DoubleB!
Kim Hanbin a.k.a B.I
Kim Jiwon a.k.a Bobby
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Jules of Nature
Acquired Stardust

Product Placement

No title available

blake kathryn
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
I'd rather be in outer space 🛸
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
he wasn't even looking at me and he found me
Cosimo Galluzzi

Origami Around

JVL

❣ Chile in a Photography ❣
noise dept.
tumblr dot com
Peter Solarz
No title available

Kaledo Art
seen from United Kingdom

seen from Italy
seen from United States
seen from Mexico
seen from Spain
seen from Australia

seen from United States
seen from Greece

seen from United States

seen from Türkiye

seen from T1
seen from United States
seen from France

seen from Sweden

seen from Malaysia
seen from France

seen from Türkiye

seen from United States

seen from Maldives

seen from Italy
@khansalatte
DoubleB!
Kim Hanbin a.k.a B.I
Kim Jiwon a.k.a Bobby
Pintu Awal #1 (cerpen)
Terdengar suara ketukan pintu dari arah tumpukan buku. Awalnya, aku tak menghiraukan suara tersebut. Namun, suara tersebut terus mengganggu pendengaranku. Tanpa pikir panjang aku membongkar tumpukan buku tersebut. Kini tumpukkan itu sudah mendatar. Aku menemukan pintu datar sejajar dengan permukaan lantai kamar tersebut. Perlahan aku mendekati pintu itu. Aku lihat pintu itu terkunci oleh gembok biru. Melihat itu aku ingat kunci yang aku temukan Minggu lalu. Kunci yang aku temukan ada dua, yang satu berukuran besar dan yang satunya lagi berukuran mini. Aku pun mengambil kunci yang aku temukan di bawah bantal dan segera membuka gembok biru itu. Tak butuh waktu lama, gembok itu pun terbuka. Aku meraih ponsel canggihku dan mengaktifkan cahaya senter dari ponselku. Perlahan aku menelusuri jalan menurun bertangga. Tak butuh banyak waktu, aku pun berhasil melewati anak tangga yang berukuran sedikit kecil dari langkah orang dewasa.
Perlahan aku berjalan dengan ditemani cahaya dari ponselku. Aku menghentikan langkahku dan mengarahkan cahaya ponsel lurus ke depan. Kuhelakan napas. Aku berbalik dan berniat tidak ingin melanjutkan langkahku untuk menelusuri jalan gelap itu. Ketika aku hendak membalikan badan untuk kembali ke pintu, suara pintu tertutup pun terdengar. Dengan sigap aku berlari ke arah pintu yang membuat aku masuk ke dalam ruangan gelap seperti ruang bawah tanah. Aku berusaha membuka pintu itu dengan menendang-nendang dan memukul pintu itu berulang kali, namun pintu tak dapat terbuka. Cairan bening keluar dari mata bulatku dan melewati pipi mulusku. Aku pasrah, aku tak tahu harus bagaimana agar aku bisa membuka pintu dan kembali ke asrama, tidur nyenyak, dan mimpi indah. Semoga ada seseorang yang membantuku, tapi itu mustahail. Cairan bening itu terhenti ketika aku melihat setitik cahaya dari kejauhan. Niatku mendekati cahaya itu pun aku turuti. Seketika niat itu terhenti dikarenakan setitik cahaya itu lama-kelamaan menjadi besar. Lega yang kurasa. Kuharap ada seorang yang mau mengantarku pulang. Saat cahaya itu hampir dekat denganku, aku mendengar suara laki-laki tua yang tertawa jahat. Laki-laki itu mendekatkan cahaya itu ke arah wajahnya. Rupa laki-laki itu seperti hewan, namun serupa dengan manusia. Mengerikan sekali rupa laki-laki itu. Melihat itu, kakiku dengan cepat bereaksi dan aku pergi menjauh dari laki-laki itu. Laki-laki itu tetap tertawa jahat. Larianku terhenti ketika telingaku tak lagi mendengar tawa jahat itu. Kini, aku berjalan sambil mengatur napasku. Dari kejauhan aku melihat sebuah rumah dengan lampu kuningnya. Tanpa ragu aku pun menghampiri rumah itu. Ketika aku hampir sampai di depan rumah itu, aku tercengang melihat keadaan yang berada di samping rumah itu. Sedikit tak percaya. Ini adalah kota yang di luar khayalan orang. Kota begitu canggih dengan mobil tak menyentuh aspal, bangunan menjulang ke langit, kereta gantung di mana-mana, lift parking, jalan tol yang membentang di mana-mana. Ini seperti di dunia