bisa gak sih, kita kembali sebagai teman. tanpa perlu ingat kita pernah punya rasa yang sama
Cosimo Galluzzi
Cosmic Funnies
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
One Nice Bug Per Day
d e v o n
🩵 avery cochrane 🩵
Keni

blake kathryn
noise dept.
KIROKAZE
No title available

Discoholic 🪩
Today's Document
Lint Roller? I Barely Know Her

No title available

if i look back, i am lost
Xuebing Du
h
Show & Tell
Stranger Things
seen from Canada
seen from Jordan
seen from Bangladesh
seen from United States

seen from United States

seen from T1

seen from United States

seen from Brazil
seen from Germany

seen from Italy

seen from United States

seen from Saudi Arabia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Singapore
@anginlembah
bisa gak sih, kita kembali sebagai teman. tanpa perlu ingat kita pernah punya rasa yang sama
Ternyata lukaku belum juga kering.
Rinduku belum juga memudar.
Hanya berhenti sejenak, bukan berarti melupakan.
Bukan dia yang menyakitimu, ekspektasimu yang membuatmu terbelenggu.
Bukan siapa siapa.
Mau minta izin memiliki boleh?
Oke, aku mencintaimu. Selanjutnya terserah takdir.
Dan dia berkata, ”Semua orang berhak berbahagia, aku, kau, dia, mereka, juga yang lainya. Yang pasti jangan paksakan mereka yang bersedih untuk ikut merasakan kebahagiaanmu. Kau terlalu egois untuk itu.”
Berjalan, melangkah, dan menapakan jejak.
Perjalanan selalu mengajarkan sesuatu yang baru. Memberi hal hal yang tak pernah kita tahu, bahkan terkadang memberikan prespektif baru dalam memandang dan menghadapi sesuatu.
Membayangkan untuk memulai melangkahkan kaki mungkin terlihat sangat mudah, terpampang keindahan masa depan, juga semua tentang bayangan kemegahan di dalam pikiran. Namun untuk benar benar memulai perjalanan kita perlu juga untuk benar benar membulatkan tekad. Berfikir mengarahkan tujuan, memilih batu pijakan, juga pegangan dalam setiap perjalanan terjal.
Dan pada akhirnya kau akan tahu, mengapa kau harus terus berjalan, untuk apa kau terus melangkah, untuk siapa kau menapakan setapak demi setapak langkah kakimu. Menggapai gunung tertinggi selalu diawali dengan langkah kecil, perlahan namun pasti, jika disertai dengan tekad, energi positif, serta ke-konsistenan dalam melangkah bukan tidak mungkin gunung akan ditaklukan.
Photo : Jabal Tutil, Provinsi Kassala, Sudan
Waktu berlalu begitu cepat, kayanya kemarin baru hari jumat, sekarang udah jumat lagi.
Iya, begitulah tanggapan prang yang tidak memperhatikan kesehariannya untuk apa.
Tidak ia muhasabah, dan berlalu tanpa berusaha menghapus dosa dalam sehari.
Saya adaah salah satu dari mereka, saya merasa waktu begitu cepat. Tidak terasa ujian demi ujian berlalu begitu cepat. Bahkan tidak terbayangkan sebelumya akan secepat itu.
Ujian minggu depan, tiba tiba esok hari sudah di depan mata, tanpa adanya persiapan yang membuat saya siap dalam menjawab soal yang akan di lontarkan.
Itu masih permasalahan dunia, belum menapak ke permasalahan akhirat.
Semua berlalu begitu cepat, 10, 20, 30 tahun berlalu hingga tak terasa kulit mulai menua, mata mulai rabun, rambut memutih, dan makan sudah berpantang.
Dunia adalah ujian bagi Nabi Adam, namun anak cucunya terlena dengan ujian.
Setelah ujian berlalu, akankah kita siap menerima hasil rapor seumur hidup? Ingat tidak ada lagi kata remedial, apalagi ujian susulan. Yang ada hanyalah ganjaran bagi mereka yang lukus, dan mereka yang gagal.
