Begitu banyak peran yang bersemayam di dalam diri ini, hingga sulit membedakan antara rasa sakit atau rasa lelah.
Peter Solarz
Show & Tell
Sweet Seals For You, Always
he wasn't even looking at me and he found me
d e v o n
One Nice Bug Per Day
taylor price

JBB: An Artblog!
RMH
almost home

oozey mess

★
dirt enthusiast
Xuebing Du

blake kathryn
Lint Roller? I Barely Know Her

JVL
noise dept.
Alisa U Zemlji Chuda
Cosimo Galluzzi

seen from Brazil
seen from Türkiye

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Spain
seen from United States

seen from Spain
seen from Venezuela
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Spain
seen from Croatia

seen from Spain
@kimhyunshan
Begitu banyak peran yang bersemayam di dalam diri ini, hingga sulit membedakan antara rasa sakit atau rasa lelah.
Meskipun (mungkin) kamu kalah dalam banyak hal, mari tetap menjadi manusia yang tidak habis daya juangnya. Ada tawa orang-orang yang mesti diperjuangkan. Mari terus berdoa agar Allah menguatkan, dan memantapkan langkah kaki ini, serta dipertemukan hal-hal baik di depan sana.
Pada akhirnya yang akan tetap berpihak atas raga diri ini yang tidak mau memilih kalah adalah diri sendiri. Bagaimana dalam beratnya kaki ini untuk melangkah, menghadapi segala rintangan yang menghadang, ada ketegaran yang ikut membersamai.
Meskipun lelah itu nyata, jangan biarkan ia menjadi alasan untuk berputar arah. Sebab perjalanan ini, kelak akan mengajarkanmu arti bertanggungjawab atas hidup yang kamu jalani. Walaupun terkadang memang terasa sendiri.
Setiap kali kamu merasa hampir menyerah, ingatlah bahwa kamu sudah melangkah sejauh ini. Bukan kebetulan. Itu bukti bahwa ada kekuatan dalam dirimu yang lebih besar dari rasa takutmu.
Ada hari-hari yang mungkin tidak akan terasa adil. Ada usaha yang tidak langsung berbuah hasil. Ada doa yang terasa menggantung di langit. Namun percayalah, tidak ada yang sia-sia. Setiap tetes keringat, setiap malam yang berat, setiap air mata yang ditelan sendiri—semuanya sedang membentukmu menjadi versi yang lebih kuat.
Maka bertahanlah. Bukan karena mudah, tapi karena kamu layak untuk melihat apa yang menunggumu di ujung perjuangan ini. Semoga segala hal baik yang tengah diupayakan, Allah catatkan sebagai bentuk keridhoan dan iman atas segala kehendak yang telah Dia gariskan.
Aku yang orang lain lihat hanyalah versi yang sempat dan mau aku tunjukkan.
Sisanya, tetap tinggal nyaman di kepala sendiri, bagian yang tetap tersenyum meski lagi lelah, tetap tenang meski pikirannya berisik, dan tetap terlihat kuat padahal sering merasa kalah.
Written by Aftansa
Terlepas tentang apa yang sudah terjadi kini, sederhananya tidak ingin menyalahkan siapapun, sesederhana tanpa bertanya mengapa, menerima apapun dengan sebai-baiknya.
Sabar dan pasrah.
Setelah memutuskan untuk menerima dengan sabar lalu berpasrah, aku sadar bahwa titik kelegaan adalah saat akhirnya kita selesai dengan ikhtiar kita lalu membiarkan Allah menyelesaikan sisanya.
Ramadan Day 29
“O Allah, reform me as You reformed the righteous ones before me.”
Ya Allah, perbaikilah aku sebagaimana Engkau telah memperbaiki orang-orang yang saleh sebelumku.
Baik-baiklah Pada Tubuhmu