fantasi. Sungguh menakjubkan. Aku pun menghampiri ibu yang berdiri di depan rumah dengan lampu kuning itu. Dengan sopan aku menyapanya, berbincang sebentar dan dia begitu ramah padaku. Aku pun mengikuti ibu itu menelusuri kota ajaib. Dengan basa-basi aku berniat meminjam ponsel ibu itu. Saat aku ingin meminjam ponsel canggihnya, wajah ibu yang tadi ramah dan cantik, kini berubah menjadi wajah yang sangat sangar. Aku pun dengan sigap menjauhinya dan kini aku berada di bibir aspal yang banyak dilalui kendaraan canggih. Sulit bagiku untuk menyebrang. Kulihat di sekelilingku, begitu mudah orang-orang menyeberang, tapi aku tidak.
Kulihat di sampingku ada anak perempuan berusia sekitar delapan tahun berkepang dua dengan tumpukan gelas bekas yang ia pegang dan menatapku dalam. Perempuan itu dengan wajah kekanak-kanakannya menawarkan jasa penyebrangan. Aku pun menyetujuinya. Perempuan itu memegang tanganku dengan kerasnya dan kami menyebrang bersama. Aku takut akan kendaraan canggih yang berlalu lalang dengan kecepatan tinggi. Saat penyebrangan, aku pun menutup kedua mataku. Perempuan itu kini melepas tanganku dan membuat mataku terbuka. Aku kehabisan kata-kata melihat penduduk kota ini dengan ahlinya menyebrang di tengah-tengah keramaian aspal. Aku pun memberi tanda terima kasih dengan sebuah bando yang kupakai. Perempuan itu menolak bando yang aku berikan dengan melemparnya ke arah aspal yang mengerikan itu. Sedikit kesal di hati, tapi tak apa mungkin di kota ini tak ada barang seperti itu. Aku pun pamit pergi, tapi tanganku di pegang erat oleh perempuan itu. Aku tak mengerti ada apa dirinya. Berniat melepaskan genggaman erat ini, namun aku kalah. Perempuan itu menjulurkan tumpukkan gelas yang ia bawa. Kini aku mengerti apa yang ia maksud. Aku pun mengambil tumpukan itu dan mengambil uang. Aku sadar bahwa aku tak membawa apa-apa selain tubuhku dan gaun putih elegan. Aku kebingungan harus membayar dengan apa. Aku pun mengembalikan tumpukan gelas itu. Perempuan itu tetap memaksaku untuk membeli tumpukan gelas itu. Aku tetap menolak, dikarenakan aku tak membawa sehelai uang. Selang beberapa waktu, aku dan perempuan itu beradu tangan. Kini, tanganku digenggam kuat oleh perempuan itu. Mimik perempuan itu pun berubah menjadi jahat. Dengan santai dan rasa tanpa dosa, perempuan itu mendorongku dan membuatku terjatuh di tengah-tengah aspal yang mengerikan. Terlihat dari jauh mobil besar canggih semakin mendekat. Aku bingung apa yang harus aku lakukan, di mana aku tak dapat menyebrang. Aku hanya dapat pasrah dengan keadaan ini. Mulai pita suaraku bekerja.
“AAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!” teriakan itu tak terhenti. Mobil besar canggih itu semakin mendekat. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Semakin dekat mobil itu dengan cahaya putih menyilaukan mataku dan membuatku tak dapat melihat mobil besar canggih itu dengan jelas. Aku merasa melayang saat cahaya putih menyilaukan itu menyelimutiku. Kini, cahaya yang menyilaukan itu berubah menjadi cahaya hitam atau lebih tepatnya gelap. Aku meluncur di lorong seluncur dengan kecepatan tinggi. Lagi-lagi aku harus meluncur dengan kecepatan yang mematikan. Aku berharap aku tak jatuh di tempat yang mengerikan seperti kemarin. Lorong seluncur itu tak begitu panjang dan membuatku terjatuh pelan. Saat aku jatuh aku menutup kedua mataku. Tapi kini mataku terbuka. Melihat sekelilingku, tempat ini bagaikan surga. Sungguh indah dan hijau. Taman yang membentang luas dengan bunga yang beraneka ragam warna, tak lupa juga dengan kupu-kupu nan indah. Aku berjalan di tengah taman itu, tak lupa pula aku memetik setangkai bunga mawar biru. Kini, aku berada di pohon dengan daun yang lebat membuat tanah di bawah pohon terlindung oleh sinar kuning dari angkasa. Aku pun memutuskan untuk beristirahat dan memanjakan tubuhku di bawah pohon nan rindang. Sejuknya udara di bawah pohon rindang membuatku harus tertidur sejenak.