Yuk semangat lagi. Setiap hari adalah perjuangan, setiap hari adalah perbaikan.
Sekali hari ini tak mengapa istirahat, besok lanjut lagi.
Jangan menjanjikan pelangi setelah badai
“Bekas luka akan tetap membekas, apapun bentuk kesembuhan yang ditawarkan oleh masa depan”
-Fatah jingga. Dikutip dari novel karya Sdavincii
#Gunung.
Sumbing adalah pendakian ke-3 ku. Setelah Gunung Prau dan Slamet.
Karena pendakian ke tiga, saya dan tim lebih matang dalam persiapan baik fisik, maupun logistik. Oiya dan logika.
Berangkat dengan beranggotakan 5 orang, yaitu Saya, Uki, Juan, Syahrul, dan Was menuju basecamp yang sudah kami kenal, basecamp Garung, di Kabupaten Wonosobo, dengan menumpang bis kecil antar kabupaten dari terminal Magelang setelah sebelumnya menumpang mobil ayah syahrul dari Yogyakarta sampai terminal Magelang. Sebelum menaiki bis, kami ber empat sedikit meluruskan kaki, dan shalat ashar di masjid terminal. Sementara was, mengambil tenda, dan beberapa logistik dari rumahnya.
Sementara was mengambil tenda, dan logistik, kami bercengkrama renyah, sembari kembali mengecek perlengkapan, dan logistik baik tim, maupun pribadi.
Was rupanya cukup lama meninggalkan kami di terminal guna mengambil tenda di rumahnya. Hal ini tentu saja membuat kami cemas, mengingat hari semakin petang, dan takut bis antar kabupaten semakin susah dicari.
Setelah di telfon sekian kali tanpa jawaban, was datang dengan tas carrier besar, dan dengan sebuah tenda di tangan. Dan kami pun ber "haahh" dan "fyuuh" lega melihat was kembali.
Setelah was merapikan dan mengatur barangnya, kami bergegas menaiki sebuah angkutan menuju dusun Garung, di Wonosobo.
Karena bis cukup ramai kami sempat terpisah, was, juan dan syahrul di bis bagian depan. Sementara aku dan uki di bagian belakang, dengan tas uki yang ada di bagian depan bis.
Tak ayal, aku mengingatkan uki guna memperhatikan tas carriernya, agar tidak ketinggalan nantinya.
Bis antar kota melaju cepat dan sering sekali mengerem mendadak menurunkan penumpang, tak terasa satu per satu penumpang turun, hingga di dalam bis hanya ada kami ber 5, dengan 2 kernet dan 1 supir.
Kami mengobrol hangat tentang seputar dunia pariwisata, terutama potensi wisata daerah magelang dan wonosobo.
Kernet mengingatkan kami, agar bersiap siap untuk turun, karena basecamp yang akan kami gunakan untuk mendaki sudah dekat.
Setelah membayar, kami turun perlahan, karena tas yang kami bawa cukup berat.
Sampai di depan jalan masuk menuju basecamp, kami disambut kabut tebal dan angin yang kencang. Sebelum melanjutan perjalanan, kami mampir di masjid terlebih dahulu, guna mendirikan shalat maghrib yang agak terlambat mendekati adzan isya, karena perjalanan menuju wonosobo dari terminal magelang.
Adzan isya berkumandang, tak lama setelah kami salam dari shalat maghrib, kemudian menunggu jama'ah guna shalat berjamaah isya bersama warga dusun garung.
Setelah dzikir dan ba'diyah, kami bergegas memakai kembali alas kaki dan bergegas berjalan ke atas ditemani kabut yang sedari tadi belum juga mereda.
Sejenak sedikit terasa tetesan air, membuat kami berjalan bergegas menuju tujuan.
Namun tujuan kami malam itu bukanlah basecamp pendakian, melainkan rumah salah satu warga, yaitu pak Nur Habib yang mana beliau dan keluarga sudah mengenal uki, dan disitu saya baru tahu ternyata anak beliau adalah teman satu sekolah kami.
