“Dek, pulang sekarang ya. Bapak kambuh lagi”
“Hati-hati di jalan, jangan ngebut”
Pesan WA dari Mas Arif membuatku cemas. Baru saja aku merebahkan tubuh sepulang ngajar les. Tanpa banyak tanya, ku niatkan untuk pulang malam itu juga. Tapi kucoba memastikan lagi
“Di rumah apa di RS, Mas?” tanyaku
Ada rasa sesak yang semakin membesar kala itu. Kalau cuma sakit seperti sebelumnya, enggak mungkin Mas menyuruh pulang malam itu juga. Pun jika memang sakitnya parah, enggak mungkin Mas minta ke rumah, bukan ke Rumah Sakit. Pasti Bapak… ah, semoga Bapak baik-baik saja.
Aku memutuskan pulang malam itu. Naik motor, sendirian. Seperti pesan Mas yang menyiratkan untuk naik motor saja, selain berpikir semalam itu pasti sudah susah menemukan Bus.
Setelah berkemas seadanya, aku berpamitan pada beberapa teman kontrakan
“Aku mau nginep di luar ya. Maaf udah malem banget baru pergi” ucapku beralasan, agar mereka tak khawatir jika tahu aku akan pulang sendirian. Meski rasanya sulit sekali menahan air mata yang telah menggenang untuk tak tumpah. Tapi aku berusaha menenangkan suaraku.
Di sepanjang jalan Semarang-Sukoharjo, dengan kekhawatiran yang berlapis-lapis, coba kutepis dengan mengingat-Nya, istighfar sebanyak-banyaknya. Entah seberapa sering berprasangka yang tidak-tidak, lalu kembali menepisnya. Menangis, mengusapnya lagi. Menembus dinginnya malam di antara gelapnya jalanan yang sepi. Ya Rabb, hanya kepada-Mu aku berlindung dan meminta pertolongan.
Aku hampir sampai di rumah. Entah mengapa, semakin dekat, semakin rasa sesak itu muncul. Semakin berat. Semakin yakin kalau Bapak benar-benar telah pergi. Meski berkali-kali kutepis dan menenangkan diri sendiri. Hingga di persimpangan menuju rumah, aku dihentikan beberapa tetangga yang telah menungguku. Mereka meminta motorku, meminta tas ku. Lalu membimbing jalanku ke rumah. Sementara banyak orang tengah memasang tenda. Beberes kursi. Semakin dekat ke rumah, semakin terlihat pintu rumah terbuka. Dari pintu itu, terlihat sebuah keranda. Tepat aku menyadari itu, tetangga yang tadi membimbingku berkata:
“Yang sabar ya, yang kuat.”
Ya Rabbi, tepat setelah kata itu terdengar, justru aku terisak lebih kencang, meski tak bersuara. Teringat betapa banyak salah yang telah kulakukan pada Bapak. Betapa banyak harapan yang belum berhasil kuwujudkan untuk Bapak. Bapak, apakah kau ridho kepadaku?
Dan saat itu pula, aku bertekad untuk tak semakin membebani Ibu dan kedua Mas. Dengan tak banyak menangis di hadapannya. Dengan menenangkan mereka. Meski berat sekali ya Rabbi.. berat sekali menahan diri untuk tak menangis.
Aku dibimbing bertemu Ibu. Ibu terlihat tegar. Memelukku. Menguatkanku untuk bersabar, mendoakan, dan sholat jenazah untuk Bapak. Di samping Ibu, kulihat mata Mas begitu merah. Meski tidak sedang menangis. Dan tidak mengucapkan satu kata pun. Lalu Pakdhe datang, sambil bilang:
“ Hidup ini cuma nunggu antrean, Nduk. Ya kamu lebih paham lah, Pakdhe yakin. Perbanyak doa buat Bapak ya”
“Nggih Pakdhe, insyaAllah.” ucapku sambil berupaya tersenyum. Ya Rabbi, tersenyum di saat kondisi lemah itu ternyata senikmat ini. Senikmat ini berupaya mencintai takdir terbaik-Mu. Kuatkan,, kuatkan..
Tak lama, aku sholat. Lalu mencoba menenangkan hati dengan tilawah. Sampai tak terasa adzan subuh berkumandang. Sepanjang aku tilawah, Ibu begitu susah diminta tidur sejenak. gak mau minum, gak mau makan. Ya Allah, buatlah hati Ibu ikhlas atas berpulangnya Bapak, kuatkan Ibu.
Bapak, terima kasih atas seluruh kasih sayang yang kau hadirkan dengan begitu banyak wujud dan bentuk yang menumbuhkanku hingga sekarang. Maaf belum bisa menjadi anak yang bisa kau banggakan. Maaf masih jauh dari apa yang kau harapkan. Semoga kau tenang di tempat terbaik di sisi-Nya, Pak.
Kehilangan memang tak pernah mudah. Sekuat dan setegar apapun manusia-manusia yang ditinggalkan, tetap saja ada sesuatu yang hilang. Ada sesuatu yang tak lengkap. Meski berkali-kali menyadari sepenuhnya, bahwa kita tak pernah merasa begitu kehilangan, saat kita mengerti seluruh hal di dunia ini bukanlah milik kita. Semua yang kita anggap hilang, hanyalah titipan, kan?
Bapak, setahun begitu cepat, ya. Semoga doa-doaku selalu sampai padamu, dan mampu menjadi cahaya penerang kuburmu. Semoga tetap tenang di tempat terbaik di sana, ya Pak. Maaf, masih belum banyak berubah dari setahun yang lalu. Semoga kau ridho :”)