Di umur 5 tahun, kamu sudah pergi jauh dari orangtuamu. Kamu menangis, tapi kamu lebih banyak tersenyum. Semua orang menyukaimu karena kamu periang meskipun agak judes.
Di umur 8 tahun, kamu pulang ke rumah dengan konsekuensi setiap hari harus bangun pagi buta karena jarak rumah ke sekolahmu jauh. Tapi kamu selalu masuk sepuluh besar, bahkan lima besar di kelas. Meskipun tinggal di tengah hutan, kamu tidak kalah pintar dengan temanmu yang tinggal di tengah kota.
Di umur 10 tahun, kamu harus berpisah dengan teman-teman. Kamu pindah ke sekolah yang menurutmu tidak sebagus sekolah lamamu. Awalnya kamu memang agak terpaksa di sana, kamu bahkan hampir menempuh jalan yang salah. Tapi kamu berhasil beradaptasi dengan dan bertemu orang-orang yang menyayangimu. Kamu berhasil keluar dari sana dengan nilai tinggi, serta kenangan manis yang akan selalu kamu kenang.
Di umur 12 tahun, orang-orang mulai banyak yang meremehkanmu. Mereka menganggap kamu tidak begitu pintar, padahal kamu hanya tidak pandai matematika dan kurang fasih berbahasa inggris. Kamu jarang punya teman. Tapi kamu dengan kuat dan tabahnya bertahan di sana hingga kamu memiliki beberapa teman yang menghargai apa adanya kamu. Akhirnya pun kamu keluar dari lingkungan toxic itu dengan nilai memuaskan.
Di umur 14 tahun, kamu merasakan patah hati pertamamu. Kini, kamu tahu rasanya ditinggal dan dikhianati. Semua orang seakan berpaling darimu. Kamu marah, kamu kesal. Namun akhirnya kamu menerimanya dengan ikhlas, meskipun butuh waktu lama untuk memaafkan segalanya, tetapi kamu mampu untuk berbesar hati.
Di umur 17 tahun, kamu membenarkan semua orang yang menganggapmu bodoh. Kampus idamanmu menolakmu. Satu persatu temanmu yang sudah mendapat kampus idamannya perlahan menjaga jarak denganmu. Entah maksudnya baik atau buruk, namun bukan itu yang kamu mau. Kamu butuh support, namun mereka tidak mengerti. Kamu marah pada diri sendiri, pada mereka. Namun sekali lagi, kamu berhasil melewati segalanya. Akhirnya kamu berhasil diterima di salah satu kampus terbaik di kotamu.
Di umur 20 tahun, kamu sudah pergi ke luar negeri dengan beasiswa (parsial) dua kali. Kamu bisa membungkam semua orang yang merendahkan kemampuan bahasa inggrismu dulu. Di umur 20 tahun ini kamu juga berhasil membuktikan pada dirimu sendiri kalau kamu tidak sepayah itu dalam menemukan jalan. Kamu berhasil berkelana di Taiwan selama satu hari tanpa seorang pun di sisimu, dengan keadaan maps tidak berfungsi. Kamu berhasil.
Di umurmu yang hampir 21 tahun kini, kamu kembali menghadapi masa-masa terberatmu. Tiba-tiba kamu kembali merasa tidak berguna. Semua yang kamu tanyakan belum menemui jawab. Semua yang kamu lakukan terasa serba salah. Kamu merasa hari-harimu tak bermakna. Kamu tak kunjung mendengar kabar baik. Apa yang kamu harapkan tak juga terwujud. Untuk kesekian kalinya kamu merasa orang-orang terdekatmu perlahan pergi meninggalkanmu. Setiap malam kamu menangis, merenungi salah apa dan di mana. Kamu menyadari bahwa dunia ini tidak sesederhana yang kamu bayangkan sebelumnya. Kamu berhenti percaya bahwa hidup ini adil. Kamu berhenti percaya kepada semua orang.
Namun aku mohon kepadamu untuk tetap percaya bahwa kamu bisa melewati segalanya. Tolong baca sekali lagi tulisan ini dari awal dan ingat-ingat berapa banyak hal menyedihkan yang bisa kamu lewati? Aku yakin kamu ingat semua hal buruk yang tidak sempat tertulis di sini, namun berhasil kamu lewati. Kamu punya hati yang besar. Kamu punya tekad yang kuat. Kamu punya Tuhan yang kamu yakini tidak akan meninggalkanmu tak peduli berapa kali kamu melanggar perintah-Nya. Tolong percaya kalau kamu mampu melewatinya. Kamu akan menemukan jalanmu. Kamu akan mendapat hidup yang layak. Kamu akan bertemu dengan orang-orang yang mau menerima apa adanya kamu dan sangaaaaaat mencintaimu. Tolong percaya semuanya akan baik-baik saja. Tolong jangan pernah berpikir untuk mengakhiri semua di sini. Hidupmu masih panjang. Masih banyak hal menakjubkan yang belum kau temui. Tolong bertahan sampai waktunya tiba.
Saat semuanya terasa salah,