Suatu hari dibulan September itu, kuputuskan untuk menyerahkan buku sketsa terakhirku padamu. Yang berisikan seluruh gambar asal yang tak terlalu bagus memang, tapi kupastikan selalu ada gambar dirimu didalamnya.
Yaaa... aku memberimu buku sketsa di bulan September, bulan kelahiranku.
Buku yang tanpa aku sadari hanya berisi gambar dirimu. Yang aku maksud gambarmu, bukanlah secara harfiah gambar mukamu. Aku mana pandai gambar muka atau wajah orang. So, aku menggambar jiwamu. Entah mengapa dia sebentuk seekor "kucing". Haha..Yaa... Kau kucing dalam hari-hariku.
Memang tidak bagus seperti karya-karya doodle atau pelukis handal. Tapi, setidaknya sketsa itu adalah curahan hatiku.
Tak pernah aku memberi seorang laki-laki buku gambar bertinta hitam sebelumny. Aku tidak meminta kamu menyimpannya, aku hanya meminta kamu untuk mengambil buku ini. Karena di bulan September itu, aku memutuskan untuk tidak menggambar atau menulis untukmu lagi!!
"Kamu pegang buku ini, terserah mau diapain, mau di buang, mau disimpen, mau baca atau ga, terserah! Tapi satu, jangan kasih buku ini ke siapapun!" kataku padamu sore itu.
Aku menyebut buku itu "INKXIETY", because my anxiety is beautiful. Aku menyalurkan kegelisahanku dalam bentuk gambar, menjelaskan dalam puisi, dibalut dengan sederhana tanpa warna, hanya hitam dan putih, hanya "INK" -tinta-.
Buku itu tak berwarna, tapi bercerita, dan bila kamu membacanya kuharap kau merasakan "perasaannya".
Bahkan, buku itu lengkap dengan tata cara membacanya sesuai dengan imajinasiku.
Gambar dan kata yang menjadi satu. Akan sempurna bila kau membaca dan melihatnya dengan iringan lagu "Kangen-Dewa19" yang selalu aku nyanyikan saat tak bersamamu.
"Jadi, Apa kau sudah membacanya?"
Aku pernah bilang seperti ini, "ini aku yg rambutnya pendek, ini kucing, dan kucing ini kamu." sambil menunjuk sketsaku.
Kamu menjawab, " kenapa aku kucing?".
"Karena kamu mirip kucing." jawabku singkat.
"Kenapa harus kucing sih?", kamu balas menjawab.
"Karena aku mau kamu jadi kucing!" ketusku.
"Tapi aku bukan peliharaan" jawabmu kesal.
"Peliharaan pacarmu :p ." jawabku menyindir.
"Enak aja! Aku ini bebas, bukan peliharaan siapa2, aku yg memegang kendali atas diriku sendiri" katamu mendikte.
"Oke kalo gitu aku gambarin kamu singa", sambil gambar singa, yg diikat lehernya.
"Tetep aja itu singa lehernya di ikat, haha" katamu kesal.
"Bukan... singa itu bukan kamu, kamu tetap kucing, yg aku gambar di pojokan, tepat dibelakang singa ini. Liat! Dia sedang mengaum, dan aum-an kucing itu lebih keras dari singa ini... AUUUMMM...
Yaah.. Dia tampak seperti kucing bagiku. Mata belok, pemalas, tidak peduli lingkungan dan... tidur!
Kerap kali aku selalu mengirim gambar kucing atau video-video kucing lucu. Aduuuh kenapa semua kucing itu bertingkah seperti dia?
Namun hari itu, aku memutuskan untuk berhenti menggambar atau menulis tentang kucing. Atau mengirim video kucing padanya.
Ku serahkan buku sketsa ku. Dan aku pergi.
Awalnya ku pikir bakal mudah. Tapi kok iya setiap hari aku rindu, dan setiap hari juga aku nangis.
Ternyata ini beraaat sekali!
Terus gimana dengan si kucing?
Entahlah.. Aku tidak pandai membaca pikiran atau membaca ekspresi.
Terakhir yang aku tahu, dia sudah membeli kucing dengan pacarnya.
Yah dia membeli kucing dengan pacarnya.
Kadang aku mengutuk, kenapa dia harus beli kucing? Kenapa bukan anjing, marmut, kelinci, atau tikus? Kenapa mesti kucing?
Apa kamu membaca buku dari ku?
Kamu tau apa arti kucing bagiku kan?
Apa kamu sedang menguji aku?
Ah sudahlah... Kucingku t'lah mati.