Di depan basecamp, kami di tegur oleh salah satu warga setempat, karena kami hanya lewat dan tidak registrasi terlebih dahulu "Mas, mau kemana? Kok ndak registrasi dulu?" Seorang bapak setengah baya menegur kami, setelah menyapa.
"Mau ke rumahnya Pak Nur Habib pak, bade nginep teng ngriko" balas uki, karena memang ia yang memiliki ide untuk tinggal sementara di rumah beliau.
Setelah mengobrol, dan sedikit menjelaskan, akhirnya kami kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah yang dituju.
Sesampainya disana, kami di suguhi makanan, dan minuman teh hangat khas daerah Garung.
Setelah berbincang, kami ditunjukan kamar yang terletak dilantai dua, disana kami segera menata ulang bawaan kami dan mencoba memasang tenda yang dibawa was.
Tenda kapasitas 6 orang itu nampaknya sangat kokoh, dan nyaman dan akan kami bongkar esok hari setelah shubuh.
Pagi tiba, setelah sholat shubuh, yang mana hanya uki saja yang berjamaah dimasjid, dan sisanya bangun terlambat dan mendirikan sholat di kamar tersebut wkwk, setelah sholat dan menyeduh teh hangat, kami, eh maksudnya uki meminta izin kepada tuan rumah untuk turun kebawah, untuk registrasi di basecamp dan sedikit berbelanja logistik tambahan yang tidak kami bawa dari kota.
Setelah registrasi di basecamp, kami turun kebawah, ke arah masjid yang semalam kami gunakan shalat maghrib dan isya guna mencari toko yang buka. Namun toko toko di samping jalan semuanya tutup sehingga kami memutuskan untuk menunggu sementara di pos ojek depan balai desa.
Tak lama menunggu, hujan kemudian turun. Hal yang sangat lumrah terjadi di bulan desember. Dan pada akhirnya berbincang, bercanda, juga menunggu hujan reda adalah kegiatan yang kami lakukan.
Tak lama hujan agak mereda menjadi gerimis. Karena bosan menunggu, aku iseng saja jalan ke sebelah kanan, dan lihatlah, ternyata ada toko kelontong yang sudah buka.
Oh yeah, kenapa gak dari tadi jalan kesitu bambaaang.. -_-
Kami berlima menutuskan berbelanja di toko tersebut. Setelah berbelanja, kami kembali terjebak hujan di pos ojek tadi.
Setelah menunggu lama, kami memutuskan untuk berlari ke atas ketika hujan sudah agak mereda.
Dan syuutt kami berlari sekuat tenaga, mengingat di gunung, cuaca sangat tidak menentu, kadang cerah berganti hujan lebat hanya dalam hitungan menit saja.
Dan benar setelah cukup lama kami berlari, hujan kembali menderas. Kami memutuskan untuk berteduh di salah satu toko kelontong di dekat basecamp.
Dan .... hujan semakin menderas, sempat ku takut karena suara hujan keras sekali menghajar atap toko dikira huja es ekwk
Setelah menunggu lama, kami memutuskan membeli jas hujan plastik atau ponco, dan menerobos hujan.
Dan setibanya kami di depan basecamp hujan reda. Oh yeah..
Kami bergegas melangkahkan kaki, mengingat target awal kami jam 9 sudah mulai trekking mendaki. Dan saat itu pukul setengah sepuluh pagi.
Setelah sampai di rumah,kami bergegas mengemas tenda, packing ulang, dan sarapan. Kemudian kami meminta izin kepada Pak Habib, orang tua teman kami, kemudian berdoa bersama untuk melanjutkan perjalanan mendaki gunung sumbing.
Jam 11 pagi kami memulai trekking mengikuti jalan setapak yang telah disediakan pihak pengelola basecamp Garung.
Jalanan berbatu khas desa di pegunungan menyambut kami di perjalanan menunu pos 1. Di jalan itu pula lalu lalang para tukang ojek yang mengantar naik, maupun turun para pendaki. Aku sempat tergoda untuk menyetop ojek yang kosong, guna menumpang untuk naik ke pos 1, karena jujur, jalur berbatu ala desa adalah salah satu jalur yang menyebalkan menurutku wkwkwk
