Pagi tadi di tengah hujan lebat mengguyur ibu kota, saya berkontemplasi dengan kenyataan bahwa saya harus mengendarai mobil bertransmisi manual itu menghadapi kemacetan yang penampakannya lebih mengerikan dari setan. Belum lagi perut yang mulai membuncit oleh kandungan yg hampir berusia 5 bulan. Pun mata ini belum pulih total dari efek bangun paksa yang lelapnya hanya dapat 4 jam. Kata seorang sahabat, "Tidak ada yang harus di kehidupan ini." Saya tidak punya argumen lebih untuk tidak menyetujuinya, cenderung kecocokan. Lalu, apa harus saya menghadapi pagi yang seperti ini? Apa harus saya melewatinya walau sangat tidak menyukainya? Apa saya harus melewati pilihan yang hanya saya mau saja? Semua pilihan saya. Kemudian saya tertawa, cekikan kecil, bukan terbahak-bahak. Mungkin jika ada yang sedang melihat saya dari luar sana, mereka akan menghitung kembali jumlah orang di dalam mobil ini, bahkan mereka bisa jadi penasaran dengan apa yang saya tertawakan. Iya, saya sendiri di dalam mobil, tapi kemungkinan mereka mengira saya gila sangat kecil. Padahal mereka tidak tahu kalau saya tidak sedang menertawakan guyonan cerita penyiar dari radio atau juga bukan tertawa karena lawan bicara di telpon. Saya tertawa sendiri, menertawakan diri sendiri. Di tengah pagi, kemacetan, kehamilan, kengantukan dan motivasi yang nyaris nihil untuk bekerja di kantor. Oh ya, karena saya suka menghitung untung, saya beruntung sudah sarapan. Ya, masih ada untung dari pagi ini. Lalu kemudian saya teringat lagi, untung saya bukan hanya karena sudah sarapan roti. Tapi juga karena masih bernafas wajar, masih melihat dunia, masih mampu menjalankan kaki dan menyapa orang-orang tercinta. Sembari sesekali menghirup aroma hujan yang turun stabil di teras rumah. Dan sedikit bercanda dengan anak dan suami. Dan saya tertawa lagi, kali ini dengan sedikit gelengan kepala. Sama seperti kemacetan ini, hujan pun belum reda. Jarak saya dan tempat kerja masih panjang, walau batas waktu masuk kerja sudah lewat setengah jam. Kemudian saya tertawa lagi dan lagi. Sesekali saya tertawa sambil mengikuti lirik lagu yang melantun sendu sedari tadi. Jadi apa yang saya tertawakan? Saya menertawakan diri sendiri yang ternyata selalu menghitung untung dan rugi. Padahal kalau saya ceritakan ini ke orang lain, mereka belum tentu ikut tertawa. Memang akan lebih asyik jika ada yang ikut tertawa bersama kita. Apa lagi jika bisa tertawa bersama Yang memberi kita Tawa dan segenap rasanya. Apalagi yang perlu dihitung-hitung jika semua cukup dengan ditertawakan saja? Lalu teringat seucap kalimat seorang teman yang sedang menegaskan eksistensinya dengan menghilang. Ia bilang, "Urip mung mampir ngguyu." Enggih, aku setuju :) Simatupang, 270214.