Baik-baiklah pada tubuh yang kaupinjam untuk mengendarai kehidupan ini.
Tubuh ini bukan sekadar wadah daging dan darah. Ia adalah teman setia yang membantumu melukis kisahmu di kanvas kehidupan yang luas ini. Melukislah bersamanya dengan hormat. Sentuhlah dunia ini tanpa menyakiti, bergeraklah dengan kehati-hatian yang menyejukkan.
Setiap emosi negatif yang kita “coba simpan” di dalamnya sebenarnya merusaknya perlahan. Mengapa cemari dia dengan dendam, kemarahan, atau iri hati, padahal setiap selnya siap untuk merasakan, menyentuh, dan memberi kehidupan?
Baik-baiklah pada tubuh. Jadikan ia wadah kesadaran, sarana moral, dan rumah bagi kebaikan yang bisa kau sebarkan.
Kadang ada titik di mana tubuh terasa lelah, hati pun ikut rapuh. Tanggung jawab seakan datang tanpa henti, sementara tenaga begitu terbatas.
Namun aku percaya… setiap langkah yang berat ini sedang dihitung oleh Allah. Setiap tetes keringat, setiap lelah yang tak terlihat orang lain, semuanya tidak sia-sia.
Aku hanya perlu bertahan satu hari lagi. Lalu satu hari lagi. Dan begitu seterusnya.
Karena setelah hujan, pasti ada teduh. Setelah lelah, pasti ada tenang. Dan setelah sabar, pasti ada ganjaran yang indah.
Tukar doa from:
“murahkanlah rezeki aku”
kepada:
ya Allah, kurniakanlah rezeki yang mudah, lancar dan halal untuk aku dan keluarga aku.
ya Allah, keluarkanlah aku dan keluarga aku dari sempitnya kemiskinan, gantikan dengan rezeki yang cukup dan menenangkan.
ya Allah, permudahkanlah setiap langkah aku dalam mencari rezeki, dan bukakanlah pintu keluar dari segala kesempitan hidup.
ya Allah, kayakanlah aku dan keluarga aku dengan kekayaan yang berkat, yang membawa tenang dan tidak melalaikan.
Ya Rabb, ingatkan hati perempuan ini agar sebaik-baik tempat berharap hanya kepadamu. Peluklah hati perempuan ini agar selalu menujumu. Walau seringkali lalai dan mengecewakanmu, ia tak ingin Kau tinggalkan. Bantulah ia yang sedang berjuang dalam kesendiriannya ini untuk bisa menuju ridhamu.
Aamiin.
Kadang ada titik di mana tubuh terasa lelah, hati pun ikut rapuh. Tanggung jawab seakan datang tanpa henti, sementara tenaga begitu terbatas.
Namun aku percaya… setiap langkah yang berat ini sedang dihitung oleh Allah. Setiap tetes keringat, setiap lelah yang tak terlihat orang lain, semuanya tidak sia-sia.
Aku hanya perlu bertahan satu hari lagi. Lalu satu hari lagi. Dan begitu seterusnya.
Karena setelah hujan, pasti ada teduh. Setelah lelah, pasti ada tenang. Dan setelah sabar, pasti ada ganjaran yang indah.
Jangan buru-buru dimasukkan ke hati
Ada banyak hal yang terjadi di sekitarmu setiap hari. Ada tatapan yang dingin, ada pesan yang tak kunjung dibalas, ada percakapan yang menggantung tanpa kejelasan. Ada orang yang tiba-tiba menjauh tanpa alasan yang jelas, ada kata-kata yang terdengar kasar, ada senyum yang tak sempat diberikan. Dan tanpa sadar, kau sering kali buru-buru menaruh semua itu di dalam hatimu. Seakan-akan semuanya tentangmu.
Kau mulai berpikir, “Apa aku salah? Apa aku kurang? Apa aku tidak cukup?” Lalu dari satu pertanyaan, lahirlah ratusan prasangka. Dadamu jadi penuh sesak oleh cerita-cerita yang sebenarnya hanya kau tulis sendiri. Kau meyakini bahwa orang lain menolakmu, padahal kadang mereka hanya sibuk dengan hidupnya. Kau merasa diabaikan, padahal sebenarnya mereka sedang berusaha bertahan dari badai yang tak pernah kau lihat.
