Jadi saya Pandiangan suhut ni huta keberapa ?
Nama Saya adalah kingdom Pandiangan, Kami adalah Pandiangan Suhut Nihuta, anak kedua dari 2 bersaudara, nama kaka saya Rikardo M pandiangan
Ibu saya bermarga Simanjuntak Sitombuk, dan sampai sekarang dia setia menemani kami anaknya dan sedang memperjuangkan kami, agar cita-cita kami tercapai.
karena ada istilah di budaya batak, “Anakhonki do Hamoraon dia Au” artinya anak adalah harta paling berharga di dunia ini, melainkan bukan harta materi. itulah hebatnya Ibuku.
Juli 2003 yang lalu sewaktu saya masih kelas 3 SD, ayah saya berpulang kerumah Tuhan di Surga, kebetulan ayah saya adalah anak tunggal, jadi saya tidak punya bapatua /bapauda (saudara laki-laki dari ayah), namun saya masih punya seorang kakek yang setia membimbing kami berdua cucunya, kebetulan kakek saya adalah seorang penatua gereja, tidak pernah lelah mengajarkan tentang kasih, seorang penasehat perkumpulan Toga Pandiangan juga dikampung, dan budaya selalu di selipkan ditengah-tengah kami beraktivitas. Kakek selalu mengajak saya dan kakak kalau ada acara adat, pesta, bahkan hal yang paling saya ingat waktu kakek mengajak saya dan kakak pergi untuk menghadiri Pesta ulang-tahun Tugu Toga Padiangan seluruh Indonesia di tanah Urat Samosir. Dan disinilah saya bertemu dengan saudaraku marga Solin, Selian, Sebayang, Samosir, Pakpahan, Sitinjak Harianja dan Gultom , ternyata kami sangat banyak, dan itu membuat saya kagum, kami juga sempat diajarkan sejarah oleh seorang keluarga marga pandiangan, yang asli bertempat tinggal disana.
Kembali lagi kemasa kecilku, :) SD adalah masa dimana kami sangat senang dengan bermain, kadang apa yang disampaikan oleh kakek saya kadang tidak terlalu kami pikirkan, SMP adalah masa dimana kami nakal-nakalnya, hampir setiap hari bermain dan selalu pulang sore , itulah yang membuat betis saya dan kakak saya besar, karena ibu sudah mencetaknya setiap sore, namun sekarang saya berkata Terima Kasih Ibu, kami sayang Ibu, itu semua Ibu lakukan agar kami menjadi seorang manusia yang disiplin :). SMA adalah masa puber dimana kondisi emosi kami tidak stabil, kami mencoba, namun kakak ku disini berubah dia menjadi anak yang baik, mungkin karena dia adalah anak paling sulung hehe dan dia sangat sayang pada ku, dan saya tetap dijalur yang nakal, saya sering cabut sekolah, merokok, ikut-ikutan minum tuak dan bermain dengan teman-teman sepermainan, hampir 3 tahun lamanya saya melakukan hal bodoh ini, tetapi saya tetap bersyukur setidaknya saya bisa belajar dari masa puber, dan buat teman-temanku kalian orang-orang hebat yang dipilih Tuhan buat menemani masa puberku, dan aku tahu kalian juga sekarang banyak yang sudah sukses, semoga suatu saat kita bisa bertemu digerbang kesuksesan untuk mem-flashback kembali kisah puber kita :).
Jelas sekali, waktu kami buat bertemu dengan kakek sangatlah sedikit, itupun paling hanya saat pulang gereja kami memiliki waktu buat ngobrol, namun kakek tidak pernah berhenti untuk memberikan nasehat kepada kami cucu-cucunya.
Setelah lulus SMA saya langsung merantau ke tanah jawa untuk melanjutkan kuliah, seiring bertambahnya umur semakin kepribadian saya terbentuk, dan saya sadar apa yang selama ini kakek katakan adalah bahan-bahan untuk memperkuat pondasi kehidupan kami dengan kakak, agar menjadi manusia yang memiliki kepribadian,utuh, dan berguna bagi sesama, tidak seperti manusia yang lupa diri dan lupa akan arti kesederhanaan.
Saat semester 4, bulan desember saya dan teman-teman sedang mempersembahkan sebuah lagu di acara natal Fakultas, entah mengapa saya memakai dresscode hitam, saya masih ingat lagu yang kami bawahkan “ How Great is Our God dan Feliz Navidad” bisa dilihat disini videonya https://www.youtube.com/watch?v=OL8vdrZdtus .
(Videonya jelek maklum direkam pake HP :) )
Setelah beres tampil, saya mengikuti kebaktian sampai beres, dan setelah di rumah saya melihat panggilan 12 kali dari ibu, dan saya kaget, langsung menelpon ibu, betapa sedihnya saat ibu berkata kakek telah berpulang kerumah Tuhan, dan saya sadar mengapa saya memakai dress code hitam saat tampil di natal.
Dan yang membuat saya menangis tidak karuan adalah, saat tahu kakek meninggal di gereja saat acara natal Toga pandiangan se kecamatan sumbul. Dia adalah salah satu seorang pioner yang mempersatukan semua marga saudaraku Toga Pandiangan se kecamatan sumbul. Dia pun berpulang setelah tugasnya selesai untuk mempersatukan Toga Pandiangan yang ada dikampungku, dan ini adalah natal pertama Toga Pandiangan dikampung.
Besoknya aku langsung pulang dengan pesawat, dan benar,apa yang diperjuangkannya selama ini tidak sia-sia, sejak aku dibawa pesta sejak kecil, baru kali ini aku lihat acara adat setelah di pesta tugu di urat, dihadiri oleh semua marga Toga Pandiangan, itupun saat kematian kakekku , dan menangislah aku dan kakakku saat Parsinabung (pembicara adat) berbicara, “Tu sude Pinompar ni Ompungta Toga pandiangan ro ma hamu , Solin, selian, sebayang, tu sude dongan tubu nami Samosir, Pakpahan, Harianja, Gultom, Sitinjak, asa ro hita, asa hita paborhat bapa ta on tu udean” Amang Pargocci Nami namalo, baen majo lagu silangmi,”
Kini aku menyadari apa yang kakek perjuangkan harus kami lanjutkan dengan kakakku, dan saya sadar bahwa pengetahuan saya tentang adat masih minim, apalagi tentang sejarah margaku sendiri, sekarang saya masih kuliah dan berada ditanah jawa yang budayanya bukan budaya batak toba.
Dan saya yakin bahwa sekarang sudah sangat banyak pemuda-pemuda keturunanan Ompungta Toga Pandiangan yang seumuran dengan ku, mungkin kalau kita bersatu kita bisa melakukan suatu yang berguna, setidaknya kita tahu sejarah yang valid buat kita ceritakan buat anak-anak kita nanti.
Aku harus memulainya, namun aku sadar. sebelum aku memulainya aku harus tahu aku pandiangan nomor keberapa, supaya aku tahu apa yang aku jalani. Namun kepada siapakah aku bertanya ?
Itulah sebabnya aku mebuat sebuah poster Toga pandiangan, supaya sembari mengerjakan poster ini aku tahu, urutan nama-nama buyutku, urutan keberapakah aku sejak kakekku Toga Pandiangan melahirkan anaknya hingga “pandiangan” itu berada dibelakang namaku.
Horas ma dihita sude Pomparan Ni Ompungta Toga Pandiangan !
Sai lam tu sada ma hita, molo pe sampe sadarion dang huboto pandiangan suhut ni huta nomor piga au bapa :).
Semoga tulisan ini berguna
Horas !!!