Kamu Tidak Sedang Jatuh Cinta
“I think I’m in love with him.”
“Because he makes me feel comfortable and safe.”
“Oh dear, you’re not in love.”
“Why would you said that?”
“Because you’re actually need him, not love him.”
Beware, beware. “Butuh” dan “Cinta” itu berbeda.
Manusia memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi, selain makan minum dan bernapas tentunya. Abraham Maslow pernah membuatkan kita sebuah hirarki kebutuhan hidup, dari yang paling mendasar hingga yang tertinggi. Mulai dari kebutuhan fisiologis, rasa aman, rasa cinta, harga diri, dan aktualisasi diri. Lucunya, rasa cinta ditempatkan ditengah-tengah, sebelum harga diri dan setelah rasa aman. Memang, pada dasarnya manusia butuh merasa aman sebelum mengenal cinta, dan rupanya tak perlu harga diri untuk mulai merasakan cinta. Setidaknya menurut Maslow.
Jadi, cinta itu suatu kebutuhan? Jawabannya, ya.
Berarti cinta bisa memenuhi kebutuhan kita? Jawabannya, tidak selalu.
Seorang rabbi yang juga penulis, Abraham Twerski pernah bercerita tentang seorang pria yang tengah memakan ikan. Kemudian pria itu ditanya,
“Young man, why are you eating that fish?”
“Oh, you love the fish. That’s why you took it out the water and killed it and boiled it.”
“Don’t tell me you love the fish, you love yourself. Because the fish taste good to you, therefore, you took it out the water and killed it and boiled it.”
Cinta yang sering disalahpahami adalah cinta layaknya kecintaan si pria dengan ikan. Fishlove. Dan banyak sekali kasus fishlove disekitar kita. “Kukira cinta, ternyata butuh.” Aku hanya bertahan karena mendapatkan sesuatu darinya. Pun sebaliknya.
Kita semua menyayangi diri kita sendiri. Kita akan melakukan apapun untuk memenuhi kebutuhan, termasuk 5 kebutuhan Maslow tadi. Jika kita menemukan seseorang yang bisa membuat kita ‘nyaman, aman, bahagia’ , well I think it might be just fishlove, not true love. Karena, pada dasarnya kita hanya sedang memenuhi kebutuhan untuk merasa ‘nyaman, aman, bahagia’ yang kebetulan sedang diakomodasi oleh seseorang.
Rabbi Dessler bilang, banyak orang berpikir bahwa “kamu akan memberi apapun pada seseorang yang kamu cintai” . Padahal, sebenarnya “kamu akan mencintai seseorang yang ingin kamu beri”.
Maksudnya, jika bertemu dengan seseorang yang tepat, kamu akan menginvestasikan sebagian dari dirimu pada seseorang itu. Kamu akan berusaha memenuhi ‘kebutuhan Maslow’ nya seolah itu adalah kebutuhanmu sendiri. Pikiranmu hanya ‘memberi’ tanpa ada harapan ‘balas budi’. Pikiranmu akan selalu berkata: ada suatu hal lain yang harus aku lakukan selain merawat dan memenuhi kebutuhanku. Ada seseorang yang harus kujaga dan kucintai. Seseorang yang bukan diriku.
Love is not about give and take, it’s about feel given while you give.
And that’s what true love is.