Hidup, Pilihan dan Keberadaan
Hidup, beberapa kalangan memiliki makna dan tujuan hidup yang berbeda-beda, ada yang menganggap bahwa hidup ini tak lebih dari sekedar permainan dan tanpa tujuan. Ada yang memaknai hidup itu untuk menjadi hamba yang saleh, menjauhi larangannya dan mengikuti perintahnya yang tertulis di kitab-kitab atau wahyu yang disampaikan kepada orang terpilih yang biasa kita sebut sebagai nabi atau rasul. Namun, disisi lain dunia, ada juga yang menganggap hidup ini sebenarnya tak bermakna. Kita lahir tanpa meminta kita untuk terlahir, lalu kita mulai nyaman dan merasa beruntung karena dapat hidup. Lalu, pada suatu hari kematian merenggut hidup yang awalnya kita tak tahu maksudnya secara tiba-tiba pula. Membuat orang disekitar kita menangis. Keluarga, teman, sahabat bahkan orang yang tak mengenal kita pun dapat menangisi kematian kita.
Namun disisi lain, ada juga yang menertawakan kehidupan kita. Didalam filsafat, kita dapat menemui persoalan tentang hidup pada eksistensialisme. Apakah itu eksistensialisme? Kata Eksistensialisme berasal dari kata eks = keluar, dan sistensi atau sisto = berarti, menempatkan. Secara umum berarti, manusia dalam keberadaannya itu sadar bahwa dirinya ada dan segala sesuatu keberadaannya ditentukan oleh akunya. Karena manusia selalu terlihat di sekelilingnya, sekaligus sebagai miliknya. Upaya untuk menjadi miliknya itu manusia harus berbuat menjadikan - merencanakan, yang berdasar pada pengalaman yang konkret.
Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang memandang berbagai gejala dengan berdasar pada eksistensinya. Artinya bagaimana manusia berada (bereksistensi) dalam dunia. Pendapat lain, menyatakan “eksistensialisme” merupakan suatu aliran dalam ilmu filsafat yang menekankan pada manusia yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar. Manusia juga dipandang sebagai suatu mahluk yang harus bereksistensi (berbuat), mengkaji cara manusia berada di dunia dengan kesadaran. Jadi dapat dikatakan pusat renungan eksistensialisme adalah manusia konkret.
Hidup itu absurd, begitulah ungkapan yang diberikan Albert Camus soal hidup. mengapa? Karena seringkali keinginan kita tak selaras dengan kenyataan yang ada dan bahkan lebih dari itu. Bahkan, kini banyak orang-orang yang hanya menunggu mati karena mereka hidup di lingkungan perang atau di lingkungan yang memiliki kekurangan pangan. Lalu, untuk apa kita hidup? Sartre mengatakan bahwa manusia itu bukan hanya bebas, tetapi manusia itu adalah kebebasan itu sendiri. Kita bebas menentukan arah hidup kita untuk kemana dan menjadi apa . Tetapi, Sartre melanjutkan dengan mengatakan bahwa sekali manusia terlempar ke dunia, ia bertanggung jawab atas segala sesuatunya.
Penulis menangkap bahwa maksud dari Sartre bahwa manusia adalah kebebasan itu sendiri adalah manusia memiliki kebebasan dalam “memilih”. Bahkan, kehidupan kita saat ini adalah kumpulan dari pilihan-pilihan kita di masa lalu. Bahkan Kierkegard mengatakan bahwa pilihan bukanlah soal konseptual melainkan soal komitmen total seluruh pribadi individu. Dimana pilihan bukan hanya mesti dibuat, tapi juga dipertanggung jawabkan segala konsekuensi nya. Dan pilihan itu semestinya tidak ada fakor individu lain yang mempengaruhinya, pilihan dibuat hanya untuk keberlangsungan dirinya.
Manusia bebas menentukan dengan bebas segala sesuatu yang menjadi esensi bagi dirinya. Dan proses menentukan ini dilakukan dengan membuat berbagai pilihan. Tetapi, biasanya proses menentukan ini dibarengi dengan perasaan ketakutan karena dengan pilihannya, secara tidak langsung manusia menyatakan kesiapan akan tanggung jawabnya. Tetapi, bukan hanya tanggung jawab untuk dirinya tetapi untk orang lain juga. Hal inilah yang menjadi masalah di masyarakat pada saat orang-orang takut untuk memilih. Wajar jika pilihan yang akan ditempuh akan berpengaruh secara signifikan pada orang lain. Tetapi, realitas kita saat ini menunjukkan orang-orang takut hanya karena ucapan atau penilaian orang lain, orang-orang banyak menjadi seseorang yang sebenarnya mereka tak inginkan. Orang –orang seperti lupa bahwa hidupnya, pilihannya yang terpenting adalah esensi untuk dirinya, bukan orang lain.
Melihat problema diatas yang banyak terjadi pada masyarakat kita saat ini, kita bisa menilai kini orang-orang mulai kehilangan kebebasannya, kehilangan kebebasan untuk memilih secara komitmen untuk dirinya. Kini orang-orang memilih bukan secara komitmen, tetapi secara konsep yang telah ditentukan atau dikonstruksi oleh orang lain. Maka, tak ayal kita sering banyak melihat orang lain bersikap atau bahkan berbusana sama dengan orang lain. Karena kini, orang-orang secara tidak langsung telah menyerahkan kebebasannya pada “opini” orang lain hanya karena ingin dinilai “wah” oleh orang lain.
Padahal, apalah arti sebuah opini atau penilaian dari orang lain yang kadang terlihat semu dan malah membuat hidup kita tidak nyaman. Maka, disaat kita merasa tidak nyaman dengan hidup, ada baiknya kita melihat kebelakang dan berefleksi muungkin saja kita tak nyaman dengan hidup kita simply karena kita hidup berdasarkan pilihan orang lain, bukan oleh pilihan kita sendiri. Maka, tentukan lah arah hidup berdasarkan diri sendiri namun kita dapat menikmatinya, atau hidup berdasarkan pilihan orang lain namun kita tak merasa nyaman karena nya. Imenjadi orang yang mengidap krisis eksistensial atau tidak, its your choice!