Shadow the Hedgehog represents more than just speed. He represents a relentless focus and the power of solitude. Bringing this artwork to life was a challenge, but I wanted to capture that raw, chaotic energy in every frame. From the initial traditional sketch to the final render, no AI included of course. This is my homage to the coolest anti-hero in the Sonic universe.
I long to be free nowadays. Free from the expectations people try to place on me, and especially from the chains of modern expectations. No matter how many times I fall, I choose to rise above failure and carve my own destiny, shaping my path step by step. Just like Monkey D. Luffy who challenges the world itself for the sake of freedom and the dream of becoming the Pirate King. ☠️
Udah di masa di mana saya nggak mampu (bukan nggak mau lagi ya) untuk berdebat dengan orang lain, apalagi orang yang bersangkutan traumanya banyak dan belum disembuhkan. Karena biasanya orang yang memiliki trauma yang belum disembuhkan akan berbicara sesuai dengan apa yang traumanya rasakan, atau istilah lainnya adalah projecting.
Apa itu projecting?
Projecting (memproyeksikan) dalam psikologi adalah mekanisme pertahanan bawah sadar di mana seseorang mengalihkan pikiran, perasaan, atau sifat negatif diri sendiri kepada orang lain. Ini berarti menyalahkan orang lain atas masalah atau ketidakamanan yang sebenarnya ada pada diri sendiri.
Seseorang yang berbicara dari rasa traumanya biasanya pikiran dan emosinya akan kembali ke zaman pertama kali dia mendapatkan trauma tersebut.
Jadi, yang bisa dilakukan si laki-laki tersebut apa? Stay untuk menyembuhkan dia? Jujur aja, kalau saya yang dulu pasti akan melakukan ini, dan itu ternyata adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal karena bisa bikin kita jadi abai terhadap diri sendiri. Pastikan dulu seseorang mau disembuhkan sebelum kita stay untuk menyembuhkan orang itu. Kenapa? Karena ketika proses trauma healing dilakukan hanya sepihak, hasilnya nggak akan pernah baik.
Misal, ada seorang perempuan yang trauma terhadap perbuatan mantan pacarnya. Ketika dihadapkan dengan konflik sekecil apapun dengan laki-laki lain, dia akan melihat laki-laki tersebut sebagai mantan pacarnya dan sistem amygdala yang ada di otaknya akan memproyeksikan laki-laki tersebut sebagai sebuah ancaman. Diskusi nggak akan bisa dilakukan di titik ini, dan kalau dilanjutkan untuk berkomunikasi, ujung-ujungnya akan jadi konflik. Bisa dibilang, logika semasuk akal apapun nggak akan nyampai di pikiran orang tersebut. Dengan kata lain: dia nggak akan mampu diajak berdiskusi. Ujung-ujungnya pasti jadi debat, yang akan berakhir kepada konflik.
Your fiercest enemy lives within you, and survival is a battle with yourself.
Kembali lagi, yang bisa dilakukan oleh si laki-laki hanyalah walk away. Literally. Trauma seseorang itu tanggung jawab dia sendiri. Kita hanya perlu bertanggung jawab atas diri kita sendiri sebelum ada komitmen di kedua belah pihak untuk saling menyembuhkan dan saling memperbaiki.
Sebagai penutup, kebahagiaan itu sebetulnya ada karena diciptakan, bukan ada karena diberikan oleh orang lain. Ketika kebahagiaan diberikan oleh orang lain, kemungkinannya ada dua:
Ketika orang tersebut "hilang", nggak ada alasan lagi bagi kita untuk berbahagia (dan kemungkinan yang lain kita akan selalu mencari kebahagiaan dari luar diri lagi dan lagi),
Ketika kebahagiaan yang diberikan itu nggak cukup, kita mungkin selamanya nggak akan mampu merasa bahagia (ujung-ujungnya cari dari faktor luar lagi yang lebih dan lebih, dan tiada akhirnya).
Kebahagiaan orang lain juga bukan tanggung jawab kita, kecuali memang sama-sama mampu untuk saling membahagiakan.
Jadi, bahagiakanlah diri sendiri dulu, kemudian baru milikilah mindset untuk membahagiakan orang lain yang sama-sama memiliki kemampuan membahagiakan dirinya sendiri. Dan dari sudut pandang saya (curcol dikit ye), seseorang yang memiliki kemampuan tersebut masih langka untuk ditemui, entah kenapa.
Jadi, kesimpulannya apa?
