Sebaik baiknya mertua tetap ada nyebelinnya juga .. ahsss
almost home
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Today's Document
Lint Roller? I Barely Know Her
Claire Keane
Mike Driver
RMH

oozey mess
Stranger Things
$LAYYYTER
No title available
KIROKAZE

No title available
Xuebing Du
official daine visual archive
tumblr dot com
Cosmic Funnies

No title available
One Nice Bug Per Day

#extradirty

seen from Malaysia
seen from Uzbekistan

seen from Germany
seen from Vietnam
seen from United States

seen from Canada
seen from Indonesia

seen from Australia
seen from Vietnam

seen from United States

seen from Indonesia
seen from United States

seen from Spain
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Colombia
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
@eunnie13
Sebaik baiknya mertua tetap ada nyebelinnya juga .. ahsss
NASIB ORANG YANG TERLALU SABAR
Aku menanam tabah
di halaman rumah.
Tetangga bilang,
“wah, pohonnya bagus.”
Mereka tidak tahu,
akar-akarnya tumbuh
memeluk kuburan luka.
2026
Ternyata dunia memang pandai bercanda ya. Ada orang yang meninggalkan luka sedalam samudra, lalu melangkah pergi seolah tak pernah menjatuhkan siapa pun. Mereka tidur setenang bayi, tertawa selepas angin, dan memeluk kebahagiaan baru seakan masa lalu tidak pernah meminta pertanggungjawaban. Sementara aku masih sibuk mengumpulkan serpihan diri yang berserakan ke segala penjuru, seperti seseorang yang diminta menyusun kembali langit setelah bintang-bintangnya dijatuhkan satu per satu.
Lalu hidup berbisik, “Tenang, semua akan adil pada waktunya.” Aku sempat ingin tertawa. Sebab ketika lukaku terasa sebesar semesta, waktu justru berjalan selambat siput yang kehilangan arah. Namun mungkin keadilan memang bukan selalu tentang melihat mereka hancur. Bisa jadi, keadilan yang sesungguhnya adalah saat aku tak lagi membawa mereka di dalam kepalaku, sementara mereka hanya menjadi satu halaman kecil di buku hidupku. Dan mungkin, itulah kemenangan yang tak pernah bisa dirampas oleh siapa pun.
Written by Aftansa
Bila matahari bisa terbit dan terbenam, maka hidup kita seperti rotasi serupa.
Memang tidak ada yang pernah tau rencana Allah kedepannya akan seperti apa. Saat kita meminta lebih, Allah justru cukupkan dari apa yang hanya kita perlukan. Saat kita tidak berharap lebih, Allah berikan rezeki berlimpah yang tidak pernah kita sangka.
Sesuatu yang menurut kita itu baik, Allah berikan yang jauh lebih baik. Sesuatu yang kita anggap tidak sesuai dengan hati, Allah gantikan dengan kebahagiaan sehingga kita lupa rasa sedih sebelumnya. Allah maha mengerti, dan kita hanya perlu memahami.
—Self Reminder, Venushara.
Ada orang yang bahkan nggak pernah benar-benar jadi siapa-siapa dalam hidup kita, tapi namanya bisa tinggal lebih lama dari banyak orang yang pernah kita panggil sayang.
Aku ingat pernah membaca sebuah kalimat dari sebuah buku.
Hal yang menyenangkan selalu dibanggakan untuk diceritakan, padahal hal yang menyedihkan juga ingin didengar, divalidasi, dan dibicarakan.
Menekan hal menyedihkan untuk dilupakan hanya akan memperburuk keadaan. Seperti bom waktu yang akan meledak ketika ada pemicunya.
Mengingat hal menyedihkan, membicarakan, lalu mencoba memaafkan dan berdamai dengannya.
Hal menyedihkan juga butuh untuk dirangkul dan dipeluk.
Semoga reda, semoga damai, semoga sembuh.
Bandung, 30 Mei 2026
@monicasyarah
Tanpa sadar dweke be ngeluh meng wong sing lagi mumet .. etdahh