Setelah sekitar 1jam berjalan, kami sampai di pos 1. Kami istirahat, dan mendirikan shalat dhuhur disana, dan kami jamak dengan ashar. Nyaman rasanya berada di dalam mushola pos 1, hangat mengingat baju kami agak lembab karena keringat dan beberapa tetes gerimis menerpa sepanjang jalur menunu pos 1. Apalagi disini juga terdapat warung warung warga, juga pos ojek yang akan siap membawa pendaki turun
Namun, langkah kaki harus tetap kami langkahkan untuk menuju puncak sejati Gunung Sumbing.
Setelah semua siap berjalan, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2, berbeda dengan perjalanan menuju pos 1 yang amat sangat terbuka, karena melewati jalur utama, yang kanan kirinya adalah ladang sayuran milik warga, sedangkan jalan menuju pos 2, mulai memasuki hutan, dan agak lebih tertutup
Setelah cukup lama berjalan, kami beberapa kali beristirahat, dan bercengkrama dengan sesama pendaki.
Pendakian menuju pos 2, terbilang cukup lumayan menguras tenaga, karena aku salah menunjukan jalan yang berakibatkan syahrul harus berjalan di tanah licin, yang samping kanannya langsung menghadap jurang. Tak jarang selama perjalanan kami menemukan beberapa pendaki yang keram, termasuk saya, mungkin akibat terlalu lelah, atau suhu udara yang cukup dingin, atau bisa juga karena barang bawaan saya yang cukup berat.
Sesampainya di pos 2, kami agak kesulitan, karena disini gerimis mulai menitikan airnya di sepanjang perjalanan. Namun kami tetap melanjutkan perjalanan menuju pos 3 dengan menggunakan jas hujan plastik atau ponco. Ketika kami lanjut berjalan ternyata gerimis mereda. Hmm.. biar lah. Karena tidak nyaman, saya melepas jas hujan bagian atas.
Dan ternyata disitulah letak kekuatan fisik dan kekompakan tim di uji, kami melalui jalur yang diberi nama "engkol engkolan".
Engkol engkolan terkenal dengan tingkat kemiringan yang lumayan. Selain itu, pada saat itu kami berjalan ketika keadaan tanah sedang basah setelah diguyur gerimis. Tak hanya itu, tidak adanya pohon disekitar kami yang diakibatkan kebakaran hutan juga menyulitkan kami dalam menentukan pegangan, juga pijakan kaki.
Tak ayal kami saling tarik menarik, untuk melewati engkol engkolan.
Melewati engkol engkolan pada saat musim kemarau sepertinya juga bukan hal yang menyenangkan, mengingat pasti akan banyak sekali debu berterbangan di area ini.
Setelah cukup lama saling menarik, dan menentukan pijakan, kami memasuki jalan setapak yang lebih baik menuju pos 3.
Sudah nampak beberapa tenda pendaki terlihat di seberang, sepertinya itu pos 3.
Kami berjalan menuju pos 3, dengan keadaan medan yang terbuka minim pepohonan akibat area yang menghitam sebab kebakaran hutan yang terjadi pada musim panas tepat sebelum kami mendaki, angin bertiup sangat kencang, malah lebih mirip badai, ditambah sepanjang perjalanan matahari tidak bersinar terik, malah justru sesekali mendung dan gerimis.
Hal ini membuat sekujur badan kami menggigil. Dan imbas dari itu semua, kami harus terus berjalan guna menjaga suhu tubuh, tak hanya sekedar berjalan kami juga harus terus berkomunikasi, guna memastikan semua anggota tim dalam keadaan yang baik baik saja. Atau untuk memastikan tidak ada gejala hipotermia ringan menyerang kami.
Sesekali kami istirahat, teringat nasihat teman teman yang pernah mendaki sumbing untuk mendirikan tenda di pos Pestan yang akhirnya kami urungkan. Setelah sampai di pos 3, kami memutuskan untuk mendirikan tenda, nyaman rasanya melepas carrier di punggung, namun bagian punggung yang lembab membuat kami semakin terasa dingin.