Ketika ada seseorang mencoba melakukan projecting ke kamu, tinggalkan aja karena "medan tempurnya" udah berbeda. Kamu mencoba memasuki medan logika, sementara dia akan melawan di medan trauma, dan hasilnya nggak akan pernah masuk akal. Ibarat kata, kalau ada seseorang mengatakan bahwa 1+1=5, cukup iyain aja dan melangkah pergilah. Jaga kewarasanmu di dunia di mana orang-orang serba pamer trauma dengan dalih komunikasi.
Orang-orang yang gemar projecting seperti ini ibarat kaum iblis di serial Frieren. Kamu bisa berkomunikasi kepada mereka, tapi iblis bukan berkomunikasi untuk saling memahami, melainkan untuk mengelabui dan memangsa.
There were days I felt like stopping. Like the weight was too much. Like falling would be easier than trying again.
But I keep moving.
Not because I’m always strong, but because I have reasons to stand back up. Because some people matter too much. Because giving up would mean leaving them unprotected.
So even if I stumble, even if I fall, I move forward.
Tidak Ada Definisi Benar Maupun Salah dalam Kehidupan Ini
Saya pernah membaca sebuah kutipan yang berbunyi,
There’s nothing either good or bad, but thinking makes it so.
William Shakespeare
Mengutip dari quotes di atas, bisa dibilang sebenarnya nggak pernah ada definisi salah maupun benar di setiap perbuatan yang kita lakukan atau di setiap opsi yang kita pilih sehari-harinya.
Hanya saja, yang harus kita ketahui adalah bahwa di balik setiap perbuatan yang kita lakukan, dan di balik setiap pilihan yang kita ambil, akan selalu ada manfaat dan konsekuensi yang harus kita tanggung nantinya. Kita hanya harus memilih atau melakukan segala sesuatunya berdasarkan risiko yang paling minimal, dalam artian risiko tersebut yang sekiranya bisa kita handle.
Benar dan salah sebenarnya satu-kesatuan. Kita nggak akan mengerti mana yang benar sebelum tahu mana yang salah.
Hidup sebenarnya sesederhana itu.
Ingat-ingatlah dengan apa yang sudah kita lakukan, dan waspadalah dengan hasil maupun akibatnya. Atau mungkin dalam skala yang lebih luas?
Bukan berarti saya mengajarkan bahwa kita nggak usah melakukan apapun demi menghindari risiko. Sebab jika kita nggak melakukan apapun, hidup kita juga nggak akan pernah mengalami kemajuan. Sederhananya begini: lakukanlah perbuatan atau ambillah pilihan yang sekiranya risikonya bisa kamu handle seorang diri. Jika dilihat dari sudut pandang orang lain, kalau kamu mengambil risiko yang dari awal sebenarnya nggak bisa kamu handle, orang lain pasti akan menghakimi kita bahwa perbuatan maupun pilihan kita adalah suatu kesalahan. Jadi memang sifat mawas diri itu esensial sekali di dalam kehidupan. Kalau orang Jawa bilang, “Eling lan waspada.”
Ingat-ingatlah Tuhan dalam melakukan segala sesuatunya.
There’s something about Frieren’s calmness that moves me: her journey isn’t rushed, her emotions aren’t loud, yet every step she takes holds a lifetime of meaning. I think I kinda admire Frieren because she also feels familiar: quiet, patient, living at her own pace. She’s a reminder that it’s okay to take time, to feel deeply, and to grow in ways that no one else can see.
But to me, it feels like Mysterio’s hologram: fake, suffocating, and built to keep me in line. Everyone’s standards of “normal” are just more of the illusions: loud, convincing, and designed to trap me in a life that isn’t mine. So I’m tearing through the projection, breaking past the counterfeits around me, and ‘swinging’ back into a life that’s real, even if it’s harder.
But maybe that’s just how the Universe tells me to stop resisting: to surrender, to observe, to breathe. Even Spider-Man needs a moment to hang still before the next leap of faith.
Sometimes the hardest leap isn’t between buildings, it’s between who we are now and who we’re meant to become. And sometimes, life gives you no other choice but to jump, even when the next building is hidden behind the fog.
“Leap of Faith” isn’t about knowing what comes next. It’s about trusting that the web you’ve been weaving: your effort, your growth, your heart, will catch you when you fall.
Because not all leaps are made of courage. Some are made of quiet desperation, and still, they count.
Finishing this drawing of Rara, my spirit guide, filled me with both peace and pride. She is not just a figure of the past, but a reflection of strength and grace I want to carry with me.