Kesabaran itu sering disalahartikan sebagai kelemahan atau kepasrahan bahkan diartikan sebagai sifat penakut. Padahal, jujur aja, nggak ada yang mudah dari tetap tenang saat rundown hidup kita berjalan acak-acakan dan nggak sesuai harapan.
Justru di situ level tersulitnya! Dibutuhkan kapasitas hati yang super kuat buat nggak gampang kesenggol emosi, nggak buru-buru pengen nge-gas, dan nggak gampang goyah tiap kali keadaan lagi nggak berpihak ke kita.
Sabar itu bukan berarti kita pasif mirip keset, tapi sebuah keputusan elegan buat mengendalikan diri kita sendiri.
Kita bisa belajar dari filosofi air yang tetap mengalir perlahan. Air itu nggak pernah maksa membelah batu, tapi dia konsisten mencari celah. Kesabaran mengajarkan kita kalau nggak semua hal di dunia ini harus instant dan dipaksa terjadi hari ini juga.
Ada proses yang butuh waktu buat matang, ada doa yang butuh waktu buat dijemput, dan ada ketenangan premium yang hanya bisa lahir dari hati yang mau belajar menurunkan ego untuk menerima ketetapan-Nya.
Sikap penuh kelapangan ini selaras banget sama salah satu ayat yang sering kita dengar, tapi kadang lupa kita resapi dalam-dalam:
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153).
Logikanya gini: kalau Pencipta semesta ini sudah nge-booking diri-Nya buat menemani dan membela kita, lantas kenapa kita masih merasa kecil dan lemah di hadapan masalah?
Sederhananya, sabar itu bukan soal berapa lama kita sanggup bertahan dalam penderitaan, melainkan bagaimana cara kita menjaga sikap, menjaga lisan, dan menjaga pikiran agar tetap positif selama masa tunggu tersebut. Kita nggak lagi sibuk menggerutu "Kenapa harus sekarang?" tapi mulai bergeser ke arah "Oke, mari kita lihat kebaikan apa yang lagi Allah siapkan lewat jalur ini."
Kalau hari ini urusan kita rasanya masih jalan di tempat atau malah mundur beberapa langkah, yuk kurangi dulu mode paniknya. Jangan-jangan, kita cuma kurang meluangkan waktu sejenak buat menarik napas dalam-dalam, menenangkan batin, dan menikmati prosesnya tanpa perlu mendahului takdir.
Yuk, nikmati prosesnya, kurangi mengeluh, perbanyak berserah!