Sampai sampai juan, uki, dan was tidak mampu mengikat tali fly sheet tenda untuk melindungi dari badai. Akhirnya, aku dan syahrul mencoba memasang tali tersebut. Setelah tenda kami jadi dan rapihkan, kami bergegas berganti baju, memakai jaket dan pakaian hangat kami. Dan keadaan menjadi lebih baik saat itu. Kami bisa berpikir dengan tenang dan canda tawa kami benar benar lepas saat itu.
Ketika kami sedang memasak untuk makan malam, penghuni tenda di samping kami, yang ternyata sudah 3 hari di sumbing mberikan kami segelas bubur kacang hijau.
Bukannya sok indie atau apapun, ternyata benar apa yang selama ini mereka bilang. Kami menjadi lebih mengenal satu sama lain, lebih mengerti, dan lebih menjadi diri kami masing masing. Dan tanpa handphone kami bisa lebih senang, bahagia, pokoke jos lah.. wkwkw
Tak terasa sunset mengintip diantara awan awan mendung, menikmati senja dengan secangkir yang tidak ada isinya menemani kami berfoto, mengabadikan kenangan sunset diantara deru angin badai yang belum juga reda.
Lepas sholat maghrib dan makan, aku memutuskan untuk tidur, dan meminta untuk dibangunkan ketika isya, untuk sholat isya.
Kemudian berbincang sejenak. Ditemani suara angin badai yang terus mengguncang tenda kami.
Kami menerka-nerka bagaimana keadaan esok hari, jujur kami takut tak bisa mendaki sampai puncak. Dan jujur kami lebih takut jika kami tak bisa pulang ke rumah masing masing.
Akhirnya setelah berbincang bincang, kami memutuskan untuk mengatur alarm pukul 3 pagi, guna melanjutkan perjalanan menuju puncak, summit attack.
Dan kamipun terlelap dalam pelukan jaket hangat dan sleeping bag.
Pukul 3 pagi alarm serentak menjerit dari hp masing masing kami. Mendengar suara tenda masih dihempas angin badai, kami saling bertanya satu sama lain, "gimana lanjut ga nih?"
Dan keputusan dibuat bersama, "tunggu sampai pukul 4, atau 5" dan kami setuju.
Pukul 4, badai masih meniup gunung sumbing begitu pula pukul 5.
Dan pukul 6 pagi semuanya sudah tenang, setelah shalat dan mempersiapkan logistik, dan gear yang akan kami bawa ke puncak, kami mulai melangkahkan kaki pukul 7 pagi.
Disini drama sedikit terjadi, saya terlalu nyaman dalam pelukan sleeping bag sehingga malas untuk bergerak menuju puncak dan memutuskan untuk tidak ikut.
Uki, was, syahrul, dan juan membujuk saya untuk terus ikut berjalan bersama sama menuju puncak disana. Hingga uki mengucapkan kata itu "Bil, kalo kamu ga ikut, kita semua gak jadi naik. Udah stay sini ajalah"
Saya menjadi sedikit berfikir, masa iya gara gara mager, semuanya gagal ke puncak. Jika saya tetap merenguh dalam tenda, teman teman ini tidak akan melanjutkan perjalanan ke puncak, dan akan menetap di tenda. Dan itu artinya saya egois. Dan menghianati kesepakatan awal, untuk berjalan ke puncak.
Oke, gas ajalah kepuncak.
Perjalanan diawali menuju pos pestan, dengan membelah hutan yang tidak terkena dampak kebakaran hutan kemarin. Semakin mendekati puncak, jumlah vegetasi semakin sedikit, jalan tanah juga mulai berganti dengan batu.
Dan kembali, kekompakan kami diuji di pos pasar watu dan watu kotak. Jalan yang sempit dengan jurang di sebelah kirinya membuat kami harus saling mengingatkan untuk fokus, dan tetap berkonsentrasi. Menarik tangan kawan ketika mendaki bebatuan licin juga membuat dada kami sedikit terpacu.