Aku harus terbangun dari tidurku dikarenakan aku mendengar suara langah kaki. Kufokuskan mataku mencari sumber suara itu, namun aku tak menemukan apa-apa. Ketika aku berniat beranjak dari tempatku, tak sengaja tangan mungilku memegang sepucuk surat dengan kertasnya yang kusam. Awalnya, aku berniat untuk tidak membuka dan membaca surat tersebut, namun rasa penasaranku membuat niat itu harus hilang. Perlahan aku membuka surat itu. Kuamati surat yang aku pegang, alis kananku mengangkat. Ini bukanlah surat melainkan peta. Aku tak mengerti peta apa ini. Aku pun memerhatikan dan memahami isi peta tersebut. Setelah beberapa menit kemudian, aku memahami isi peta itu. Akhirnya aku mengerti, peta itu berisi tentang peta Negeri Fantastic. Lorong yang aku lewati terdaftar di peta itu. Dan kini, aku berada di daerah barat selatan. Saat aku asyik bermain dengan peta kusam itu, tiba-tiba tangan kananku terasa sakit seperti terkena lemparan batu kecil. Aku pun melirik ke arah kanan. Aku menemukan sebuah batu berukuran tidak terlalu besar dengan balutan kertas putih. Kuraih batu yang dibalut oleh kertas. Kubuka balutan itu dan kuperiksa kertas putih yang membalut batu itu, apakah ada pesan atau sejenisnya. Kertas putih itu tertulis pesan singkat, pesan itu berbunyi,
“ jika kau ingin keluar dari negeri ini, kau harus menemukan pintu awal yang membuatmu terjebak di negeri ini. Kau dapat mengikuti peta itu.” Membaca itu, aku berdiri berniat mencari siapa yang telah mengirim surat dan peta ini. Namun, aku tak dapat menemukan sosok orang atau burung atau apalah. Kugunakan suara vokalku untuk berteriak mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah mengirimkan peta dan surat itu.
Kulirik lagi peta itu. Di peta aku berada tepat di pohon raksasa. Untuk menemukan pintu awal, aku harus mengikuti jalan di sebelah kiriku sampai bertemunya simpang empat jalan yang bewarna merah, kuning, hijau, dan biru. Tanpa ragu aku pun melangkahkan kakiku mengikuti instruksi dari peta. Jarak pohon raksasa dengan simpang empat, tidak terlalu jauh hanya membutuhkan waktu lima belas menit dengan berjalan kaki. Kini, aku berada tepat di tengah-tengah simpang empat. Aku bingung harus memilih jalan mana. Kulihat lagi peta yang kupegang selama perjalanan tadi. di peta jalan yang bewarna merah terlalu jauh dan di tengah perjalanan, akan berjumpa dengan kebun apel merah. Jalan kuning lebih jauh dari jalan merah dan di tengah perjalanan akan berjumpa dengan pertenakan lebah. Jalan hijau lebih singkat dari jalan merah dan kuning, di tengah-tengah perjalanan akan berjumpa dengan rumah pohon yang berada di puncak pohon jambu biji. Jalan biru sangat singkat, di tengah perjalanan akan berjumpa dengan kebun mawar biru. Tak butuh waktu lama untuk berpikir jalan mana yang harus kulewati, tentu jalan biru yang aku pilih.
Aku pun melangkahkan kakiku menuju jalan biru. Aku berharap bisa kembali ke pintu awal dengan cepat. Sudah satu jam aku menelusuri jalan berwarna biru, aku tak menemukan apa-apa yang kudapat adalah rasa bosan. Aku sempat tak percaya dengan peta itu, namun aku tak menghiraukannya. Aku mencoba menghibur diri dengan bernyanyi, bicara sendiri,atau apalah yang bisa menghibur diri. Tak sengaja aku menabrak tumpukan batu bata yang tersusun membentuk rumah kecil. Setahuku, tumpukan batu bata ini tidak ada di peta. Aku pun memeriksa peta kusam itu. Aku sempat terkejut tak percaya apa yang aku lihat. Di peta yang tadi kulihat akan bertemu dengan kebun mawar biru, ternyata tidak ada malah di peta tertera akan bertemu tumpukan batu bata dan harus memecahkan sandi yang berada di permukaan bata bagian atas dengan menyusun kata-kata yang rumpang menjadi sebuah kalimat. Aku melihat bagian atas bata. Benar di sana ada sebuah sandi. Aku pun mengikuti instruksi tersebut. Aku mencoba menyusun kata-kata rumpang itu sebanyak sembilan kali. Awalnya aku menyerah, namun aku tak menghiraukan rasa itu. Aku berhasil memecahkan sandi yang kesepuluh. Saat aku selesai memecahkan sandi itu, tumpukan batu bata itu menghilang dengan cahaya putih dan muncullah kumpulan bunga mawar biru hingga membentuk kebun.
