Aku menjelma hujan yang datang tanpa aba-aba. Jatuh perlahan, kadang deras, kadang hanya rintik yang tak terdengar. Sedangkan kamu serupa senja yang tenang, hangat, dan selalu tahu kapan harus berpamitan tanpa benar-benar menghilang. Kita bertemu di batas waktu yang rapuh, saat langit belum sepenuhnya gelap, tetapi cahaya sudah tak lagi utuh. Di sanalah aku belajar, bahwa tidak semua pertemuan diciptakan untuk menetap, beberapa hanya untuk mengajarkan betapa indahnya merasa, meski tahu akan kehilangan.
Aku pernah berharap diam-diam, agar hujan bisa tinggal lebih lama di langitmu. Agar doaku dan doamu tidak berdiri di dua arah yang saling memunggungi. Namun, semakin aku mencintaimu, aku semakin sadar kita tidak sedang melawan waktu, hana saja kita berdiri di antara keyakinan yang tak bisa saling menggantikan. Aku adalah hujan yang jatuh dengan menyebut nama-Nya dalam cara yang kau tak kenal, dan kamu adalah senja yang berpendar dalam iman yang tak bisa kupeluk sepenuhnya. Kita bukan tak saling mencinta, tetapi hanya tidak diberi jalan yang sama untuk pulang.
Hingga pada akhirnya, aku memilih tetap menjadi hujan yang jatuh, meski harus menghilang. Karena aku tahu, senja tidak pernah dimiliki, ia hanya dinikmati sebelum akhirnya pergi. Jika suatu hari nanti aku tak lagi datang, bukan karena cintaku reda, tetapi aku belajar bahwa mencintaimu tak harus memiliki. Bahwa ada cinta yang cukup disimpan dalam doa, meski doa itu tak pernah kita aminkan bersama.
Di sela-sela kepergian itu, ada bagian dari diriku yang diam-diam menetap di langitmu. Seperti aroma tanah basah yang tak benar-benar hilang setelah hujan reda, seperti warna jingga yang masih membekas meski senja telah tenggelam. Kita mungkin tak lagi saling menggenggam, tetapi kenangan kita akan selalu menemukan cara untuk pulang, di tiap rintik yang jatuh pelan, di tiap cahaya yang meredup dengan perlahan. Dan di sana, kita tetap ada, tanpa perlu saling terikat bersama.
Jika kelak takdir mempertemukan kita lagi dalam bentuk yang lebih sederhana, mungkin sebagai dua orang asing yang tak lagi saling bertanya “mengapa”, atau sebagai dua doa yang diam-diam saling menyebut tanpa nama, aku harap kita sudah cukup kuat untuk tersenyum tanpa luka. Sebab cinta ini tidak pernah salah, hanya waktunya yang tidak berpihak, dan jalannya yang terlalu berbeda untuk disatukan. Maka biarlah aku tetap menjadi hujan yang pernah singgah di senjamu, meski hanya sebentar, tetapi pernah membuat langitmu terasa lebih hidup dan berpendar.
