Setelah melewati watu kotak, memutuskan untuk istirahat sejenak dan menikmati Gunung Sindoro di sebrang sana.
Indah, kami berfoto dan bercanda sembari menikmati kabut sindoro yang perlahan pergi dari puncaknya.
"Coba tadi gak jadi ke puncak, gak bisa apdet status sama foto profil nih hahaha"
Dan kami pun tertawa bersama.
Puas menikmati pemandangan, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak, sesekali kami beradu lari cepat. Dan tersandung napas sendiri pada akhirnya.
Tak lama, bebatuan semakin menerjal, terdapat dua persimpangan disana, dan kami memilih jalur sebelah kiri.
Setalah berjalan cukup lama, kami sampai puncak buntu, namun ini bukan puncak yang kami tuju, dan kami memutar balik menuju persimpangan tadi, dan mengambil jalur sebelah kanan. Disana, kami ertemu bapak berumur 50tahunan mendaki menuju puncak yang sama. Ketika kutanya kenapa masih mendaki, beliau menjawab "Mendaki itu bagi saya sebuah refleksi jiwa, masihkah ada jiwa keegoisan dalam diri saya? Makanya saya coba chek ketika mendaki" jawaban sang bapak mengingatkan drama di awal pendakian menuju puncak. Ternyata, dibandingkan kenikmatan pribadi, berjalan bersama teman lebih nikmat daripada hanya menunggu di tenda dengan sleeping bag.
Tak lama, jalur semakin terjal. Bebatuan curam dilewati. Dan saya yang berada di paling belakang tak ayal semakin semangat karena uki sudah berteriak puncak dari atas sana.
Yap puncak Sumbing, 3371 MDPL. Pukul 11 pagi, kami sampai di puncak sumbing.
Kami saling memeluk dan memberikan selamat.
Setelah berpuas diri dengan berfoto, kami mulai memasak, dan memakan beberapa makanan ringan yang kami bawa dari tenda tadi.
Kawah sumbing begitu gagah, dengan genangan air yang luas di bawah, beberapa pendaki terlihat berjalan di kawah sana, mengingat sumbing tidak lah se akyif sindoro di sebrang sana.
Sembari memasak kami berfoto foto, mengabadikan momen momen yang akan kami kenang kelak esok hari.
Tak lama rombongan asing datang. Nampaknya mereka bukan turis lokal. Bersama guide yang membersamai mereka, kami berbincang sejenak, ternyata benar,mereka adalah turis dari singapura yang ingin menikmati alam indonesia.
Setelah berfoto, dan mengobrol dengan bahasa inggris yang belepotan, kami berpisah, mereka memutuskan untuk turun terlebih dahulu, karena jadwal tour mereka padat. Selama berbincang dengan merek, aku yang tidak paham hanya bilang "yes" dan "yes". Sedangkan was yang cukup ahli dengan inggrisnya, terus bertanya mengenai ini dan itu. Tentu dengan bahasa inggris yang tentu saja belepotan.
Setelah turis singapura turun, kami mengeja kembali langkah langkah yang telah kami jejakkan menuju puncak sumbing.
Sambung ke part 2 nanti ya, inshaAllah.
Maaf, aku terlalu merasa memilikimu, aku tidak tahu siapa dirimu, dan bagaimana tempatku di hatimu.
Yang aku tau hanya aku merasa senang melihat kau bahagia.
Kau tahu? Aku sering kali tersenyum ketika melihat kamu tertawa.
Apa lagi ya? Entahlah, mungkin itu saja. Terima kasih untuk tetap tersenyum.
Oi..
Ayok gapai semua yang ga pernah disangka!
Cuma mau nulis, saya masih belajar jadi orang baik. Kalo kadang kelakuan saya ga baik, harap maklum, kan masih belajar. Kadang kalo ujian sering remidi.
Hehehe😁
Ada pelangi di setiap pekatnya awan badai
Terkadang, beberapa kerinduan cukup dipendam, tanpa harus diungkapkan.
Ternyata bayangan tentang dirimu belum sepenuhnya pergi dari kenangan.
Senyumu masih sama seperti dahulu.