Dengan senyum lebar, aku berlari menuju kebun mawar biru yang berada tepat di depanku. Kuhirup aroma mawar biru, aroma yang sangat merilekskan pikiran. Seakan aku berada di surga yang tak satu orang pun yang dapat merasakannya. Aku berlari ke sana kemari di setiap jalan yang berjarak beberapa sentimeter. Tak lupa aku bernyanyi dan menari bersama mawar biru. Kuhentikan kegiatan gilaku tepat di tengah-tengah kebun mawar biru. Kurebahkan tubuhku dan memandang luas awan dan birunya langit. Aku tersenyum sendiri, sayangnya ponselku harus tertinggal. Aku tak harus berlama-lama di kebun ini dan aku harus melanjutkan perjalananku. Aku beranjak dari tempatku, aku tak mungkin menyia-nyiakan mawar biru ini, kusiapkan tanganku yang akan memetik mawar biru elegan ini. Ketika aku berniat memetik mawar biru itu, mawar itu berubah menjadi bunga karnivora yang memiliki gigi tajam. Bunga yang hendak aku petik dengan kilat ingin menerkam tanganku. Aku pun melempar jauh-jauh bunga itu. Aku kira hanya satu bunga, namun semua bunga yang ada di kebun itu berubah menjadi bunga karnivora. Bunga-bunga itu menahanku agar tak keluar dari kebun itu dan menjadi santapan malamnya. Tentu aku tak menginginkan itu, dengan teknik bela diri yang kupelajari aku menghajar bunga-bunga kejam itu. Butuh tenaga besar agar aku dapat mengalahkan bunga karnivora ini. Rasa nyeri di lengan kiriku dikarenakan gigi tajam itu mencoba menyantapku saat aku lengah dari mereka. Aku terus melawan mereka dengan tenaga dan kemampuan yang aku miliki. Saat tenagaku hampir habis, aku tak mampu lagi melawan bunga itu. Aku pun tersandung dan terjatuh. Aku pasrah apa yang akan terjadi padaku. Aku menutup mata ketika bunga-bunga itu mengerumini ku. Suara mulut yang sedang kelaparan semakin dekat. Aku hanya bisa menutup mata dan pasrah. Terasa gigi tajam mulai menggores lengan kananku dan tiba-tiba aku terjatuh ke dalam lubang seluncur seperti lubang seluncur yang aku lewati. Aku merasa senang karena lubang ini telah menyelamatkanku dari bunga mengerikan itu.
Lagi-lagi aku harus bertemu dengan lorong seluncur ini. Kali ini aku tak setakut sebelumnya, aku hanya berharap agar aku tak terjatuh di tempat yang menyakitkan, melainkan di tempat yang empuk seperti kapas. Lorong seluncur kali ini berbeda dengan lorong yang aku lewati sebelumnya. Lorong ini seperti tempat pencuci mobil. Aku harus melewati semburan air dan kini aku harus melewati busa-busa yang mungkin berasal dari sabun. Tapi busa yang kurasa tak seperti busa dari sabun, mataku juga tidak perih. Setelah busa-busa, aku harus melewati handuk-handuk hijau. Saat aku melewati handuk-handuk hijau, handuk tersebut dengan teliti menyingkirkan air yang masih berbusa di tubuhku hingga tak terlalu kering. Tak jauh dari handuk, aku akan melewati mesin pengering yang biasa kita gunakan untuk mengering tangan. Tak bisa kubayangkan apa hasil kulitku nanti. Kini, aku akan melewati mesin pengering itu. Kututup mataku agar rasa panas bisa kulawan, namun pengering itu tak terasa apa-apa, melainkan rambut panjangku beterbangan ke segala arah. Aku tak merasa panas seperti mesin yang biasa kugunakan. Kini, aku sudah melewati mesin pengering itu. Aku tak tahu ada apa lagi di depan sana. Pandanganku lurus ke depan. Begitu gelap tak ada sedikit cahaya. Aku harap cahaya yang datang tak seperti cahaya yang kutemui saat di lorong gelap. Aku terus meluncur dan luncuran itu terhenti. Kini, aku berada di ruang lorong seluncur.