Kenyataannya, tidak semua sikap orang lain adalah cermin dari nilai dirimu. Banyak sekali hal yang terjadi di luar kendalimu. Ada orang yang memilih diam bukan karena kau tidak berarti, tapi karena mereka sendiri sedang berperang dengan luka yang tak pernah mereka ceritakan. Ada orang yang melempar kata-kata pahit, bukan karena mereka benar-benar membencimu, tapi karena mereka sendiri sedang dipenuhi amarah yang ditujukan pada dirinya. Ada orang yang menjauh, bukan karena kau tidak layak, tapi karena mereka sedang belajar menemukan dirinya sendiri.
Namun kita, manusia yang rapuh ini, terlalu sering menjadikan diri kita pusat segalanya. Kita percaya bahwa semua sikap orang lain adalah refleksi dari siapa kita. Padahal tidak. Hidup mereka tidak berputar mengelilingi kita. Seperti halnya hidupmu pun tidak sepenuhnya bisa dipahami oleh orang lain.
Belajar untuk tidak membawa semua ke hati bukan berarti kau kehilangan perasaan. Itu bukan tanda bahwa kau menjadi dingin atau tak peduli. Justru sebaliknya—itu adalah tanda bahwa kau sedang melindungi dirimu dari luka yang tidak perlu. Kau sedang menjaga hatimu tetap ringan, agar tidak tenggelam oleh beban yang bukan milikmu.
Sebab hidup ini sudah cukup berat dengan segala hal yang memang harus kita pikul. Jangan biarkan hatimu remuk hanya karena prasangka. Jangan biarkan jiwamu dipenuhi cerita yang kau buat sendiri. Tidak semua tatapan harus kau tafsirkan. Tidak semua diam adalah penolakan. Tidak semua kata harus kau simpan di dada.
Kadang, yang paling menenangkan adalah mampu berkata pada dirimu sendiri:
“Ini bukan tentangku.”
Dengan begitu, kau mulai memberi ruang bagi orang lain untuk tetap menjadi dirinya, tanpa kau paksa agar sesuai dengan ceritamu. Kau belajar menerima bahwa manusia berbeda, bahwa setiap orang berjalan dengan luka, cerita, dan pikirannya masing-masing. Kau tidak lagi menaruh beban di bahumu setiap kali seseorang tidak bertindak sesuai harapanmu.
Di titik itu, kau menemukan kebebasan. Kau mulai sadar bahwa yang benar-benar bisa kau kendalikan hanyalah dirimu sendiri: caramu berpikir, caramu merespons, caramu menafsirkan. Kau tidak bisa mengendalikan bagaimana orang lain memandangmu, tapi kau bisa memilih bagaimana kau memandang dirimu sendiri.
Dan mungkin, inilah salah satu kebijaksanaan paling sederhana namun paling sulit dijalani: tidak menaruh segalanya ke hati. Membiarkan sebagian hal lewat begitu saja, seperti angin yang hanya singgah sebentar. Sebab tidak semua yang singgah layak tinggal di dadamu.
Hiduplah lebih ringan. Biarkan orang-orang dengan bebannya masing-masing. Jangan mengikat dirimu dengan prasangka. Jangan menuduh hatimu dengan kesalahan yang bahkan bukan milikmu. Kau tidak perlu membuktikan apapun kepada semua orang. Kau hanya perlu menjaga dirimu agar tidak hancur oleh hal-hal kecil yang sebenarnya bukan tentangmu.
Pada akhirnya, kau akan sadar: menjaga hati tetap lapang bukan berarti kau berhenti peduli. Itu hanya berarti kau memilih untuk tidak membiarkan dunia luar merampas kedamaian dalam dirimu. Dan mungkin, itulah bentuk cinta terbesar yang bisa kau berikan untuk dirimu sendiri.
