Kami Dengar dan Kami Taat
Seorang muslim sejati bukanlah orang yang memilih-milih syariat sesuai selera hawa nafsunya. Bukan ketika perintah Allah terasa ringan lalu diterima, namun ketika terasa berat langsung dicari alasan untuk menolak. Islam dibangun di atas sikap tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala secara menyeluruh.
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”(QS. An-Nur: 51)
Kalimat “kami dengar dan kami taat” bukan sekadar ucapan lisan. Itu adalah prinsip hidup seorang mukmin. Ketika Allah memerintahkan shalat, maka ia shalat. Ketika Allah mengharamkan riba, maka ia tinggalkan. Ketika Allah memerintahkan menutup aurat, maka ia tunduk. Ketika Allah melarang pacaran, zina, arak, judi, musik yang melalaikan, atau segala bentuk kemaksiatan, maka ia berusaha menjauhinya walaupun bertentangan dengan hawa nafsunya.
Karena seorang muslim sadar, yang paling tahu tentang kebaikan hamba adalah Allah, bukan perasaan manusia.
Ironisnya, di zaman sekarang banyak orang ingin disebut muslim, namun syariat diperlakukan seperti menu prasmanan: diambil yang disukai, ditinggalkan yang tidak cocok. Ayat tentang sedekah dibaca dengan semangat, namun ayat tentang larangan maksiat dianggap terlalu keras. Hadits tentang rahmat Allah disebarkan, namun hadits tentang ancaman dosa diabaikan. Padahal iman bukan mengikuti apa yang nyaman bagi diri.
Allah Ta’ala telah mengingatkan:
“Apakah kalian beriman kepada sebagian Al-Kitab dan kufur terhadap sebagian yang lain?” (QS. Al-Baqarah: 85)
Ayat ini menjadi peringatan keras agar jangan menjadikan agama sebagai permainan hawa nafsu. Sebab kebenaran tidak berubah hanya karena manusia tidak menyukainya.
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah berkata:
“Aku beriman kepada Allah dan kepada apa yang datang dari Allah sesuai dengan maksud Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah dan kepada apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan maksud Rasulullah.”
Inilah adab seorang mukmin terhadap wahyu. Tunduk sebelum membantah. Patuh sebelum berdebat. Karena keselamatan bukan pada kepintaran memelintir dalil, tetapi pada keikhlasan mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya ﷺ.
Bukan berarti seorang muslim pasti langsung sempurna. Kita semua punya dosa dan kekurangan. Namun perbedaan antara orang beriman dengan pengikut hawa nafsu ialah: seorang mukmin ketika diingatkan akan syariat, ia berkata “saya harus memperbaiki diri”, sedangkan pengikut hawa nafsu berkata “pokoknya saya maunya begini.”
Padahal Islam bukan agama yang dibentuk oleh opini manusia. Islam adalah wahyu dari Rabb semesta alam.
Maka hendaknya kita belajar menerima seluruh syariat dengan lapang dada. Jangan sampai kita hanya ingin Islam yang sesuai keinginan pribadi. Sebab seorang muslim sejati berkata:
“Kami dengar dan kami taat.”
Bukan:
“Kami pilih yang kami suka dan kami tolak yang kami tidak suka.”