Kali ini aku berada di dunia tanpa cahaya atau di daerah ini masih malam, entahlah. Kuraih peta yang kusimpan di saku kananku. Kuteliti peta itu aku berada di mana. Ternyata aku berada di Desa Dark. Lagi-lagi, desa aneh yang harus kuhadapi. Terdengar suara keributan dari arah belakang. Aku membalikkan badan ke arah suara itu. Gerombolan makhluk kecil sedang berlari membawa alat tajam ke arahku. Melihat itu aku berlari. Awalnya aku berpikir mengapa aku berlari? Tapi jika aku tidak berlari, nyawaku akan melayang. Aku terus berlari dan gerombolan makhluk kecil itu terus mengejarku. Larianku terhenti ketika di simpang jalan ada lampu jalan berwarna kuning, larianku terhenti ketika seseorang menarikku dari balik tiang lampu yang besar. Kini, aku dan orang itu bersembunyi di balik tiang lampu. Gerombolan makhluk kecil itu tak sedikit pun melirik ke arahku dan orang itu. Ketika aku ingin menanyai jalan makan yang harus kutempuh, orang yang menarikku tadi menghilang entah ke mana. Lagi-lagi aku bertemu orang yang identitasnya aku tak tahu. Kulihat peta yang kupegang saat aku berlari. Di peta, aku berada di lampu kuning ajaib. Di peta juga diberi keterangan untuk mengucapkan harapan dan harapan itu akan terkabul. Dengan cepat aku mengucapkan harapanku untuk kembali ke asrama. Ketika kata-kata yang aku ucapkan berakhir, cahaya kuning menyelimutiku. Aku tak merasa kesilauan atau pun ketakutan. Selama aku diselimuti cahaya kuning itu aku membuka mata bulatku. Aku berharap aku berada tepat di depan pintu awal.
Cahaya itu lama-kelamaan menghilang. Cahaya itu mengantarku ke daerah yang terang tak tahu apa namanya. Ketika aku hendak melangkahkan kakiku untuk mencari tempat beristirahat, seorang wanita sebaya denganku memberiku sebuah pedang perak. Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Tiba-tiba, di depanku ada anak panah dengan bola api menancap di tanah. Aku terkejut. Wanita itu berlari dan melawan pasukan berseragam serba hitam. Wanita itu pasukan berseragam serba putih. Awalnya aku tak berani melawan pasukan hitam, namun aku tak mungkin harus berdiam diri. Aku pun melawan pasukan hitam dengan pedang yang aku pegang dan kemampuan bela diriku. Aku berhasil mengiris pinggul pasukan hitam yang menghasilkan cairan merah segar. Aku lanjutkan aksiku. Aku tak menyangka, aku setega itu membunuh orang. Aku lawan pasukan hitam dengan pedang perak. Kutusuk perut mereka, kupenggal leher mereka, dan yang terakhir kutusuk berulang kali hati dari salah satu pasukan hitam. Perang itu usai, aku dan pasukan putih menang. Ketika pasukan hitam berhasil di hadapi, wanita yang tadi memberiku pedang, berlari ke arah tandu, ia mengambil gaun biru elegan yang terbuat dari plastik. Wanita itu bercerita bahwa gaun itu milik Putri Martha dari kerajaan putih. Tak lama kemudian, pasukan putih menunduk tanda memberi hormat kepadaku. Aku pun membalas hormat itu. Mereka berterima kasih kepadaku karena telah menyelamatkan gaun itu. Mereka menunjukkan imbalan yang sangat besar, namun aku hanya ingin kembali. Raja Putih pun menuruti imbalan yang aku inginkan. Wanita itu pun menunjukkan jalan mana yang harus kulewati. Selama perjalanan menuju jalan mana yang harus kulewati, wanita itu bercerita tentang perang itu. Ternyata, kunci yang aku temukan adalah kunci Negeri Fantastic. Jika kunci itu berada di tangan pasukan hitam, maka negeri itu akan hancur. Kini, aku dan wanita itu sudah berada di perosotan seperti di waterboom. Kali ini, aku diminta untuk berselanjar dengan posisi menghadap ke arah pusat bumi. Saat aku memasang posisi itu, tiba-tiba tubuhku di dorong oleh wanita itu. Aku meluncur dengan kecepatan ini. Kali ini aku tak takut, melainkan aku teriak girang, karena ini sangat mengasyikan. Aku menikmati udara dingin seperti salju. Ini yang pertama kalinya aku merasaknnya. “Yuhuu!!”… sangat mengasyikan jika kau di posisiku. Seluncuran itu berhenti saat kepalaku menabrak pelan gunungan pasir pantai. Kini, aku berada di lorong pintu awal. Aku tersenyum lega ketika aku melihat pintu awal yang kunantikan. Aku berlari. Kini aku berada di depan pintu awal itu. Ketika aku ingin membuka pintu itu, cahaya putih menyilaukan mataku yang membuat mataku tak dapat melihat dengan jelas.
“ Syanti! Syanti! Di mana ponselku?!” suara itu membuatku terbangun dari tidur siangku. Kuperiksa disekelilingku, ternyata aku berada di dalam kamarku. Mataku tertuju ke arah tangan kiriku, tangan kiriku memegang 2 kunci, peta kusam dan kertas putih. Aku terdiam memikirkan itu mimpi atau kenyataan?!