Riuh
Akhirnya setelah menunda sekian lamaaa, sore ini memutuskan untuk log out sementara dari instagram. Tidak hanya salah satu akun, tapi semua akun yang kupunya.
Tidak hanya itu, aku juga uninstall tiktok.
Will be back, dalam keadaan yang semoga lebih sehat dan bijak. Entah dalam waktu yang sebentar atau lama. Let see. Semoga bisa lebih fokus dengan peranku di real life & mindfulness tentunya♡
Sementara ini menepi dulu di laman biru ini. Huwaaaa kembali ke tumblr itu rasanya seperti mudik pulang kampung. Tenang, nyaman, dan berasa slow living!♡
Bandung, 15 Mei 2026
@monicasyarah
Hari ini, tiga puluh tahun yang lalu; aku lahir, dan Ia pun terlahir menjadi Ibu. Not an easy thing, I know.
Dan kini, tiga puluh tahun setelah hari itu, aku pun juga telah menjadi seseorang yg dipanggil Ibu. Tapi ternyata, seorang Ibu tetap membutuhkan Ibu, ya.😄
Setidaknya, hari ini aku telah mengerti sedikiiit perjuangannya. Rasa sakitnya. Kesepiannya. Semuanya.
Tapi, Bu. Ternyata hidup itu se-tidak pasti ini, ya? Ternyata setiap pilihan dalam hidup memiliki konsekuensinya sendiri. Bahwa ternyata ujian itu telah disesuaikan dgn kapasitas kita. Bahwa setiap orang memiliki ujiannya masing-masing, tak ada yg lebih mudah dan tak ada yg lebih berat. Bahwa sejatinya dunia adalah tempat untuk tidak baik-baik saja.
Bu, sebelum ini, aku selalu merasa tak sanggup berlama-lama menjadi penghuni bumi. Namun setelah berada di posisimu, aku selalu berdoa untuk bisa membersamai anak-anakku se-lama mungkin, paling tidak hingga mereka dewasa dan mampu berdiri diatas kaki sendiri. Kurasa dirimu juga begitu, kan?
Bu, maafkan aku belum bisa meringankan bebanmu, belum bisa membahagiakanmu dihari tuamu. Maafkan aku belum bisa selalu menjadi anak yg baik; bahkan sesederhana menjaga nada suaraku tetap rendah didepanmu.
Karena ternyata, anakmu tidak sekuat itu untuk menyelesaikan ujiannya sendiri..🥹
Sehat-sehat, wanita hebatku.
Semoga Allah menjaga dan memberkahimu senantiasa.
* Padang, 11 Mei ke-tiga puluh. 2026.
Mungkin baginya, aku tidak perlu penjelasan karena sejak awal kami bukan apa-apa bukan pacar, bukan hts, hanya sesuatu yang tidak pernah di beri nama.
Dan sekarang aku hampir baik-baik aja, aku tertawa di depan orang, berkata aku sudah lupa dengan ringan perlahan dalam diam.
Tapi diam-diam juga aku memohon pembelaan kepada semesta, bukan agar dia kembali tapi agar aku benar-benar bisa melepaskannya, ini upaya terakhirku untuk menyelamatkan diriku dari rasa sakit yang tidak ku namai, seperti dia yang namanya enggan ku sebut.
Ulang Tahun hanyalah kehampaan yang diberi dekorasi.
Hari itu tiba, satu tanggal kembali dipoles makna. Padahal hari berjalan sebagaimana biasa, hanya manusia yang menambahkan pesta. Ucapan dibagikan seperti selebaran, kado dipertukarkan seperti kewajiban, swafoto mengabadikan singkat kebersamaan, lalu semuanya usai, tersisa jejak di notifikasi. Di titik ini, aku tak lagi mencari makna dari keramaian. Aku tahu banyak orang datang, namun sedikit yang sungguh hadir. Dewasa rupanya begini: hari istimewa pun terasa administratif. Tanggal diperingati karena kebiasaan, bukan karena hati masih ingin merayakan. Maka aku paham, ulang tahun hanyalah kehampaan yang diberi dekorasi. Satu tahun hidup habis diam-diam, dan kita tetap diajari menyebutnya anugerah.
Knp seorang ayah hrs ngaji?
Karena ayah itu pemimpin.
Dan pemimpin ga boleh memimpin dgn ego, hrs memimpin dgn ilmu.
