could reply their text in lightning speed, and they still leave. You could remember every single detail of them, and they still leave. You could give them any gifts they wish, and they still leave. You could accompany them from scratch, and they still leave. You could sacrifice every inches of your life for them, and they still leave.
You could check all of their messages box, and they still leave. You could ask them to be true and honest to you, and they still leave. You could have a professional spy to keep an eye on them, and they still leave.
You could have sex regularly, and they still leave. You could be pregnant, and they still leave. You could tie the knots in a marriage, and they still leave. You could give them all the access to your money, and they still leave. You could have their delightful brilliant kids, and they still leave.
They will still leave, if they want it. Period.
TAPI KAK??!!!
I'm not saying that leaving is a good thing to do. It maybe not, it maybe is. Depends. On what? Idk. All I know is, we have NO control over somebody's life. Lo nggabisa ngatur-ngatur orang itu harus sama lo doang sampe dia wafat. Ketika mereka mau pergi, ya mereka akan pergi aja, ngga peduli lo udah head over heels mempertahankan.
JAHAT BANGET, KAK!!!
Ya memang. Kata siapa dunia baik?
Belakangan rame-rame netijen ngomongin drama korea yang tentang kehidupan pernikahan itu, gue semalem akhirnya ikut-ikutan geng serumah nonton dua episode (yha walaupun bosen gakuat dan akhirnya gue tinggal-tinggal nyuci baju, jemur pakaian, ngecek flash sale shopee, baca artikel soal wound dressing dll).
Dengan referensi selintas gue nonton, mungkin lo bisa lebih relate kalo gue pake contoh ini; bahkan dengan karakter se-sempurna tokoh utama di drama itu, dia tetep weh diselingkuhin lakinya. Semua netijen akan sepakat kalo si tokoh utama ini kurang apalagi sich buuun, tapi ya itu buktinya ditinggalin juga kan. Ya karena emang ngga ada yang menjamin seseorang akan bertahan sama lo. Gitu aja udah.
Mau lo iket pake rante kapal juga mah ya, mereka bisa aja nyari tukang besi buat ngancurin rante itu. There will always a way.
Tentu ada saja mereka-mereka yang masih bertahan dalam satuan waktu yang tidak sebentar. Mungkin lo akan mengambil contoh-contoh relasi sehidup semati dalam kisah nyata yang lo tau. That's fine. Good for them. But in the end of the time, mereka tetep dipisahkan, kan? Oleh kematian.
The point is; never, EVER, have and expectation that you could make someone stay. Because you can't.
Then what to wish?
Seize the day.
Dalam relasi apapun dengan siapapun, rasa-rasanya yang paling masuk akal adalah make the most of it. Be your very best version, give your most sincere ones, like there will be no tomorrow, like you will be leaved the next day. Sehingga ketika semuanya benar-benar berakhir, atau lo benar-benar ditinggal, you'll have an easier closure and less regret.
Balik lagi, lakukan yang terbaik untuk apa-apa yang ada di dalam kendali lo aja, lalu belajar keras untuk menerima apa-apa yang ada di luar kendali lo; termasuk kemungkinan bahwa lo akan ditinggalkan dan orang-orang dalam relasi yang lo bangun itu tidak bertahan lagi. Lo ngga punya kendali atas hidup orang lain, se-ingin apapun lo untuk memilikinya.
Ya memang akan tetap sedih merana frustasi sakit kepala patah hati bahkan gila. Nggapapa. It's a cycle. Life is a series cycle of leaving and being leaved, kok. Lo juga bisa jadi sudah pergi dan menyerah dari relasi-relasi sebelumnya. Nggapapa. Begitulah likaliku kehidupan, beb.
Berikut sepercik tabokan untuk siang harimu yang terik yang gue temukan di twitter:
That's it. That's all for today.
-
p.s: postingan ini dibuat sambil mendengarkan Lost in Translation-nya Moira&Nieman. Now I dare you to re-read this post while doing so. Thank me later 👌
“Seringkali kita merasa baik-baik saja saat menunda kebaikan, merasa tidak ada beban setelah melewatkan. Berpikir akan ada kesempatan yang kedua, ketiga, dan selanjutnya.”