Secuil Bait Penyemangat
Mungkin kamu merasa gk ada manusia yg bisa benar2 memahami kamu. Mungkin kamu merasa bumi ini gk pantas untukmu. Mungkin kamu merasa dunia ini kejam. Mungkin kamu merasa masa lalu itu menyakitkan. Mungkin kamu merasa masa depan menakutkan. Mungkin kamu merasa sendiri.
Satu hal terpenting: kamu harus senantiasa membersamai dirimu. Jangan sakiti ia. Sudah cukup ia merasa sakit. Kasihi dirimu. Sayangi dirimu. Jangan pernah tinggalkan dirimu
Penuh cinta dari aku (Habib)
💕💕💕💕
Terima kasih banyak
Red Velvet [cerpen]
“Red Velvet”, tertulis di atas salah satu lembaran daftar menu angkringan favorit mahasiswa di universitasku. Membolak-balik tiap lembaran menu yang disatukan menjadi buku menu angkringan sembari menunggu pesananku datang. Atmosfir angkringan dengan atmosfir kampus bagaikan bumi dan langit, ya berbeda sekali. Angkringan ini memberikan atmosfir ketenangan bagi mahasiswa universitasku, terutama mahasiswa tingkat akhir seperti aku. Eiitss, aku memang mahasiswa tingkat akhir tetapi besok aku akan mengikuti agenda besar yang dinantikan mahasiswa tingkat akhir ataupun mahasiswa tingkat pertama, wisuda. Perasaan senang dan tidak sabar menunggu kehadiran Sang Ratu Red Velvet. Ratu ini sangat menyukai warna red Velvet katanya, walaupun warna yang ia maksud adalah warna merah marun. Ratu itu adalah ibu tercintaku. Ibu bilang warna red velvet ini sangat indah juga seksi seperti wanita muda yang menggoda. Salah satu alasan ibu menyukai warna ini atau yang sebenarnya ibu maksud adalah merah marun karena gaun pernikahannya adalah menggunakan warna ini. Gaun pernikahan itu masih setia ia simpan. Ibu sangat mencintai suaminya-ayah-kandungku.
Sejak munculnya istilah red velvet, sebutan merah marunpun berubah menjadi red velvet bagi ibu. Sejak itu juga ibu mulai belajar membuat kue berasa red velvet yang katanya bahan baku dari citra rasa ini adalah buah bit. Kebanyakan orang mengetahui red velvet hanya sebatas cita rasa makanan terutama kue, juga artis grup perempuan yang berasal dari Korea Selatan yang sekarang lagunya sedang diputarkan di setiap angkringan anak muda. Sebenarnya cita rasa red velvet ini sudah ada sejak perang dunia kedua, yang pada jaman itu kue ini digunakan sebagai sajian para tentara di Amerika Serikat. Red velvet disebut juga Devil Food yang bermakna pertumpahan darah pada masa perang dunia kedua. Jika red velvet diterjemahkan ke dunia sifat, red velvet ini menerjemahkan sifat lembut, halus, namun tegas. Sifat ini sama persis dengan sifat ibu. Ibu mendidikku dengan sifat red velvet yang membuatku berhasil seperti sekarang.
Pesananku, soft drink berasa red velvet dua gelas plastik dan bolu red velvet sudah datang. Akupun pergi meninggalkan angkringan favorit itu dengan membawa pesananku di tangan sebelah kanan dan sebuah tas kain tanpa kancing di sebelah kiri. Menaiki mobil yang sudah aku sewa untuk mengantarku ke bandara, lalu mengantarkan aku dan ibu kembali ke kostku. Hari ini ibu datang ke tanah rantauanku untuk pertama kali. Senang? Pastinya. Tas kain tanpa kancing itu berisi dua buah baju kurung berbahan buluderu berwarna merah marun. Baju itu sengaja aku buat khusus untuk aku dan ibu. Tentunya untuk digunakan ketika aku wisuda nanti. Sengaja aku memilih warna merah marun dan berbahan buluderu karena itu warna kesukaan ibu, dan buluderu adalah bahan yang sangat mewah. Aku ingin melihat senyum bahagia ibu ketika wisuda nanti walaupun tidak ada pangeran yang mendampingi.
Jemariku dengan lincah menari di layar ponsel canggih. Melihat-lihat koleksi di galeri ponselku. Terhenti foto aku dan ibu di depan rumah baru. Foto itu diambil setelah kelulusanku ketika SD. Benar kata orang, foto itu mewakili seribu juta kenangan. Hanya melihat foto ini membuatku kembali ke masa itu. Masa di mana aku belum mengerti maksud dari didikan ibu yang membuat aku sukses seperti sekarang.