Knp seorang ibu hrs ngaji?
Karena ibu itu madrasah pertama.
Klo madrasahnya kosong,
anak2nya tumbuh tp kehilangan cahaya.
Dan knp anak harus ngaji ?
Karena zaman skrg byk yg pintar, tp ga punya arah.
Byk yg update, tp imannya kosong.
Ngaji itu bukan sekedar biar "kelihatan baik" aja, tp biar satu rumah tau cara hidup yang benar.
Karena rumah yg dibangun dgn ilmu, insha Allah lebih kuat dr rumah yang hanya dibangun dgn cinta.
Ilmu itu cahaya.
Kalo satu rumah punya cahaya,
gelapnya dunia ga gampang masuk.
Setuju ga? 😊
aku dan menejemen stress ku yang Kurang baik sejak dahulu kala, berdampak ke aku sekarang yang punya newborn dan jadi newmom
3 hari berturut-turut menangis heboh, sampe akhirnya capek sendiri dan udah gaada tenaga bust nangis. tspi terkadang, tuntutan demi tuntutan dr ortu malah yg bikin makin stress
aku menyadari bahwa aku sulit untuk under pressure yg tidak ada solusi, kadang ada solusi saja masih bisa jadi beban pikiran, alias overthinking.
beda nada bicara, raut wajah hingga perasaan saat orang itu menyampaikan sesuatu, bisa sangat memengaruhi pikiranku.
tidak semua orang bisa memahami hal ini, tapi ada yang bisa dan mau mencoba mengerti dan memhami setiap posisi dan kondisi ku saat bercerita apa yang aku rasakan. sejauh ini baru menemukan 2 orang, suami dan 1 teman perempuan terdekat ku.
tidak ada judge, tidak ada raut kasihan atau empati palsu. semuanya terasa penuh dan hangat. mereka berusaha sebaik mungkin untuk memahami POV ku di setiap overthinking ku, menjadi pendengar yang baik dan siap memberikan pelukan yang tidak berlebihan..
satu hal yang aku takutkan, menejemen stress ini apakah akan menurun ke anakku kelak?
yang paham mengenai hal yang ku tanyakan, please welcome and let's sharing 🫴🏻
Sikap adalah Cerminan Diri...
Terus belajar sebuah teori sederhana:
"Yang tidak ingin dirasakan, jangan dilakukan kepada orang lain."
Jika ingin dihargai, maka belajarlah menghargai.
Jika ingin didengar, maka beri ruang orang lain untuk berbicara.
Jika tidak ingin menjadi bahan pembicaraan, maka jangan menjadikan orang lain sebagai bahan cerita.
Jika tidak ingin diperlakukan tidak adil, maka jangan bersikap tidak adil.
Jika tidak sejalan, bukan berarti harus bermusuhan dan menutup akses komunikasi, cukup pahami bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk sepemikiran.
Jangan menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan.
Anak-anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari sikap yang mereka lihat setiap hari.
Jangan suka memanas-manasi keadaan.
Jangan menularkan emosi hanya karena sedang tidak suka.
Jangan mempengaruhi orang lain dengan ketidaksukaan pribadi.
Dan jangan pernah mengusik ketenangan orang lain, walaupun merasa berbeda, tidak disukai atau tidak sepaham.
Karena ketenangan seseorang bukan ancaman bagi siapa pun.
Mari menjadi orang dewasa yang bijak.
Tenang dalam perbedaan.
Tegas tanpa menyakiti.
Diam tanpa menyimpan dengki.
Sederhana, namun inilah bentuk kedewasaan dan pengendalian diri.
Karena pada akhirnya, sikap dan cara berbicara adalah cerminan karakter.
Orang bisa berkata apa saja, tetapi cara menyampaikannya menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.
Jadi sebelum menilai orang lain, lihat dulu bagaimana sikap diri sendiri.
Karena dari sikaplah, kualitas seseorang terlihat jelas.
🍁🌼🌊
---Takalar kota || Jumat, 20 februari 2026 || pukul: 23.39 WITA---