— Padahal bisa jadi kesempatan itu tidak bisa lagi kita ambil. Karena nanti sudah diperuntukkan bagi orang lain, karena nanti hati kita sudah lebih keras dan tertutup, atau nanti kita yang sudah tidak lagi ada. Jangan dilewatkan. (via dannydzulfikri)
Bersamai Allah, Bersamai yang Bersama Allah
Photo by mostafa meraji
Ketika bertanya perihal jodoh, bunda saya selalu berpesan,
“Bersamai orang yang bersama Allah, ya, Nak”
Pesan ini selalu mempunyai banyak arti. Membersamai orang yang bersama Allah, pun selalulah bersama Allah. Bersamai Allah, dan bersamai orang yang bersama Allah. Dalam memilih sahabat, teman dekat, pun dalam memilih teman hidup, pesan beliau sama.
Bersama Allah, hati akan tenang, jalan akan lapang, tidak peduli halangan dan rintangan.
Membersamai orang yang bersama Allah, akan mengingatkan kita kepada Allah. Mereka yang selalu mengingatkan kebenaran. Mereka yang selalu mengajak kepada kesabaran.
Kali ini, saya ingin membahas poin sabar.
Coba deh, kita gak nemuin tuh di Al Qur'an,
“Innallaha ma'al mustaghfirin, qonitin, mushollin, sho'imin,” "Allah bersama orang yg memohon ampun, orang yang patuh, orang yang sholat, orang yang puasa,“
Kita gak nemu itu di Al Qur'an.
Tapi yang kita temui apa?
"Innallaha ma'as shobirin..”
“Allah bersama orang yang sabar,”
Photo by Lily Banse
Al Hafiz ibn Rajab rahimahullah suatu kali pernah bercerita,
“ayat atau hadits, yang menjelaskan diriNya bersama dengan seseorang, menunjukkan bahwa orang tersebut telah kehilangan sesuatu yang berarti. Dan Dia tidak pernah mengambil sesuatu kecuali memberikan sesuatu sebagai balasannya. Dan yang terbaik yang Allah beri adalah apa?
DiriNya!”
Terdapat narasi dari Rasulullah Muhammad SAW yang mengatakan bahwa di hari akhir nanti ada orang yang diingetin Allah, “Ketika aku sakit, kamu kok tidak datang?”. Orang itu bingung, “Ya Rabb! Engkau Rabb semesta alam dan Engkau bilang Engkau sakit dan hamba tidak datang? Maksudnya apa?”. Allah lalu mengatakan, “Bukankah kamu tahu kalau si fulan dan fulan sedang sakit? Kiranya kamu mendatanginya, kamu akan menemukanKu bersama dirinya!” Ketika sebuah bala, kesusahan, atau kepahitan tersebut menjadikan dirimu kembali menemukan Allah, menjadikan dirimu kembali kepada Allah, dibersamai Allah, yakinlah bahwa di hari akhir nanti kamu tidak akan menyesali bala tersebut.
Sekarang, bagian yang paling penting.
Mudah sekali gak sih bilang ke orang, “sing sabar,” atau “yang sabar, ya,”, atau kalimat penenang lainnya? Mudah sekali gak sih untuk menulis soal mengajak kesabaran ini di platform ini? Tapi kudu bagaimana sih, sabar yang dimaksud?
Sabar, dalam bahasa arab, sepaham belajar ke Sh. Abdul Nasir Jangda, terjemahannya adalah “mengikatkan sesuatu,”. To tie something down. Ikatkan diri kita kepada Allah, ketika badai itu datang. Ikatlah sejak awal, bukan ketika di tengah-tengah badai, supaya sabar yang sejati semakin diraih.
“Kembali ke Allah! Ketika nyeri itu muncul, kembali ke Allah!”
Ketika rasa nyeri, kesusahan, bala, kesedihan, semua itu datang, pertama-tama, larilah ke Allah. Sebut, dan benar-benar berharap kepadaNya. Bukan sekadar mengucap istighfar semata, tapi mendalami apa yang dirasa dan memanggil Allah, “Yaa Rabb, tolongin hamba …”
Sudah jadi janjiNya, di Al Baqarah ayat 153, dibersamaiNya.
Pun, dengan orang-orang yang ketika ditimpa kesusahan lalu ia berlari kepada Allah, bersamai mereka.
Maka bersamai Allah, bersamai pula orang yang bersama Allah.
InsyaaAllah tenang, yah.