Aku ingat betul perjuangan ibu membesarkanku tanpa ayah. Ayah sudah dulu pulang ke rumah sang pencipta ketika aku duduk di kelas 5 SD. Aku dan ibu tidak dianggap sebagai anggota keluarga di dalam keluarga ayahku karena ibuku berasal dari kampung. Sejak ayah meninggal, aku dan ibu memutuskan untuk pindah ke kota. Aku kira tinggal di kota sangatlah menyenangkan, memiliki banyak teman, banyak wahana permainan, tempat jalan-jalan, dan orang-orang baik, namun pemikiran itu salah besar. Saat itu aku mendapat tamparan keras yang membuat hatiku hancur. Aku mendapatkan perkataan yang tidak pantas diucapkan oleh seorang pendidik.
“Anak kampung itu tidak bisa melawan kepintaran anak kota. Sekolah ini anaknya pintar-pintar, kamu sih peringkat terakhir di kelasmu nanti” kalimat itu benar-benar menampar hatiku juga ibuku. Sudah cukup hanya keluarga ayahku yang membuang dan meremehkan kami tapi mohon tidak untuk sekolah ini. Setelah mendapat tamparan itu, ibu bertekad untuk menunjukkan kepada orang-orang yang telah meremehkan kami. Ibu bertekad bahwa aku bisa mengalahkan teman-teman di sekolah, masuk SMP dan SMA favorit provinsi, hingga kuliah. Menunjukkan bahwa orang kampung juga bisa seperti orang-orang di kota, terlebih ibu bertekad ingin membuktikan hal itu semua kepada keluarga ayahku.
Benci yang aku rasa ketika aku dan ibu mengikuti acara keluarga ayah, ibuku diperlakukan bagaikan pembantu rumah tangga. Meminta tolong tanpa menggunakan kata tolong. Sayangnya, ketika itu aku terlalu kecil dan lemah untuk berpendapat di depan keluarga ayahku. Aku sangat salut dengan ibu. Ibu mendidikku untuk tidak menanamkan rasa benci kepada orang. Ibu mengajarkanku untuk tidak membenci keluarga ayahku. Ibu bilang jangan pandang sikap mereka terhadap kita. Aku ingat betul ibu memberikanku semangat dengan perkataan ibu bahwa ada saatnya mereka datang kepada kita untuk meminta bantuan.
Ketika aku dan ibu pindah ke kota, adik nomor dua ayahku datang ke rumah dengan sangat tidak beretika. Dia ngeggedor-gedor pintu dan kaca jendela rumahku. Dia memarahi ibuku karena hutang. Dia berhutang kepada ayahku, ibuku hanya mengingatkan untuk membayar hutang itu namun, peringatan itu tidak diterima oleh keluarga ayahku. Beruntungnya saat itu ibu tidak membuka pintu untuk menemui adik nomor dua ayahku. Saat itu aku sangat takut, aku bingung harus berbuat apa. Malu menjadi tontonan tetangga. Tersayat kembali hati ibuku ketika adik nomor dua ayah melontarkan kata “KALIAN KELUAR DARI KELUARGA KAMI! DASAR ORANG KAMPUNG MISKIN!” aku tahu betul apa yang ibu rasakan saat itu. Aku bingung harus berbuat apa, sifat dingin dan gensiku menguasaiku. Aku hanya diam, menangis di dalam hati melihat raut wajah ibuku. Aku yakin hatinya sangat hancur. Kenangan yang sangat buruk namun membuahkan hasil yang unggul. Pengalaman yang aku dapatkan sejak kecil membuat aku sukses seperti sekarang. Bersykur sekarang keluarga Ayah tidak lagi meremehkan aku dan ibu. Sayangnya sikapku masih sama, dingin terhadap keluarga ayah, berbeda dengan ibu. Ibu sangat hangat kepada keluarga ayah.
“ Neng, kita sudah sampai ” teguran Mamang Dul membuatku keluar dari kenangan buruk semasa kecilku. Segera aku membuka pintu mobil dan berlari kecil sedikit terburu-buru menuju ruang penjemputan. Soft drink masih setia kujinjing dengan harapan ketika ibu tiba, ibu bisa langsung menyantap minuman dengan rasa kesukaannya. Sengaja datang lebih awal dari jadwal kedatangan pesawat yang mengantar ibu ke tanah rantau ini, berharap ketika ibu tiba aku langsung bisa memeluk tubuhnya yang lebih besar dari tubuhku. Rindu yang sangat berat. Lima tahun harus menahan rindu yang dipisahkan oleh jarak, waktu, dan uang. Selama aku merantau, pulang kampung itu tidak pernah menyapaku. Harus berpisah dengan ibu demi masa depanku. Menumpuk rindu menjadi pegunungan rindu. Pegunungan rindu akan menjadi daratan hari ini. Akan ku lepaskan rindu ini, membiarkan rindu ini pergi ke orang yang aku nantikan, ibu. 1 jam sebelum ibu tiba aku sudah setia duduk di ruang tunggu penjemputan sambil melihat-lihat postingan di sosial media yang tengah tren jaman ini.
