Cerpen : Autopilot
Aku menemukan diriku menggeletakkan diri di lantai begitu saja tanpa alas selepas pulang kerja. Rasanya nyaman menyentuhkan raga ke bumi. Tak ada yang menggangguku kecuali nyamuk-nyamuk. Jika sudah tidak tahan dengan gatalnya, aku lekas masuk kembali dan membersihkan diri
kemudian, aku merebahkan diri di kasur tanpa tau apa yang akan terjadi besok. Tapi, aku sering berharap jatuh sakit saja agar tidak harus pergi ke kantor
Malam yang sunyi itu terasa pendek sekali. Pagi hari, aku terbangun dengan jantung berdegup kencang lalu tak terasa ari mata menyembul begitu saja di pelupuk. Aku susah payah membendungnya agar tidak mengalir di depan ibu bapakku yang sedang menyantap sarapan mereka.
bersiap dengan cepat, memanaskan sepeda motor, pergi tepat 30 menit sebelum jam 8 pagi.
Eh, sampai, deh. Cepat sekali rasanya aku sudah tiba lagi di parkiran yang sesak. Susah payah aku menggeser beberapa motor agar dapat celah untuk parkir. Buru-buru melepas helm dan menggantungnya di spion. Aku mendapati ada sesama rekan kerja yang melangkahkan kakinya panjang-panjang menuju mesin absen juga. Aku senang bisa mendahuluinya meski ia seniorku.
"Pagi, Kak" kataku lalu bersegera mendorong pintu kaca besar.
"Pagi, Mbak" sapaku ke rekan resepsionis yang namanya mirip denganku. Sempat ada pembicaraan aku ganti nama panggilan saja agar tidak tertukar. tapi aku lupa, jadi apa ngga ya? aku merasa tidak perlu melakukan itu. aku benar-benar tidak memikirkan siapapun kecuali diriku sendiri
aku menghela nafas panjang sebelum mengusap layar ponsel sambil terlintas, kapan akan mengakhiri mimpi buruk ini?