Aku ini manusia dengan retak-retak kecil di setiap sudut jiwa. Tapi aku membungkusnya dengan cahaya buatan. Aku memilih hanya menampilkan hal-hal baik, senyum yang disetrika rapi, tawa yang kupoles hingga berkilau. Sementara di belakangnya, ada ruang gelap tempat aku duduk sendirian, memeluk lututku sendiri, berbicara dengan suara yang tak pernah didengar siapa pun.
Kadang aku merasa seperti rumah yang tampak utuh dari luar, catnya bersih, jendelanya terbuka, tirainya menari tertiup angin. Tapi di dalamnya, beberapa dinding sudah retak, langit-langitnya rapuh, dan hujan turun tepat di ruang tengah. Namun aku tetap menyalakan lampu paling terang agar tak ada yang curiga bahwa ada kebocoran di atap hatiku.
Aku tahu, mungkin lebih mudah menjadi manusia yang terlihat kuat daripada menjelaskan pada dunia betapa rapuhnya aku. Lebih aman menyembunyikan gemuruh daripada dianggap lemah. Maka kubiarkan hanya kebaikan yang terlihat, hanya ketegaran yang terdengar. Sisanya? Kusimpan sebagai rahasia yang berdenyut pelan di balik tulang rusuk.
Tidak, aku tidak setenang itu. Jangan bayangkan aku seperti danau yang permukaannya tak pernah beriak. Di dalam diriku ada badai yang sering berbicara dengan suara paling keras, dan aku adalah satu-satunya yang mendengarnya. Aku mengeluh bukan pada dunia, bukan pada siapa-siapa melainkan pada cermin, pada bayanganku sendiri yang berdiri diam dan pura-pura mengerti. Kata-kata yang tak pernah keluar dari mulutku tumbuh seperti akar-akar liar di dada, saling melilit, saling menyesakkan.
telor ceplok
kadang saya kangen sarapan sederhana ini: nasi anget, kecap, telor ceplok yang gosong tipis di pinggirnya.
saya kira itu makanan biasa. ternyata itu cara paling lembut Ibu mengatakan, "selamat pagi, nak. semoga hidupmu mudah hari ini.”
☆☆☆☆☆
.... dan Beliau, pembuat telor ceplok terbaik ini..
telah berpulang, tepat 6 tahun yang lalu.
Dua hari lalu aku nonton podcast Ust. Felix Siaw di Tenda Tanya. Ada kalimat beliau yang sampai sekarang tertanam dalam pikiran. Kurang lebih kalimatnya begini, aku tuliskan dengan bahasaku ya
Banyak orang lulus diujian kesengsaraan tapi sedikit yang lulus diujian kenikmatan.
Jawaban dari ujian kesengsaraan itu ada pada Allah sedangkan jawaban dari ujian kenikmatan itu ada pada manusianya sendiri.
Waah. Pas dengar ini aku mikir banget dong. Kok bener gitu hahaha. Kadang kalau lagi pengem sesuatu kita minta ini itu terus sering terucap, nanti kalau dikasih aku begini deh aku begitu deh. Tapi waktu dikasih kita malah lupa sama janji kita. Disini aku mikir banget. Iya bener aku sendiri juga sering nggak lulus diujian kenikmatan.
Terus yang bikin aku sadar kalau manusia sering lupa kalau dia sudah banyak diberi nikmat itu waktu tadi aku ngobrol sama temanku bicarain soal kerjaan. Adalah itu orang yang gajinya tiap bulan sudah 120juta tapi masih ambil kerjaan orang lain. Masih ngerasa kurang.
Disitu aku mikir. Oh iya, kalau orang yang ada diposisiku sekarang pasti mikirnya. Ngapain sih dia ambil kerjaan orang sedangkan tiap bulan incomenya sudah sebanyak itu. Tapi ketika aku posisikan diriku di pov orang itu, aku mikirnya TERNYATA KALO SUDAH DIKASIH LEBIH MANUSIA ITU NALURIAHNYA MEMANG MAU LEBIH LAGI. Seakan akan nggak ada puasnya. Padahal sudah dikasih banyak tapi masih mau lagi.
Disini aku sadar oh benar sedikit manusia yang lulus diujian kenikmatan karena seringnya income besar gaya hidup besar jadi pendapatan yang besar itu tetap akan terasa kurang.