Sosial media itu menguasaiku hingga aku mengabaikan berita kedatangan pesawat yang beroperasi pada hari itu. Jam tangan di pergelangan tangan kanan menunjukkan pukul 2 siang. Sedikit cemas yang kurasa. Berfikir positif karena pesawat ini terkenal akan penundaan penerbangan. Menghilangkan perasaan cemas dengan mendengarkan musik. Perutku sudah memberi alaram pertanda lapar. Berjalan dengan pasti menuju salah satu kedai yang ada di sana, memesan makanan yang tidak terlalu berat dan bisa melepaskan rasa lapar ini. Gado-gado andalan bandara ini yang menjadi pilihanku. Tidak terlalu lama aku menunggu pesananku datang, mungkin hanya 10 menit saja. Gado-gadopun datang, segera namun pelan aku menyantap gado-gado yang katanya tenar di bandara ini. Menyantap gado-gado sambil melihat postingan di sosial media yang tengah tren.
“ Berita Terkini, Pesawat Angkasa dengan nomor penerbangan YR712 kehilangan kontak sejak 20 menit yang lalu. Diharapkan bagi kerabat yang menjemput untuk tidak cemas. Kami akan berusaha menemukan kontak dari pihak penerbangan. Terima kasih”. Suara lembut namun sedikit menyakitkan itu membuat napsu makanku hilang. Nomor penerbangan YR712 adalah nomor penerbangan pesawat yang mengantar ibu. Berlari meninggalkan gado-gado yang baru kusantap satu suapan menuju sumber suara. Memastikan berita tersebut. Lututku lemas akan kebenaran berita itu. Hampir 2 jam menunggu berita pasti dari pihak penerbangan, pikiranku kacau. Ini seperti mimpi. Lima tahun harus berpisah dengan my hero, dan hari ini adalah hari yang paling kunantikan, tapi berita yang tidak benar itu menghancurkan moodku. Sungguh tidak mungkin, tidak masuk akal. Aku akan menunggu ibu di bandara ini sampai ibu datang. Mata bulatku mengeluarkan cairan bening yang sedari tadi berusaha kusembunyikan. Tangisanku menjadi dan sulit untuk ku kendalikan. Mamang Dul menuntunku menuju mobil dan mengantarkan ku kembali ke kost yang tidak jauh dari kampusku.
Hari ini adalah hari bersejarah dalam hidupku. Menaiki podium auditorium universitasku dengan senyum senang terpaksa dan menyipitkan mata bulatku yang berkantong tebal akibat pesta cairan bening dari kedua mata bulatku malam tadi. Tidak lupa baju buluderu merah yang sudah kusiapkan jauh hari untukku pakai pada hari bersejarah ini. Menyandang gelar dr. Rumaisha Annisa dengan nilai terbaik di fakultas dan prodiku. Ucapan selamat bertubi-tubi kuterima, namun bangga yang kurasa sungguh tidak lengkap.
Ayah, Ibu, gelar ini, nilai terbaik ini, bentuk baktiku pada kalian. Jujur hari ini aku sangat hancur. Tanpa senyum kalian aku harus menikmati kebanggan ini sendirian. Berbahagaialah di surga yang kekal itu. Aku akan setia mengunjungi rumah abadi kalian.
Kim Jinhwan and Koo JunHoe
iKON
Secuil Uneg-Uneg
Hai! Khansa mau curhat sedikit, boleh? maksudnya gitu lah ya.
Kalian pernah ga berada di posisi kalo kalian itu ga berguna, terus yah rasanya mau ngilang aja gitu. Terus juga udah capek nyakitin badan. Capek untuk nahan dan sabar. Pengen luapin semuanya. Tapi ga bisa.
Kalian di luar sana, harus semangat yaaa. Jangan suka memendam pendapat atau semacamnya kalau menurut kalian ga setuju. Cari temen curhat yang kalian percaya. Harus berani Speak Up, okeh. Pokok nya semangat buat kalian. Love YOU...
iKON Hanbin Jinhwan Bobby Yunhyeong Donghyuk June Chanu
Cooking 😘🤭
Perkenalan (Intro)
Hai!! Kenalin aku KhansaLatte. Kalian bisa panggil aku Khansa hehe. Oh Ya! Ini Tumblr pertamaku dan aku harap di sini aku bisa publish karya-karyaku, dan tentunya improve kemampuanku. InsyaAllah laman Tumblr ku akan ada cerita-cerita karyaku, hasil gambaranku, kesehatan, atau Korea Pop. Aku Harap kalian semua menikmatinya. Makasih. Mari berteman ^^)/
Hai! I’m KhansaLatte. You can call me Khansa :). This my first Tumblr, I hope i can publish my short story, arts, healthy,or K-Pop. ofc i wanna improve my skill. i hope you guys enjoy my posts. lets be friend ^^)/