Our Lord, forgive me and my parents and the believers the Day the account is established
Holy Qur’an, Ibrahim 41
Kadang ada titik di mana tubuh terasa lelah, hati pun ikut rapuh. Tanggung jawab seakan datang tanpa henti, sementara tenaga begitu terbatas.
Namun aku percaya… setiap langkah yang berat ini sedang dihitung oleh Allah. Setiap tetes keringat, setiap lelah yang tak terlihat orang lain, semuanya tidak sia-sia.
Aku hanya perlu bertahan satu hari lagi. Lalu satu hari lagi. Dan begitu seterusnya.
Karena setelah hujan, pasti ada teduh. Setelah lelah, pasti ada tenang. Dan setelah sabar, pasti ada ganjaran yang indah.
Ya Rabb, ingatkan hati perempuan ini agar sebaik-baik tempat berharap hanya kepadamu. Peluklah hati perempuan ini agar selalu menujumu. Walau seringkali lalai dan mengecewakanmu, ia tak ingin Kau tinggalkan. Bantulah ia yang sedang berjuang dalam kesendiriannya ini untuk bisa menuju ridhamu.
Aamiin.
Tentang Doa yang Pernah Meneduhi Duniamu
Di sebuah sudut kafe kecil di Jogja, ketika malam mulai menua dan lampu-lampu temaram menggantung lesu di antara wangi kopi dan rintik gerimis, seorang teman berbicara dengan suara yang nyaris remuk oleh kenangannya sendiri. Tak ada dramatika dalam ucapannya, hanya kejujuran yang terucap sebagaimana adanya—dan justru karena itu terasa menohok.
“Aku bisa bertahan sampai hari ini karena teduhnya doa ibuku. Doa-doanya seperti langit yang menaungi tanpa suara, menjaga tanpa meminta terima kasih. Tanpa itu semua, aku tak pernah punya kekuatan untuk berdiri di tengah hidup yang kadang terlalu bising, kadang terlalu sunyi”.
Ia terdiam sejenak, menatap cangkirnya seakan berharap ada jawaban di dasar ampas.
“Sekarang beliau sudah tiada. Dan aku sungguh menangisi diriku sendiri—yang kini merasa tak lagi memiliki sesuatu yang keramat untuk kujadikan pegangan."
Kata-katanya menggantung di udara. Lama. Tak ada yang berani menyela, seolah kesedihan itu terlalu suci untuk dibantah, terlalu dalam untuk disentuh dengan kalimat yang tergesa. Tak banyak yang bisa kukatakan, karena aku belum pernah berdiri di tempat yang sama dengannya — belum pernah kehilangan seorang ibu. Perlahan ku coba menyentuh perihnya dengan seutas kata yang mudah-mudahan tak melukai:
“Kalau dulu Tuhan meminjamkan seseorang sebagai tameng dan naungan untukmu menjalani hidup, maka saat Tuhan mengambilnya kembali, berati Tuhan pun sudah menjamin, bahwa sekarang kamu telah cukup kuat untuk meneduhkan hidupmu dengan doa-doamu sendiri”
Kita tak pernah benar-benar siap ditinggal oleh seseorang yang menjadi suara sunyi kita di langit. Tapi hidup terus berjalan, dan iman kita pun harus terus belajar dan berkembang.
Dan Tuhan, yang dulu hadir melalui pelukan ibu, kini mengajarimu cara menemui-Nya langsung: dalam sepi, dalam sajadah yang mungkin basah air mata kerinduan, juga dalam langkah-langkah yang tertatih namun selalu jujur.
Langit masih mendengar, dan Tuhan tidak pernah alpa.
—————————
Dan angin malam kota terasa ikut memeluk luka yang tak terucap, seolah paham, bahwa ada duka yang tak minta dihibur—hanya ingin dihormati dalam diam.
- Yogyakarta, Agustus 2025