Nyatanya.. apa yg terjadi pada masa lalu, kemarin, hari ini, besok, dan masa depan, Allaah udah tau, Allaah udah tulis 50rb tahun yg lalu di Lauhul Mahfudz..
Berupaya melakukan yg terbaik, berprasangka baik, melapangkan hati, bertawakal, bersabar dg sabar yg baik, memanjangkan doa-doa baik, dan terus minta pertolongan pada Dzat Yang Maha Hidup setiap harinya menjadi kunci sekaligus PR besar (for myself ofc).
Rasanya ketika membaca doa
"Yaa hayyu yaa qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan"
sangat perlu untuk diresapi maknanya..
"Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya”
Karena ku pikir, emang rasanya bener-bener ga kebayang banget kalo semua urusanku itu aku sendiri yg pegang, beneran sendirian dg situasi kehidupan yg.. as we know secomplicated ini..
Maybe for some people, this may sound cliché or even nonsense. But this is what I believe, what I’ve realized, and what I know to be true..