âOrang terdidik harus sudah adil bahkan sejak dalam pikiran, apalagi dalam tindakan.â (Namun, saya belum)
Saya adalah guru yang salah satu tugas utamanya adalah mendidik siswa saya dan bagi saya itu adalah pekerjaan yang tak ada habisnya. Saya kerap resah lantaran saya memahami pada diri saya sendiri memiliki kecenderungan. (Betapa sulitnya bersikap adil, bahkan terkadang pada diri saya sendiri).
Prinsip yang selalu saya gugu salah satunya berasal dari penulis yang amat saya sukai yaitu Pramoedya Ananta Toer yang berbunyi âOrang terdidik harus sudah adil bahkan sejak dalam pikiran, apalagi dalam tindakan.â Walaupun saya menyukai prinsip tersebut dan tentu saja saya harus menerapkannya (karena saya pendidik tentunya), tapi kenyataannya âberpikir adilâ tidaklah mudah. Hidup saya selalu ada saja bias-bias tertentu, kecenderungan, atau ego dalam diri saya yang kadang saya tidak tahu atau kecenderungan-kecenderungan lain.
Terkadang saya menganggap bahwa saya bukanlah pengambil keputusan yang baik karena banyak sekali pertimbangan-pertimbangan yang ada di depan mata. Sama seperti ketika saya memutuskan hukuman apa yang harus saya beri kepada anak didik saya, memikirkan âapa yang salahâ âkenapa anak didik saya sulit memahami materi iniâ muncul pemikiran-pemikiran lain. Saya dipaksa untuk memikirkan âlatar belakangâ, âgolonganâ âfaktor penghambatâ dan lain sebagainya.
Di kala senggang pun saya kerap berpikir atau terkadang âmemaksaâ diri saya untuk membayangkan seandainya posisi saya belum tentu seperti sekarang, seandainya saya bukan guru, seandainya saya tidak lahir dari rahim ibu saya, saya akan memilih apa? Prinsip apa yang selalu saya bawa?
Saya kerap menanyakan pada diri saya apa saja hal-hal yang sering kita abaikan. Apakah begini sudah benar, apakah keputusan saya tidak benar? Pilihan apa yang harus saya ambil? Apakah risikonya bisa saya bisa saya emban. Dalam berfilsafat kita diajak untuk mencoba beberapa topi dalam pemikiran kita---antara memikirkan landasan âkebebasanâ atau dengan landasan âkebaikan bagi semua orangâ. Antara keputusan berdasarkan peraturan berdasarkan konsensus. Antara hak dan kewajiban.
Memikirkan posisi saya dan memahaminya membuat saya berharap akan lebih memahami posisi saya, kekurangan dan kelebihan saya. Memikirkan hal-hal begitu sebenarnya saya terlalu malas, bahkan tidak sat-set, dan membuat saya mengambil keputusan yang lama. Namun, saya menyadari bahwa saya perlu refleksi yang dalam dari pilihan-pilihan yang ada, dari berbagai macam sisi dan sudut pandang--saya berisiko untuk memilih pilihan yang jauh dari adil, membuat keputusan yang belum tentu adil bahkan sejak dalam pikiran.
Dan seandainya sedari awal saya, kita, kamu, kalian sudah tidak adil dalam pikiran---apakah saya, kita, kamu, kalian bisa adil dalam tindakan? Saya enggan membayangkannya :â.











